Penulis: Abdullah SP

“Astagaaa”.

Saat mengerjapkan mataku dan mulai bisa melihat sekitar, aku mendapati ruang yang asing sekali. Bahkan apakah aku masih sesosok tubuh materil atau bukan, aku merasa asing dengan diriku. Tapi aku merasa pernah melihat ruang asing ini. Di mana? Mengapa aku tak bisa memastikan ini siang atau malam? Apakah aku tertidur satu jam?

Aku berusaha mengingat. Untungnya ingatanku berfungsi. Setidaknya ada sedikit potongan-potongan bayangan sebelum aku sampai di sini.

*
Semula aku mendapati diriku sebagai sosok tubuh yang kaku di tempat pemandian. Dibalut kain penuh bunga-bunga. Diguyur air bersih. Orang-orang di sisiku: ada wajah ibuku, kakek, nenek, dan orang-orang yang aku kenal. Mata mereka basah. Merah. Terutama ibuku. Sesenggukan. Ia tak dapat berdiri dengan tegak. Ada seseorang yang menjaga keseimbangan tubuhnya. Orang-orang di sampingku saling bergantian mengusap tubuhku dengan sabun batang. Membersihkan tubuhku. Lalu mengguyur tubuhku dengan air.

Apakah aku sudah tak bisa lagi sebaik dulu untuk mandi sendiri? Kenapa aku dimandikan dalam keadaan mata terpejam? Apakah sudah sebangsat itu kantuk menyerangku sehingga aku tak bisa terbangun diguyur air?

Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri. Mengapa aku tak bisa menggerakkan tubuh yang dimandikan itu? Mengapa aku terbelah jadi dua sosok. Satu sosok tubuhku yang terbaring. Dan satu lagi sosok diriku yang berdiri di antara orang-orang dengan bobot yang serasa ringan. Bahkan rasanya aku melayang-layang di antara mereka. Tak sedikit pun aku berbenturan dengan fisik mereka. Bahkan sesekali aku mencoba menyentuh mereka, tak sedikit pun sentuhan itu terasa. Mereka bergerak ke arahku dan menabrak diriku. Tapi ajaibnya, aku tak merasakan apa-apa? Dan mereka tak serasa menabrakku.

Tubuhku dikeringkan. Lalu digotong ke ruangan. Aku mengikuti mereka. Orang-orang berjalan. Aku seakan terbang. Orang-orang berpijak pada tanah. Aku berpijak pada entah.

Di ruangan, juga di depan rumah, begitu banyaknya orang-orang. Mereka berkumpul untuk apa? Ah, persetan lah. Aku terlalu banyak bertanya, tapi sejak dulu tak pernah pintar-pintar. Persetan lah dengan patung Rodin, patung yang selamanya duduk dan berpikir itu. Toh aku pernah seharian duduk untuk menirukan manusia yang seumur hidupnya berpikir itu, tak pernah aku bisa benar-benar pintar.

“Nak…”, ibuku berbicara kepada tubuhku yang tertidur itu. Suaranya patah-patah. Dan ia tak melanjutkan lagi. Tenggelam dalam tangis yang hu…hu…hu… Kerabat-kerabatku yang lain, tetanggaku, yang jauh dan dekat, dan orang-orang sekitar, kenapa mereka tampak sedih semua?

Seseorang, yang segera kukenal, duduk di dekat tubuhku yang tertidur itu. Ia guru ngajiku. Ia membawa kain warna putih polos. Lalu dengan rapih dan begitu terlatih, ia selimuti tubuhku. Sial tubuhku menerima begitu saja tanpa perlawanan. Kantuk macam apa yang menyerang tubuhku itu? Aku ingin membangunkannya. Maka sesekali aku mencoba untuk mencolek tubuh yang tak bergerak itu. Sial. Mana mungkin jariku seperti udara ini.

Guru ngajiku sudah menyempurnakan tugasnya. Tubuhku tak lagi telanjang. Ia sekarang tubuh dalam balutan kain putih polos. Oh, Tuhan. Aku kaget. Wajahku menampakkan diri seperti… apa namanya? Oh aku lupa. Iya, tubuhku seperti pocong. Aku pocong?

Ayolah. Drama apa ini?

Orang-orang terus menangisiku. Sekarang orang-orang mengikuti instruksi guru ngajiku. Ia memimpin pembacaan yasin dan berbagai macam doa-doa keagamaan. Setelah itu, aku digotong lagi ke musholla. Dibaringkan di paling depan. Orang-orang berdiri dipimpin oleh guru ngajiku. Mereka sholat. Aku bingung, apakah aku harus ikut menyolatkan tubuhku yang terbujur itu? Tapi apakah benar, ini ritual kematian? Apakah aku mati?

Orang-orang sholat. Aku ikut sholat empat takbir. Aku masih bisa mengingat seluruh bacaan-bacaan dalam ritual menyolatkan mayat. Tapi Tuhan mohon maaf, sholatku sudah tentu tidak khusyuk. Aku masih ragu-ragu dengan semua ini: apakah aku mati?

Kini tubuh berkafan itu digotong dalam sebuah keranda. Orang-orang seperti semut mengerubungi keranda itu dan membawanya menuju kuburan. Aku mengikuti rombongan manusia seperti semut ini. Memanjang dari rumahku hingga ke kuburan. Aku juga berada di antara mereka. Persis di dekat keranda itu.

*
“Ini kematian kah?”, tanyaku sambil melayang-layang di atas galian tanah yang begitu dalam. Aku menyaksikan tubuhku yang diam dalam balutan kain kafan itu kini diturunkan dari keranda. Tangan-tangan secara kompak mengangkat dan memindahkan ke tangan-tangan lain yang sudah berdiri di mulut galian tanah itu. Ada sekitar tiga orang yang berdiri di galian tanah itu.

Tubuh dengan balutan putih sudah ditidurkan di liang itu. Dimiringkan ke arah barat. Tubuh itu tetap saja tak bergerak-gerak lagi. Tak meronta lagi. Ini aneh betul. Dulu, kuingat diriku tak kan mungkin mau tidur tanpa alas kasur. Terlalu kasar bila tubuh dibaringkan di lantai. Apalagi di galian itu. Di atas tanah. Apa-apaan? Aku mencoba sekali lagi berusaha untuk menggapai tubuh yang diam itu. Aku berusaha mencubitnya. Tapi lagi-lagi, tanganku tak dapat meraih apa-apa. Saat aku berusaha mencubitnya, tanganku seperti angin.

Aku pasrah. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kini kulihat orang-orang sudah mulai mencangkul gundukan tanah segar di sisi galian itu. Tubuh yang dibalut kain kafan itu sudah ditutupi oleh dinding batu berbentuk persegi panjang. Begitu rapat. Bahkan bila ada sedikit celah, mereka tutupi celah itu dengan batu. Kini semakin lama, semakin tertutupi oleh timbunan tanah yang melayang-layang diterbangkan cangkul. Tanah itu lama-lama menjadi gundukan. Tubuh itu kini sudah jauh di bawah gundukan tanah. Matahari mungkin tak kan menembus nyenyaknya tidur abadinya.

Orang-orang sudah pergi. Gundukan ini sudah sepi. Pada gundukan itu, kulihat ada dua belah kayu ditancapkan di sana. Tertulis namaku. Tapi aku masih bertanya-tanya: apakah aku benar-benar mati?

0Comments

Previous Post Next Post

ads