Penulis: Ben Yowes

 


Kau boleh remehkan lelaki jomblo ini. Dia memang terlihat tak punya masa depan. Selain hanya menghabiskan hidupnya di warung kopi, menghabiskan bergelas-gelas kopi, ia juga menghabiskan hidupnya dengan menantang pecatur-pecatur hebat di warung itu.

Di hadapan permainan catur, tak ada yang paling sombong darinya.

“Apa gunanya kau mikir? Semua langkahmu hanya akan keok”.

Hari itu, lelaki itu memenangkan percaturan. Tentu saja tak sepadan dengan kesombongannya. Dia harus memenangkan percaturan dalam waktu yang begitu lama, dan dia dibuat babak belur sebelum akhirnya menemukan titik balik untuk menggempur lawannya dengan kuda kesayangannya.

“Kau hanya boleh bangga karena aku membiarkanmu hampir menang”, ucapnya lagi sembari menyeruput kopi dan menunggu pecatur-pecatur tangguh lainnya. 

Orang-orang di sekitarnya tak perlu mendebatnya. Tak ada yang bisa mengalahkan kesombongannya. Ketimbang mendebatnya, alangkah lebih baik menikmati kesombongannya yang jenaka dan nampak sebagai lelucon seorang lelaki yang sesungguhnya sedang berjuang mengusir kesepian yang menyergap dirinya.

“Ayo siapa lagi yang mau bertanding? Tapi kali ini, sudah tentu pertandingan tak kan lama. Aku cape meladeni otak yang lemot, manuver yang tidak taktis, serangan yang tidak menggigit. Ayolah. Aku tak ingin cepat-cepat menyebut diri sebagai pecatur yang tak ada tandingan”.

Seseorang datang kepadanya. Ini pecatur berikutnya, pikirnya. Dia mengambil tempat di depannya. Catur digelar.

 

I

Pertandingan belum juga dimulai. Lawan barunya ini tak ingin memulai. Justru ia mengalihkan pada topik yang lain.

“Aku pecatur hebat. Tapi kau boleh mengalahkanku”, ucap lelaki penantang baru itu.

“Semua pecatur yang kukalahkan selalu menggunakan kalimat itu”.

“Tapi aku sungguh hebat. Aku datang ke sini hanya ingin bertanding untuk kalah demi satu permintaan”.

“Apa itu?”

 

II

Lelaki pecatur ini sesungguhnya seorang penulis puisi. Ya hanya puisi. Mungkin dia bisa menulis yang lain-lain. Tapi dia selalu mengejek: selain puisi, semuanya dangkal.

Hanya sedikit orang yang tahu bahwa dirinya seorang penulis puisi. Di kedai kopi ini, ia datang dengan mendeklarasikan sebagai pecatur hebat, bukan penulis puisi. Sebetulnya, rekor pertandingannya tidak bagus. Dalam sepuluh pertandingan tiap hari, dia hanya menang sekali. Sisanya kalah. Tapi bukan dia namanya jika tak menemukan alasan jenaka di balik kekalahan-kekalahannya.

“Bila aku kalah, kalian hanya sedang menemukan keberuntungan pada diriku yang terlalu tak tega untuk menghancurkan lawan”, atau “oh, kamu menang. Ada seribu malaikat yang membocorkan pikiran jeniusku. Mereka tak adil, tapi baiklah”, atau berbagai retorika yang sebenarnya tak masuk akal, atau masuk akal tapi tak cukup kuat.

Tapi orang-orang tak mau berdebat dengannya. Menikmati berbagai pembelaannya sudah cukup memberikan kesenangan tersendiri. Jenaka.

 

III

“Aku tahu kau bukan pemain catur hebat. Aku sudah mengamati seluruh permainanmu, taktikmu, dan terutama semua omong kosongmu. Aku juga tak perlu membuktikan seluruh kekalahanmu yang kau sembunyikan di balik kebohonganmu…”

Lelaki pecatur yang kini identitasnya terbongkar ini tak marah. Dia hanya terlihat murung. Ada air kesedihan yang mengalir di wajahnya. Kini dia lebih banyak diam seperti lelaki tua yang bijaksana.

“Lebih baik aku menjadi pecatur yang pesakitan”, akhirnya dia berkata lirih. 

“Aku sudah menulis ribuan puisi…”, dan ia menyodorkan puisi-puisi itu kepada lawan caturnya.

 

IV

Sekarang kita sebut saja dia sebagai lelaki puisi setelah semua identitas palsunya dibongkar. Lelaki ini sudah lama menulis puisi. Bila dilihat dari puisi-puisinya, ia telah beranjak dari puisi yang roman picisan hingga ke puisi-puisi yang lebih dalam. Kata-katanya menerobos rimba perasaan, menerbitkan air mata. Siapa pun yang membaca puisi-puisi tiga tahun terakhirnya, maka ia seakan-akan melihat dunia seorang lelaki kesepian yang tak punya harapan untuk kebahagiaan.

