Penulis: A.T.H.Z 



Aku menulis ini sebagai sebuah kesaksian singkat yang bisa kuingat dan kukenangkan. Ini tentang sosok anak lelaki yang hidup sebatang kara.

Sejak kecil, kurang lebih umur dua tahun, ia sudah ditinggalkan ayah dan ibunya. Hidup yang menuntut mereka untuk merantau sebagai TKI ke Negeri Jiran Malaysia. Sejak itu, ia dibesarkan oleh tangan tua neneknya. Dari perempuan itu, ia belajar banyak tentang hidup dan kehidupan. Perempuan tua itulah yang dengan sabar menggantikan peran kedua orang tuanya sebagai “sekolah” pertama untuknya.

Hari berganti, bertambah usia. Mulailah timbul beberapa pertanyaan dalam hidupnya. Pertanyaan yang wajar sebagai seorang anak yang merindukan kedua orang tuanya layaknya anak-anak lain. Tetapi dia terlihat sering memendam pertanyaan itu dalam kalbunya. Ia tak ingin pertanyaannya jadi beban untuk orang lain.

Yang kuingat darinya: ia sering menampakkan wajah bahagia. Dia anak yang ceria, begitulah kesanku tentangnya. Nampak ia tak punya beban dalam hidup.

Di rumah yang sederhana, ia tinggal bersama nenek dan kakaknya. Mereka berdua – kakak dan nenek – juga melihat anak lelaki itu sebagai anak yang ceria. Sebab ia tidak pernah menceritakan tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam dirinya.

17 tahun lebih dia bersama kakak dan neneknya. Tapi perlahan-lahan, kebersamaan itu harus dipisahkan satu demi satu: kakaknya pergi ke kota untuk melanjutkanya kuliah. Ia sendiri ingin sekali menjadi pemain sepak bola profesional.

Tahun 2012, keinginannya tecapai. Ia berangkat ke kota tempat kakaknya kuliah. Di kota, di dekat tempat kakaknya tinggal, ada sekolah sepak bola (SSB) yang cukup bagus. Tapi biaya SSB itu terlalu mahal untuk ukuran kemampuan finansialnya. Maka ia harus menahan diri. Lalu dipilihlah SSB lain yang lebih terjangkau biayanya.

*

Tapi tak berapa lama, neneknya yang sendiri di kampung, yang begitu dekat dengannya, yang menggantikan peran ibu baginya, seiring waktu sering sakit-sakitan. Ia dan kakaknya berembug. Keputusannya: ia yang pulang kampung demi merawat neneknya. Sebab sang kakak tak bisa meninggalkan kuliah yang sudah dijalaninya.

Tak lama sejak ia pulang ke kampung, di kota tempat kakaknya tinggal, ada seleksi untuk masuk tim B klub di kota itu. Kabar itu begitu meskipun dadakan, tapi sebenarnya cukup membahagiakan. Sebab itu adalah peluang baginya untuk memenuhi cita-citanya untuk menjadi pemain sepak bola.

Tapi segera keinginan itu pupus. Ia harus merelakan keinginannya itu. Ia memilih merawat neneknya. Ia juga tak ingin meminta kakaknya yang pulang. Ia ingin kakaknya tetap melanjutkan kuliah yang sudah tinggal separuh waktu lagi.

*

Atas persetujuan neneknya, andai ia mau kuliah, maka ia tetap boleh kuliah. Ia pertimbangkan pilihan itu. Akhirnya, ia putuskan untuk memilih kuliah di kota yang tak jauh dari kampung halamannya. Tapi itu juga tak lama. Kurang lebih lima tahun. Ada banyak kendala yang membuatnya berhenti. Pertama, faktor jurusan yang dia – entah kenapa – akhirnya tak menyukainya. Kedua, neneknya sakit-sakitan lagi. Ia berkesimpulan: neneknya tak boleh sendirian. Maka, berhentilah perjalanan ia sebagai seorang mahasiswa yang hanya berumur lima semester. Selamat tinggal, kampus!

Setelah dua kegagalan itu, nampak ia tak punya cita-cita yang menggebu-gebu lagi. Dia hanya ingin tinggal di dekat neneknya saja. Ia menjadi anak lelaki yang sehari-harinya bersama neneknya. Sejak itu, umur neneknya memang semakin tua, dan semakin sering sakit-sakitan. Selama itu, ia begitu tekun merawatnya. Ia melewati hari-hari dengan menjaga neneknya, memastikan neneknya selalu baik-baik saja.

