Penulis: Fauzan Nur Ilahi


“Profesi macam apa ini...”

Kalimat ekspresif di atas sama sekali saya tak kurang-tambahi. Saya “kopas” langsung dari Si Empunya kalimat: Puthut EA, melalui akun facebooknya. Penggalan kalimat di atas adalah salah satu bagian dari tulisan dia yang mencoba mengomentari perihal nasib penulis di Indonesia. Pun penerbit. Pun distributor.

Dia menarasikan dengan cukup lengkap beserta statistik sederhana perihal bagaimana erat-kelindan antara penulis, penerbit, distributor, serta akhirnya konklusi tentang berapa penghasilan yang didapat oleh masing-masing profesi ini. Hasilnya adalah komentar berupa penggalan kalimat di awal tulisan ini. Jika pembaca mempunyai waktu luang dan tertarik terhadap ekosistem bisnis buku dan pekerja literasi di Republik ini, silahkan baca tulisan pendek Puthut EA di akun facebooknya.

Membaca tulisan Puthut, juga membuat saya mengingat beberapa kritik yang terlontar dari beberapa penulis lain semisal Eka Kurniawan dan Tere Liye. Kadang melalui tulisan-tulisan pendek di sosial medianya, dua nama ini juga cukup gencar mengkritisi praktik buku bajakan yang akhirnya juga berpengaruh pada penghasilan penulis, penerbit, dan distributor. Dan saya cukup yakin, kritik senada juga lantang terdengar dari penulis lain yang turut peduli dengan nasib para pegiat literasi di Indonesia. Hanya mungkin saya tidak tahu.

Aksara vs Audio-Visual

Sebagai seorang yang gemar menulis, yang akhirnya juga banyak berharap kepada aktifitas menulis guna menjadi profesi penopang hidup, tidak bisa disangkal bahwa kritik yang bermunculan dari berbagai penulis yang sudah “mapan” turut menyumbang pesimisme ke dalam diri saya. Keraguan yang akhirnya membuat saya tak yakin dengan kemampuan menulis sebagai bekal menghadapi hidup.

Saya bahkan berpikir, apa memang sudah masanya riwayat para penulis berakhir? Apa memang sudah saatnya informasi disampaikan dengan audio-visual (superior) bukan dengan aksara (inferior)? Apa memang sudah waktunya buku-buku menjadi barang antik dan digantikan dengan media informasi lain bernama internet dan media sosial?

Dalam beberapa titik kehidupan, sempat juga saya mengafirmasi pikiran semacam ini dan otak memunculkan satu jawaban: “Nampaknya memang riwayat penulis dan tulisan sudah harus berakhir”.

Kemantapan hati saya untuk menaruh pengharapan pada penghasilan menjadi penulis lambat laun kian lembek. Saya berpikir, zaman ini adalah zaman media sosial. Zaman audio-visual. Walaupun banyak kalangan yang masih mempropagandakan “keagungan” buku, nampaknya dengan ekosistem yang tidak sehat, sukar pula kita berharap “keagungan” ini bertahan lama.

Betul bahwa saya sangat mencintai buku. Saya sangat menggemari aktifitas kepenulisan. Tetapi hidup bukan hanya soal kegemaran. Saya rasa, seabrek pemuda yang hendak menggantungkan hidupnya pada aktifitas menulis juga sama bingungnya dengan saya jika melihat konteks profesi penulis serta bisnis perbukuan di Indonesia ini.

Sementara di sisi yang lain, mari kita lihat para youtuber. Lihat juga bagaimana pesatnya teknologi dan internet memuluskan “bisnis” mereka. Bukannya nyinyir, tetapi konten yang kadang tak serumit membuat satu cerita novel utuh atau satu observasi dalam salah satu penelitian buku, namun secara hitung-hitungan ekonomis, keuntungan mereka jauh lebih besar.