“Aku ingin berhenti menulis puisi. Ini adalah puisi-puisi terakhir yang akan aku persembahkan pada keputusasaan…”.

Ia menceritakan semua kesedihannya. Tapi wajahnya kini kembali ke semula: seakan tak ada apa-apa. Lawan caturnya jadi bingung. Bagaimana ia bercerita kesedihan yang mendalam, dan siapa pun yang mendengar bisa tertunduk sedih, tapi ia sendiri (si pencerita) seakan tak menunjukkan raut wajah kesedihan.

“Aneh? Tidak”, ucapnya seakan mampu menerka teka-teki pertanyaan yang menyeliputi lawan caturnya.

“Kesedihan itu ada di hati, bukan di wajah. Aku bisa merasakan beribu-ribu kesedihan. Hatilah yang merasakan kehancurannya. Wajah, hahahaha, lihat aku bisa tertawa”.

Lelaki lawan caturnya akhirnya berkesimpulan: ini kesedihan yang mencapai kiamat.

“Tapi aku hanya ingin meminta bantuanmu”.

“Silahkan…”.

 

V

Seorang perempuan datang kepadanya. Gayatri. Itu namanya, bila pembaca ingin tahu. Bila tidak, juga tak apa.

Dia datang dengan senyum yang lumrah sebagai penghormatan biasa. Tapi lelaki puisi ini punya cara pandang yang lain. Senyum itu, oh sungguh, sungguh khas, demikian hatinya berbicara. Senyum itu seperti datang dari seorang bidadari. Dan imajinasinya segera menyulap warung kopi yang ramai dan penuh kotoran ini sebagai surga yang bersih dan dipenuhi berbagai minuman dan makanan yang enak-enak.

“Tuan, tuan, tuan, tuan…”, tegur Gayatri.

“Oh, oh iya, maaf…, tadi aku terlena… oh bukan, ah lupakan..”.

Lelaki puisi itu salah tingkah. Tapi segera semua berlalu saat ia mulai meneliti puisi dari perempuan itu. Ia meneliti dengan baik puisi-puisi Gayatri. Dia berulang-ulang melihatnya. Diulanginya lagi hingga sekian kali. Dalam hati kecilnya, lelaki puisi ini mengeluh: mengapa puisinya sedangkal ini.

Lelaki puisi sudah begitu lama hidup dengan puisi. Maka ia begitu sensitif dengan penghayatan si penulis, pilihan kata-katanya dan kedalaman maknanya. Dalam sekelebat saja, matanya yang jeli pada struktur kata-kata, isi, dan sebagainya segera dapat menangkap apakah puisi perempuan itu dangkal atau tidak.

Gayatri, puisimu begitu dangkal. Kau miskin penghayatan. Pilihan kata-katamu juga menunjukkan kau begitu lemah. Sebenarnya kau sedang menulis apa? Itulah yang ia pikirkan. Itulah sebarisan kata-kata yang ingin dia utarakan kepada perempuan di hadapannya itu.

“Bagaimana puisiku menurutmu, tuan?”

“Eeeeee….bagus”. Dan Gayatri tersenyum, dan pergi sesopan ia datang.

 

VI 

Malam itu, lelaki puisi dibuat bimbang. Pertama, ia telah berbohong. Ia dikutuk oleh dirinya sendiri: aku seorang bangsat. Kedua, ia sedikit terhibur oleh pikiran bahwa Gayatri pulang dengan senang. Dia yakin sekali, andai ia mengatakan penilaian yang jujur, perempuan itu akan marah.

Ia semakin terhibur. Sebab ia berhasil menggabungkan hal kedua dengan hipotesis asal-asalannya. Gayatri pasti senang dengan penilaiannya. Dan itu membuka jalan bagi pintu-pintu yang lain: nanti lelaki itu akan lebih mudah mengetuk hatinya. Jadi, kebohongan yang bernilai pragmatis. Ini ironis, pikir lelaki itu, tapi menyenangkan.

Gayatri semakin sering menulis puisi. Ia semakin sering mendatangi lelaki puisi itu. Dan lelaki itu makin tak ada henti-hentinya memberikan pujian. Ia sudah tak peduli lagi dengan standar penilaiannya sendiri. Ia tak melihat kedangkalan puisi-puisi perempuan itu. Tapi ia lebih suka menutup mata.

 

VII 

Tapi itu tak butuh lama. Ia menyadari ada protes dalam dirinya. Ia seakan dikoreksi untuk kembali menjadi lelaki puisi yang punya standar penilaiannya sendiri. Saat ia duduk di depan cermin, ia terdiam menatap wajahnya sendiri.

“Kau tak jujur, bung”, ia kaget. Sesosok dirinya yang ada di cermin berbicara sendiri lepas dari kendalinya.

