(Sebuah Catatan atas Buku “Money: Riwayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan”) 

Penulis: Fauzan Nur Ilahi 

Kita akan menjadi kaum rebahan pada waktunya.

Begitu kira-kira jika saya dipaksa merajut satu kalimat dari isi buku yang hendak saya bahas di tulisan ini. Yap! Tentu kalimat di awal tulisan bukan muncul dari otak saya yang daif. Saya tak punya kredibilitas untuk ujug-ujug ngomong demikian. Melainkan Harari-lah yang dengan nada optimis bilang bahwa kita; homo sapiens; umat manusia, sangat berpotensi menjadi massa nirguna a.k.a masyarakat rebahan, “pada suatu nanti”.

Yuval Noah Harari, penulis cum sejarawan asal Israel yang saat ini menjabat sebagai manusia profesor di Departemen Sejarah Universitas Ibrani Yerussalem-lah yang dalam sebuah bukunya, Money: Riwayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan, “meramal” bahwa mengacu pada pesatnya progresifitas sains, manusia pada masanya akan menjadi sekelompok “daging dan darah” (baca: manusia) yang memiliki satu pekerjaan utama: rebahan.

Harari tak menentukan tanggal . Dia tak pandai dalam hal ini. Maklum. Harari bukan ahli shio. Dia hanya menyebut, apa yang dimaksud dengan “pada suatu nanti” adalah masa di nama manusia yang disebutnya sebagai “algoritma organik” ini, telah hilang fungsi ekonomi dan militernya – sebagaimana istilah yang dia pakai dalam bukunya.

Bahkan lebih jauh daripada itu, dalam konteks profesi yang berkelindan dengan seni atau kedokteran, manusia sudah mulai ketinggalan kemampuan dibandingkan dengan buatan mereka sendiri. Yakni, “algoritma non-organik”: artificial intelegence, cyborg, robot, atau apa lah itu istilah lainnya.

Fenomena semisal ini bisa kita lihat dalam dunia hari ini (mobil dengan “supir” robot otomatis; mesin-mesin otomatis yang menyingkirkan tugas manusia pada banyak perusahaan; sampai pada algoritma bernama Deep Blue yang mampu mengalahkan pecatur dunia).

Di zaman “pada suatu nanti” itu, dengan merujuk pada premis-premis Harari, kita sangat mungkin akan menemukan stratifikasi atau kelas-kelas sosial yang tidak berbasis pada profesi atau ekonomi. Melainkan pada fungsi atau bahkan pada basis biologis itu sendiri. Misalnya, kita (atau mungkin anak-cucu kita?) akan menjumpai banyak sekali “manusia yang sudah diperbaharui” melalui kombinasi dengan teknologi paling mutakhir.

Harari menyebutnya “super-human”. Sementara manusia-manusia lain, yang secara kemampuan tak banyak berbeda dengan kita, ya akan tetap seperti manusia sebagaimana kita temui saat ini: tidur-makan-kerja-berak-bercinta-dan sejenisnya.

Jenis manusia yang disebut terakhir inilah yang oleh Harari disebut sebagai calon massa nirguna atau kaum rebahan.

Wacana manusia super semacam ini sejatinya bukan hal yang anyar. Selain film Super-Man dengan sempaknya yang memorable itu, saya juga jadi teringat Nietszche dengan konsep Ubermensch­-nya. Saya bukan ahli perihal konsep ini. Namun, saat membaca tulisan Harari (tentu saja dalam versi terjemahan), entah mengapa pikiran saya tertuju pada masa di mana dulu, saat masih rajin ke kampus, nongkrong dengan beberapa kawan di basement kampus guna membahas buku-buku atau tokoh yang biasanya erat dengan filsafat.

Pada saat itulah saya untuk pertama kalinya, sejak menginjak suatu planet bernama Bumi, mendengar nama Nietszche serta konsep Ubermensch­-nya.

Sependek ingatan saya, banyak yang memaknai konsep ini sebagai representasi dari Manusia Paripurna atau Adi Manusia, yang mana, manusia ketika mencapai posisi ini sudah terlepas dari mentalitas budak, dogma atau norma sosial yang mengekang. Atau singkatnya, dia sudah mencapai titik tertinggi dari setiap pencapaian manusia.

Pembaca yang budiman juga bisa merujuk pada konsep al-insan al-kamil dalam khazanah sufisme untuk sekedar bahan keren-kerenan seperti yang saya lakukan saat ini.

Namun saya tidak hendak membahas perihal seluk beluk konsep Ubermensch. Saya justru lebih tertarik pada respon para pembaca terhadap Nietszche yang juga diterima oleh Yuval N. Harari. Bahkan oleh kalangan pembaca yang juga menyandang “ahli”. Keduanya, sama-sama dicap “ahli nujum”. Tukang ramal. Walaupun dengan perangkat yang mungkin berbeda: Nietszche dengan nihilismenya, Harari dengan sains dan teknologinya.

Penulis buku Sapiens ini, nampaknya memang orang yang optimistik terhadap sains. Mungkin dia akan berada pada pihak AS Laksana, Taufiqurrahman, Hamid Basyaib, de-el-el jika kemarin ikut berdebat perihal sains, filsafat, agama, dan wabah dengan GM, Fitzerald Kennedy Sitorus, Ulil Abshar Abdalla, de-el-el di kubu yang lain.

Tetapi respon dengan cap “ahli nujum” tidak serta merta membuat apa yang dikatakan Harari menjadi mengkerut. Kita nampaknya perlu juga melihat bagaimana pendapat-pendapat Harari ini. Mungkin dengan sedikit menimang-nimang, bisa juga dengan refleksi serius.

Karena walaupun “ramalan” Harari sejatinya hanya merupakan probabilitas, seperti yang diakuinya. Serta kelokan dalam sejarah, pun seperti yang diakuinya dalam buku yang lain, selalu memberikan efek kejut yang tak kalah pentingnya. Tetapi “ramalan” Harari ini juga pantas direnungkan. Kalaupun “ramalan” ini tak terjadi, setidaknya untuk saat ini “ramalan” Harari bisa menjadi pledoi ilmiah kaum rebahan sedunia.

Mereka bisa menangkis tuduhan yang menunjuk umat rebahan tak progresif, produktif, atau pro-pro lainnya dengan berkata, “Lho.. justru rebahan adalah profesi paling visioner dan kompatibel di masa yang akan datang. Ini Harari yang bilang, lho. Bukan Ustad Maaher At-Thuwailibi”. (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

ads