Ludiro Prajoko (Pengamat Sosial-Budaya)


Warta seputar petani menarik disimak: untuk memenuhi kebutuhan beras, bangsa Indonesia mengandalkan petani-petani kecil (ukuran lahan dan modal) dan tua (umur), kekurangannya, kurang lebih 1,5 juta ton per tahun, ditutup dari hasil panen petani Vietnam dan negara lain. Tujuh puluh persen dari sekitar 25.000 petani di kabupaten Banyumas berusia lebih dari 55 tahun, kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Banyumas.

Kaum muda tak tertarik menjadi petani. Karena pendapatan bertani sangat kecil. Contohnya, P. Suwedi, 59 tahun, warga desa karangsalam kecamatan Baturraden Banyumas Jawa tengah. Memiliki sawah seluas 700 meter persegi. Sekali panen menghasilkan 3 kuintal gabah kering. Dua kali setahun sawahnya ditanami padi. “Ya, berat hidup sekarang” keluhnya. Petani lain, P. Daldiri, 67 tahun, warga desa Sawahan kecamatan Rawalo Banyumas, menuturkan penghasilannya sebesar 1 juta rupiah sekali panen. Pukul rata 250.000 penghasilan per bulan sonder dipotong upah tenaganya. Maka, anaknya tak mau bertani

Warta berikutnya mengabarkan tentang rendahnya harga pucuk daun teh petani selama bertahun-tahun. Kondisi itu mengantarkan sektor usaha teh rakyat di Purwakarta gulung tikar. Ratusan hektar kebun teh beralih fungsi dan sejumlah pabrik pengolahan skala kecil bangkrut. Sekretaris Kelompok Teh Rakyat Purwakarta menyajikan data: Di kecamatan Darangdan saja ada 27 pabrik pengolah teh skala kecil, 9 unit telah bangkrut, 6 unit menganggur dan mangkrak, 12 unit masih beroperasi, tapi jalannya terseok-seok.

Kisah petani teh gulung tikar mengandung pelajaran matematika sederhana: harga jual pucuk daun teh basah petani 1.150 per kilogram. Ongkos produksi sebesar Rp. 1.700, sudah termasuk upah petik Rp.400 per Kg dan ongkos angkut dari kebun ke tepi jalan Rp. 100. Jadi petani tekor Rp. 650 per Kg. Kalau tidak percaya, silakan menjadi petani teh. Sosro tentu saja tidak mengalami hal itu. Karena, ia ahlinya teh.

Sementara itu, hama yang menyerang tanaman jeruk meluas ke berbagai daerah sentra produksi jeruk di Indonesia. Kata para pakar, serangan hama itu dipicu anomali cuaca yang berbarengan dengan mahalnya harga pupuk serta serbuan drosopila melanogaster, si lalat buah. Di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat, 85 persen buah jeruk pecah seperti bibir sumbing, sebelum waktunya dipetik. Buah jeruk itu mengalami sindrom yang juga dialami 30 persen perempuan: kekurangan kalsium.

Di kabupaten Karo Sumatera Utara, produksi jeruk menurun hingga 60 persen. Karena buah jeruk cepat menguning dan berguguran sebelumnya waktunya. Ribuan petani jeruk dengan demikian, berpeluang untuk cukup sengsara.

Sekalipun demikian, Marx tak berminat memasukkan petani ke dalam jajaran kaum proletar yang digadang sebagai garda depan revolusi. Marx memang tidak kenal P. Suwedi dan teman-temannya di Banyumas, Sambas dan Karo.

Petani di negeri agraris ini, dewasa ini, memang bukan lapisan rakyat yang beruntung. Bahwa sampai hari ini mereka masih setia bertani, tampaknya hal itu salah satu keajaiban di Indonesia. Dalam kamus bahasa Inggris, terdapat dua kata, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, memiliki arti yang sama: petani, yaitu Farmer dan Peasent. Secara semantik tampaknya ada keterbatasan bahasa Indonesia. Tak mengapa, karena petani memang bukan urusan bahasa Indonesia. Istilah dan sebutan petani lebih sebagai kategori sosiologis dan urusan politis.

Farmer bagi orang yang sehari-hari berbahasa Inggris adalah petani besar, yaitu mereka yang bertani dengan mengandalkan modal, teknologi dan pasar. Misal: seorang petani anggur di Amerika, ia memiliki ribuan hektar kebun anggur, menggunakan pesawat terbang sebagai sarana menyemprotkan pestisida untuk membinasakan segala jenis hama.

Petani jenis ini, juga memiliki atau difasilitasi dengan sarana yang modern dan canggih untuk keperluan paska panen. Tentu saja disediakan berbagai hal yang dibutuhkan agar anggur hasil panennya tersedia secara melimpah di pasar-pasar di berbagai negeri yang jauh dari tempat tinggalnya. Mereka juga mengembangterapkan teknologi rekayasa genetika untuk memastikan buah anggur yang dihasilkan lebih enak rasanya dan tidak mudah bonyok.

Agar masyarakat di negeri-negeri yang jauh menggemari anggur dari negerinya dan segera mencerai anggur dari negerinya sendiri, disediakan instalasi pembangun persepsi baru (iklan, mall, pasar bebas, dll) tentang gengsi, kemoderenan dan gaya hidup.

Farmer adalah petani kapitalis. Mereka memantau pergerakan harga komoditi dan ekspresi wajah berbagai bangsa kala menggunyah anggur produknya melalui jaringan internet. Mereka juga memiliki akses yang leluasa ke sejumlah kementerian terkait untuk memastikan efektivitas diplomasi anggur dalam politik dan perdagangan internasional.

