Penulis: Ben Yowes

Beberapa hari lalu tertangkap seorang koruptor. Itu tak lama dari penangkapan koruptor sebelumnya. Tapi kita seakan tak heran. Tesis Lord Acton yang sudah karatan dimakan usia itu seakan masih terus handal untuk dipercaya: power tends to corrupt, and absolute power corrupted absolutely. Kekuasaan itu cenderung disalahgunakan. Kekuasaan yang mutlak sudah pasti disalahgunakan.

Tapi bukan itu yang ingin saya tulis (meskipun saya sudah menulisnya di atas, maaf), melainkan ini: hari lalu, sesaat si koruptor tertangkap, jejak digital di media sosial bertaburan. Isinya: lucu, kocak, konyol, bikin gemes, ngakak, pengen ngamuk, de-el-el. Isinya sebuah tata cara yang paling efektif nan humanis untuk mencegah korupsi.

Si penutur sangat tenang dalam menyampaikan kiat-kiat efektif mencegah korupsi. Penuh kata-kata indah nan menyejukkan. Cara ini sangat humanis, begitu kata si penutur. Tak ada sistem apapun yang bisa mencegah korupsi. Tapi pendekatan humanis ini, jauh lebih efektif. Begitu orang mau korupsi, lagi-lagi kata si penutur, lalu ingatkan dia, ketuk hatinya: ingat di rumah kamu ada anak, keluarga, dan bla-bla. Pokoknya adem. Andai tidak …….

Mengetawa(i) Korupsi

Saya menemukan video penuturan cara mencegah korupsi yang humanis dan efektif itu dari postingan instagram Agus Noor. Ia sendiri memberikan tagar #LeluconParaKoruptor, yang saya pinjem jadi judul tulisan ini. Agus Noor adalah seorang penulis cerpen tentang korupsi yang menurutku – meminjam kata Milan Kundera – menimbulkan gelak tawa. Jenaka.

Dilihat dari judul-judulnya, “Koruptor Kita Tercinta”, “Lelucon Para Koruptor”, seakan si penulis ingin tobat dan “move on” dari kesedihan yang dibuat oleh para koruptor tercinta. Ia tak ingin memendam kekecewaan, maka dibuatlah segala peristiwa sebagai kejenakaan. Mungkin dia pikir: pejabat yang korupsi, kok saya yang menanggung sedihnya?

Kita baca salah satu kalimat satirnya yang bukan hanya penuh sindir, tapi bikin kita terpesona untuk tertawa. Katanya: Para koruptor itu sama sekali tak memahami kalau sesungguhnya korupsi itu sebuah seni. Perlu imajinasi seperti seorang seniman menghasilkan karya yang memesona. Korupsi itu seni tingkat tinggi.

Ini bukan hanya tentang si penulis Lelucon Para Koruptor. Tapi ini tentang kita semua. Bayangkan kita sungguh-sungguh mengikuti hajatan demokrasi. Kita “gontok-gontokan” memilih orang-orang yang kita agungkan sebagai pemimpin. Kita percayai saja basa-basi para pemimpin. Tapi apa yang terjadi: korupsi, korupsi, korupsi.

Mula-mula korupsi itu dirasakan sebagai penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, pencurian uang negara – itu paling mudah kita ingat. Mengisi dompet pribadi. Uang korupsi menjelma jam rolex di pergelangan tangan. Menjelma pakaian yang menempel di tubuh. Menjelma mobil keren yang diseret-seret ke mana pun si empunya pengen pergi. Dan kekayaan lainnya.

Tapi lebih dari itu, mereka menyalahgunakan kepercayaan yang kita (rakyat) berikan. Jadi, dampak destruktif dari korupsi, bukan hanya kerugian negara, tapi mengikis kepercayaan (trust) publik kepada para pejabat negara. Bila “trust” publik sudah jatuh pada titik yang paling suram, basa-basi dari pejabat tak akan mempan lagi. Basa-basi apapun hanya akan jadi sekedar angin lewat. Sebab basa-basi tak mencerminkan komitmen apapun. Cerminan komitmen itu ada pada tindakan.

Sesungguhnya Di Mana Kelucuannya?

Jadi di titik ini, mari sejenak kita jadi Agus Noor dengan menertawai korupsi. Menyulapnya dari petaka menjadi kejenakaan yang remeh-temeh. Menertawakan harapan-harapan yang sempat kita gantungkan tinggi-tinggi kepada para pejabat yang lalu lupa tak bagi-bagi. Tetapi apa yang lucu?

Pertama, jejak digital yang menampilkan video serius tentang cara mencegah korupsi, akhirnya tak jadi tontonan yang serius, melainkan jadi komedi yang paling lucu. Itu basa-basi yang paling berkelas. Andai kita tak mendengar si penutur jadi tersangka, mungkin itu tak lucu sama sekali.  

Kedua, mau lucu atau tidak, kita memang perlu menertawai korupsi. Cara ini cukup baik membuat kita sejenak melupakan kesedihan dan berusaha menyajikan pikiran yang lain agar kita tak menggantungkan terlalu tinggi-tinggi pengharapan kita kepada para pejabat. Manusia adalah mahluk lemah. Punya salah dan lupa. Manusia yang pejabat, sudah tentu lemah sekali. Derajat kesalahan dan kelupaan mereka lebih tinggi daripada kita – manusia yang bukan pejabat.

Jadi ketimbang kita stres memikirkan mengapa pejabat mengkhianati kita dengan korupsi, mengapa ia tak sesuai janjinya seperti yang lalu-lalu, maka mending ubah arah pikiran kita dan katakan pada diri dengan dialog santai seperti seseorang yang memberikan ceramah pada seseorang yang patah hati: “sudahlah, begitulah korupsi adanya. Kelak, kalau mereka tak mau tobat, mintalah jatah biar bisa bagi-bagi”. Bila itu tak cukup membuatmu tertawa geli, tontonlah lagi video tips dan trik mencegah korupsi itu, dijamin kau akan ngakak betul. Dan sejenak kau lupa kalau kau sedang ada di sebuah negara bukan di syorga.

 

 

0Comments

Previous Post Next Post

ads