Penulis: Abdullah SP


Saya pernah baca novel Albert Camus. Judulnya Sampar. Diterjemahkan oleh NH. Dini. Tapi ia juga sekaligus menulis kata pengantar di sana. Barulah aku menemukan uraian tentang Mitos Sisipus yang jadi pijakan absurditas Camus.

Konon Sisipus dikutuk oleh para dewa untuk melakukan hal yang sia-sia. Hmm, betapa “gimana gituh” mengerjakan sesuatu yang sudah pasti menuju pada kesia-siaan. Tapi Sisipus seperti sudah diprogram untuk tak patah semangat. Ia terus mendorong batu ke puncak gunung, meskipun sudah pasti batu itu akan kembali menggelinding ke bawah. Ia lakukan itu berkali-kali seumur hidupnya.

Kita pasti menertawakan Sisipus betapa bodohnya mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Sudah tahu bakal sia-sia masih semangat saja mengerjakannya. Tapi segera kita perlu duduk tenang dan mengoreksi diri, apakah Sisipus memang hanya imajinasi Albert Camus belaka? Jangan-jangan di sekitar kita banyak Sisipus? Atau lebih parah lagi, kita semua adalah Sisipus?

Kita semua adalah rakyat, warga, yang setiap tahun mengikuti penyelenggaraan pemilu. Kita memilih pemimpin dari tingkat desa, kota/kabupaten, propinsi, dan hingga pusat. Banyak sekali orang-orang yang harus kita pilih sebagai pemimpin: ada ranah eksekutif dan legislatif. Pokoknya kita diwajibkan memilih dengan landasan doktrin mentereng: hak politik, hak demokrasi, suara rakyat, suara tuhan, dan suara-suara lainnya.

Tiap periode tertentu, kita masuk ke dalam bilik kecil. Kita datang dengan dibisiki nilai-nilai: pilih sesuka hati, kehendak bebas, pilih yang berkualitas, ini hajatan demokrasi, ini untuk kepentingan kita semua. Jangan sampai golput. Golput itu hanya kerjaan setan. Dan seterusnya bisikan nilai-nilai itu yang datang dari mana-mana. Tapi benarkah suara bisikan itu?

Bisikan itu paradoks dengan kenyataan sehari-hari di tengah-tengah perseteruan politik yang membuat masyarakat terpolarisasi. Menegangkan. Saling adu gagah-gagahan tentang junjungan masing-masing. Tidak ayal, permusuhan-permusuhan di tingkat akar rumput menjadi gambaran empuk bagi para elit demi sekedar kepentingan mendulang suara.

Di mimbar-mimbar kampanye, kita diajak untuk bersikap demokratis, memilih berdasarkan kehendak bebas. Tapi pada kenyataan di lapangan, kita seringkali saling dibenturkan antar sesama masyarakat di tingkat akar rumput. Kadang kita dimobilisasi bukan berdasarkan keyakinan, tapi berdasarkan medium-medium lain yang kita sebut politik uang.

Kita menyaksikan itu, dan tahu betul bahwa – melalui pengalaman demi pengalaman – pada akhirnya yang banyak diuntungkan oleh kontestasi politik adalah orang-perorang atau kelompok yang dekat (dekat sekali) dengan kandidat atau lingkaran kandidatnya. Proyek-proyek politik didesain dengan skala atau jaringan yang tak luas, tapi segelintir saja. Proyek politik didesain untuk kalangan sendiri bukan rakyat secara luas.

Kita menyaksikan kesuraman itu. Menyaksikan berkali-kali. Dijanjiin berkali-kali, tapi ditipu berkali-kali. Tapi pada tiap periode atau momentum pemilu, kita seakan suka lupa apa yang sudah berlalu. Ingatan kita nampak pendek sekali. Apa yang kita marahi pada pemilu sebelumnya, lalu bisa kita maafkan di pemilu berikutnya.

Kita mengulangi untuk datang ke tempat kampanye lagi, mendengar retorika yang sama, senyum yang sama, pola yang sama, dan hal-hal yang tak meyakinkan yang sama. Padahal luka dan kekecewaan kita masih belum kering, belum lama. Padahal janji-janji belum terlaksana selain yang didesain bagian dari kampanye untuk berikutnya.

Kita juga datang pada tempat pemungutan suara yang mirip sebagaimana pemilu sebelumnya. Kita menghadapi gambar-gambar kandidat pemimpin yang sama, senyum yang sama. Tapi kita lagi-lagi tetap memilihnya. Menusuk bagian hidung atau mata mereka yang pada akhirnya membuat mereka memiliki suara kita. Padahal kita menghadapi keasingan yang sama: hanya pernah melihat orang-orang ini waktu kampanye, waktu di televisi, atau waktu menggunakan baju orange.

Tapi kita tetap memilihnya. Seakan apa yang terjadi di masa pemilu sebelumnya, yang membuat kita luka, hanyalah bagian kenang-kenangan yang perlu kita buang dan kita segera move on untuk lagi-lagi memasuki permainan yang sama: pemilu hari ini.

Kita – rakyat yang setia memilih pemimpin – nampak punya kesabaran sekuat Sisipus. Sebagaimana Sisipus mendorong batu ke puncak yang sudah pasti sia-sia sebab batu itu meluncur jatuh ke bawah lagi. Dan kita terus-menerus menaruh harap, memilih pemimpin, melalui instrumen pemilu tiap periode, yang sudah tentu selalu mengarah pada akhir yang tak menyenangkan: mereka yang terpilih tak benar-benar berpihak pada kita – rakyat yang setia memilih.

Kita adalah rakyat dan sekaligus Sisipus di dunia politik. Albert Camus mungkin menangis mendengar kisah pilu kita: Sisipus-Sisipus politik.
0Comments

Previous Post Next Post

ads