“Kau harus setia pada kepekaan dan kepercayaan dirimu. Kau diminta untuk menilai puisi, bukan memuji penulisnya”.

 

VIII

Gayatri datang lagi. Hari itu, lelaki puisi itu berjanji untuk mengatakan kejujurannya. Dia akan kembali memberikan penilaian yang sesuai dengan standarnya. Dia sudah menimbang-nimbang dengan baik. Dia akan mengoreksi dengan menghindari kalimat-kalimat yang meremehkan atau mencela. Dia menyadari bahwa mengoreksi itu berbeda dengan mencaci atau memaki. Maka ia segera menyadari betapa yang lalu-lalu cara dia mengoreksi adalah kesalahan besar. Sebab ia suka mencampurkan antara mengoreksi dan mencaci.

“Demi Gayatri, aku akan berubah”.

Maka menghadapi kertas puisi Gayatri, lelaki puisi itu berkali-kali melontarkan maaf seperti mengucapkan mantra. Diulangi lagi. Diulangi lagi. Dipikirnya, ia suatu kesopanan. Tapi di mata Gayatri, lelaki puisi ini nampak berubah. Aneh. Dan caranya meminta maaf, nampak seperti drama.

“Kamu lebih baik begini…Gayatri, hmmm kata ini nampaknya kurang manis, coba pilih yang lain. Oh, kamu mungkin pada bagian ini kurang dalam, coba kuatkan lagi penghayatanmu….”.

Lelaki itu kembali menjadi lelaki puisi yang sempurna. Dan ia kaget sendiri. Kertas puisi Gayatri dipenuhi coretan tinta merah. Hampir seluruh tubuh puisi itu. Gayatri kaget dengan perubahan itu. Padahal ia sendiri merasa bahwa puisi-puisi ini tak jauh beda dengan beberapa puisi yang lain yang sebelumnya dipenuhi dengan pujian.

Perempuan itu sedikit kecewa, tapi ia tak marah, ia hanya bertanya sambil memandang tubuh puisinya yang dipenuhi coretan.

“Apa aku tak salah lihat, tuan?”

“Tidak, Gayatri. Maaf, maaf, Gayatri. Kamu tak salah lihat”.

Gayatri tersenyum. Dan ia hendak berpamitan untuk pulang sesopan ia datang.

“Tapi…sebentar Gayatri. Maaf, maafkan. Inilah aku yang sebenarnya. Aku harus jujur. Pada puisimu, aku hanya menemukan banyak hal yang …maaf lagi, agak lemah. Tapi kamu pasti bisa lebih maju”, lelaki itu berhenti dan sejenak menatap mata Gayatri. “Kamu tidak marah?”

Gayatri tersenyum. Ia lalu pergi sesopan ia datang.

 

IX 

Kini lelaki puisi itu yakin bahwa dengan kejujurannya dan tak berubahnya sikap Gayatri padanya adalah momen yang tepat untuk mengetuk hatinya dengan puisi yang lain. Ia telah menyiapkan sekian puisi sejak perjumpaannya dengan Gayatri. Dan puisi-puisi cinta yang diam-diam kini dikirimkan kepada Gayatri.

Berhari-hari tak ada jawaban. Berbulan-bulan, ia masih terus bertahan dengan keyakinan jawaban yang indah akan datang. Lalu pada dini hari, seorang tukang pos datang kepadanya. Lelaki puisi itu sedang duduk tertidur di kedai dengan memimpikan Gayatri datang kepadanya.

“Pak…”

“Iya Gayatri sayang…”

“Saya tukang pos, pak”.

Ia kaget dari tidurnya. Matanya terbelalak. Dan ia segera meneliti tukang pos itu untuk memastikan Gayatri tak sedang menyamar. “Memang bukan Gayatri. Huh. Maumu apa?”

Tukang pos itu memberikan surat. Dan pergi. Di bungkusnya, tertulis: untuk Lelaki yang Baik, lelaki Puisi.

Lelaki itu tersenyum. Kalimat yang indah. Dan ia buru-buru merobek bungkusnya demi melihat isinya.

Lelaki Puisi.

Aku hanya mengagumi penilaianmu, bukan dirimu. Aku hanya mengagumi puisi-puisimu, bukan penulisnya. Tidak ada bedanya bagiku apakah kau berbohong atau jujur memberikan penilaian pada puisi-puisiku.

Teruslah menjadi lelaki puisi. Yang mengagumkan.

Gayatri.

 

X

“Bung, bagaimana dengan puisi-puisi saya?”, tanya lawan caturnya.

“Entahlah. Coba lihat puisimu di tempat sampah. Kalau aku tak keliru, tadi aku meletakkannya di sana”.

Lelaki puisi itu lantas pergi. Meninggalkan pion-pion catur yang bergelimpangan.

 

0Comments

Previous Post Next Post

ads