Perempuan yang dulu begitu kuat menggendongnya kini lebih sering terbaring di kamar. Perempuan itu sudah semakin tak kuat lagi untuk melakukan apa-apa. Seakan ia sudah menyerahkan segala apapun yang akan dilakukan kehidupan untuknya. Andai saja, kekuatan masih diberikan kepadanya, mungkin ia masih akan terus bekerja: apapun ia kerjakan. Ia jualan makanan. Ada soto, rujak, kerupuk, dan hal-hal lainnya. Kerja keras dari dagang itu lumayan cukup untuk kehidupan sehari-hari. Ia dan kakaknya sering juga membantu sang nenek jualan. Ia dan kakaknya merupakan duet terbaik untuk menggotong segala apapun yang berkaitan dengan dagangan neneknya.

Tapi semua cerita tentang daya produktif sang nenek untuk dagang seiring waktu mulai berkurang. Usia dan penyakit yang terus merongrongnya membuatnya lebih banyak terbaring di kamar. Saat itu, ia dan kakaknya yang banyak mengisi tugas-tugas di rumah.

*

Ada masa yang membuatnya sangat terpukul. Suatu hari, setelah sekian hari bertahan melawan penyakit yang diderita, kehidupan akhirnya mengambil sang nenek. Mengembalikannya kepada ketiadaan.

Saat hari kematian neneknya itu, ia seorang diri. Ketegarannya diuji. Saat itu, ayah dan ibunya jauh di tanah rantau. Sementara sang kakak masih di kota. Kakaknya datang setelah beberapa jam. Sementara ibunya datang di hari ketiga sang nenek meninggal.

Sejak kepergian neneknya itu, maka rumah itu menjadi sepi. Kini ia benar-benar hidup sendiri. Tak ada lagi seorang perempuan tua yang begitu dekat dengannya. Kakak dan ibunya kembali lagi meninggalkan kampung halamannya. Sang kakak kembali ke kota, sang ibu ke tanah rantau, negeri jiran.

Maka kukatakan saja: rumah itu kini hanya dihuni oleh seorang anak lelaki yang tak memilih pergi. Ia memilih menikmati rumah yang sunyi nan sederhana itu.

Ia bisa saja pergi meninggalkan rumah yang kian penuh kesunyian ini. Tapi mungkin ia tak ingin kemana-mana lagi. Di rumah ini, ada nenek yang mungkin meskipun telah tiada, tapi kenangannya tetap tak kan hilang selamanya. Ia kini adalah seorang anak lelaki yang terikat pada rumah dan kenangannya. Ia terus bertahan melewati berbagai musim (hujan, kemarau, hujan lagi, kemarau lagi, dst).

Rumah itu begitu sederhana. Di beberapa titik mulai bocor. Kadang lampu tak bisa nyala lagi. Maka sesekali ia mengabarkan keadaan itu kepada kakak atau ibunya. Itu hanya salah satu cara dia untuk mengusir kesepian. Tapi setelah itu, kesepian menyergapnya lagi.

*

Bertahun-tahun kemudian, akhirnya ada perempuan yang memikat hatinya dan mengisi kekosongan hidupnya. Perempuan itu seorang mahasiswi jurusan kebidanan yang tidak lain dulu teman ngajinya. Kisah cinta mereka terus berjalan hingga kini: melewati berbagai lika-likunya sendiri.

Tapi di depan, kehidupan membentangkan banyak lagi tantangannya. Dari segi status sosial, mereka beriringan dalam ketimpangan. Ia hanya anak seorang petani. Tak ada status sosial yang prestius dan patut dibanggakan. Sementara, kekasihnya berasal dari latar belakang orang yang secara status sosial ekonomi lebih mapan, dari keluarga yang status sosial pendidikannya lebih baik. Kerabat-kerabatnya ada yang bidan, guru, dan status mentereng lainnya.

Tapi bentangan rintangan itu dijalani yang baik. Kita tak tahu gelombang rintangan apa lagi yang menunggu di depan sana. Kita doakan saja: lelaki penghuni rumah sunyi ini dapat seterusnya beriringan dengan seorang kekasih yang bisa mengisi kekosongan hidupnya.

0Comments

Previous Post Next Post

ads