Pembaca juga boleh melacak penulis-penulis kondang macam Refly Harun, Martin Suryajaya, sampai Puthut EA (melalui channel Mojok.co) yang juga merambah ke dunia per-Youtube-an. Entah bagaimana membaca fenomena ini, karena tentu saja hal ini tidak salah. Tetapi yang jelas, hal ini juga membuktikan bahwa dunia audio-visual saat ini nampak lebih mentereng dan subur daripada dunia kepenulisan dalam konteks ekonomis.

Potensi “Kekayaan” Penulis

Baiklah. Untuk memberi gambaran kepada para pembaca terkait penghasilan penulis, saya akan mengurai sedikit hitung-hitungan yang dipaparkan oleh Puthut EA. Begini pemaparannya:

“Penulis buku, lazimnya menerima royalti sebesar 10 persen dari harga bruto buku, atau 15 persen dari harga netto buku. Kita ambil yang pertama saja, yang paling sering digunakan. Jika buku seharga 60 ribu, maka penulisnya mendapatkan 6 ribu rupiah. Jika terjual 1000 eksamplar, maka penulis dapat 6 juta.”

Statistik yang terkesan menjanjikan. Tetapi nahasnya, penulis yang mampu menjual seribu eksamplar, seperti penuturan Puthut, jumlahnya jelas tak banyak. Jika kita memakai segitiga sebagai perumpamaan, maka pada bangunan kerucut bagian atas itulah nasib penulis dengan penjualan karyanya yang mencapai 1000 eksamplar. Sisanya, entah bagaimana nasib rimbanya.

Lantas distributor? Penerbit? Itu adalah persoalan yang lain. Perlu uraian dan tulisan lain untuk menjelaskan rintihan mereka.

Kembali kepada persoalan yang dibahas di awal, maka memilih menjadi penulis, secara kemungkinan keberhasilan (artinya menjadi penulis yang karyanya terjual 1000 eksamplar) adalah lebih rentan daripada kita melempar dadu. Kesempatan yang kemungkinan kita peroleh untuk mendapat posisi “kerucut segitiga” sangat kecil. Selama ekosistem di Indonesia masih begini adanya, maka menjadi penulis adalah profesi yang tak bisa memberikan kita banyak harapan. Selain kepuasan diri atas jiwa yang memaksa jari untuk meluapkan segala pikiran.

Saya menjadi tak begitu banyak terhadap kegiatan menulis. Selain atas nama kepuasan batin, merawat akal sehat, mengabadikan titik-titik dalam hidup, serta atas nama ilmu pengetahuan, nampaknya saya tak bisa memasukkan pengharapan lain. Apalagi yang berkaitan dengan pertimbangan ekonomi.

Akhirnya saya memiliki kesimpulan bahwa menulis, untuk saat ini, tak bisa sepenuhnya kita jadikan sandaran hidup. Apalagi satu-satunya. Esai Muhidin M. Dahlan tentang Ajip Rosidi yang dimuat Mojok.co bertajuk “Jejak Ajaib Ajib Rosidi: Nikah Muda Ijazah SMA Bikin Produktif Nulis” memang memukau. Tetapi di zaman ini, dalam situasi literasi dan bisnis perbukuan di Indonesia yang masih seperti saat ini, nampaknya sukar kita mengharap lahirnya Ajip Rosidi-Ajip Rosidi yang baru.

Pun, saya harus meminta maaf karena harus tak setuju dengan penulis esai di Rontal.id beberapa waktu lalu berjudul, “Serius, Hidup Sekali dan Jangan Pernah Memilih Profesi Joki Skripsi!”.

Wahai Max Tole, rasa-rasanya logika Anda keliru. Jika sekali dalam hidup Anda diberi kesempatan untuk memilih antara menjadi penulis idealis yang sebenar-benarnya penulis atau joki skripsi, tesis, disertasi, atau apa pun jenis tulisannya, saya sarankan Anda memilih jadi penulis joki. Percayalah, profesi itu lebih memberi Anda harapan jika orientasinya penghasilan!
0Comments

Previous Post Next Post

ads