Nyaris tidak pernah kita dengar mereka bangkrut. Kecuali anggur hasil panennya ia gunakan untuk mabok-mabokan sepanjang tahun. Kita tidak punya petani jenis itu. Memang terhampar ratusan ribu hektar kebun sawit, di Sumatera dan Kalimantan, tetapi kebanyakan kebun itu milik petani dari negeri seberang.

Petani yang ada di sekitar kita, dimana-mana, adalah dari jenis yang lain: peasent. Mereka bertani dengan mengandalkan keahlian dan wasiat untuk melanjutkan kegiatan serta sepetak sawah peninggalan orang tua, seraya memenuhi kebutuhan pangan bagi diri, keluarga dan sanak saudara dari waktu ke waktu.

Dalam forum diskusi mereka disebut petani subsistensi. Dulu bertani model ini praktis tidak membutuhkan modal, karena benih mereka tangkar sendiri dari sebagaian bulir hasil panenannya. Mereka tidak membutuhkan pupuk dan obat-obatan buatan pabrik. Pos upah tenaga kerja tidak ada dalam hitung-hitungan analisis usaha mereka.

Pekerjaan bertani pada umumnya dikerjakan sendiri oleh anggota keluarga itu. Sekiranya membutuhkan tenaga tambahan, mereka menyelesaikannya dengan cara bergotong royong. Hasil panen memang tidak sepenuhnya untuk dirinya. Maka kita mengenal istilah ‘bawon’: sejumlah bulir hasil panen yang diberikan kepada beberapa orang (non anggota keluarga) yang terlibat dalam proses produksi.

Kala memanen (padi) dengan teknik ‘gebros’, yaitu memeretelei bulir-bulir padi dengan cara memukul-mukulkan segenggam tangkai padi pada sebuah papan sedemikian rupa, dengan sengaja tidak dipastikan agar semua bulir yang ada tanggal. Selalu saja ada yang harus disisakan agar beberapa orang yang ‘ngasak’: mencari sisa-sisa bulir padi dari tangkai yang telah dibuang oleh pemiliknya, tidak pulang dengan tangan kosong.

Jaman telah berubah, memang. Dan, kita sebagai bangsa tidak akan cepat maju dengan cara bertani (moda produksi) seperti itu, benar! Lalu bagaimana seharusnya para petani jenis itu bergerak seiring derasnya perubahan jaman?

Sejarah pertanian mencatat dengan tertib bagaimana para petani itu ditransformasikan dalam proses revolusi hijau. Dengan revolusi itu produktivitas pertanian (padi) dapat dilipatgandakan. Karena menanam padi bisa panen tiga kali setahun. Untuk itu bibit yang ditanam harus khusus, tak lagi hasil tangkaran sendiri. Bibit baru itu gemar pupuk buatan pabrik dan segala kutu yang mengganggu mesti dimusnahkan dengan racun hama. Itu dilakukan untuk memaksimalkan produksi gabah guna memenuhi kebutuhan pangan nasional, di mana semua penduduk Indonesia telah digiring untuk makan nasi. Seolah-olah belum menjadi warga Negara Indonesia kalau masih mengkonsumsi jagung, sagu, …

Kita memang bukan negara kapitalis. Karenanya tak ada petani kapitalis. Dengan revolusi hijau, petani menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem industri kapitalis. Maka hancurlah kemandiriannya, karena segala sesuatu terkait dengan sepetak sawahnya ditentukan oleh pemerintah dan pabrik. Harga dasar gabah ditetapkan dan dikontrol pemerintah, karena bila beras mahal harganya akan memberikan dampak politis yang serius bagi pemerintah.

Lengkap sudah, petani kita menjadi barisan penduduk yang tak punya dan tergantung. Petani jenis itu biasa disebut petani gurem. Ungkapan untuk menggambarkan sesuatu yang lebih kecil dari yang kecil. Gurem adalah sejenis kutu yang nyaris tak kasat mata.

Mengapa petani gurem kita masih tetap sanggup bertani dan menjadi petani dengan segala keguremannya, dari perspektif ekonomi, sosial, politik,…? Pertama, dapat dipastikan mereka tidak membaca buku ‘Pemberontakan Petani Banten’ karya Prof. Sartono. Mereka juga tidak berdiskusi tentang Zapatista atau gerakan petani di negara-negara lain.

Kedua, mereka tidak merasa, juga tidak percaya bahwa pemerintah ada untuk mengurus mereka. Sikap seperti itu dapat dimaklumi, mengingat pemerintah memang lebih gemar menerbitkan lisensi import. Apa yang tidak didatangkan dari negeri asing dewasa ini? Kedelai, beras, bawang, gula, aneka buah-buahan, garam, daging, … ?

Produksi dalam negeri untuk sejumlah komoditi itu, sampai hari ini, belum dapat memenuhi kebutuhan nasional. Anehnya, kita tidak mendengar seperti apa (kebijakan) dan di mana upaya serius pemerintah untuk, misalnya, mencapai swasembada kedelai atau garam.

Kekurangan pasokan garam dari produksi dalam negeri, bukan persoalan yang baru muncul bulan lalu. Itu sudah terjadi sejak awal pemerintahan, katakanlah, SBY. Maka bila sampai hari ini garam masih saja harus diimpor dalam jumlah tidak kurang dari 50 % kebutuhan garam nasional. Pertanyaannya, menggarami apa saja pemerintah selama ini?

Untuk mencapai swasembada pangan pasti bukan pekerjaan mudah. Karena menuntut terlalu banyak hal, mulai dari penghayatan atas nasionalisme dan greget mewujudkannya dalam setiap tindakan mengurus negara dan rakyat, orientasi yang jelas dari strategi pembangunan, sinergi kebijakan dan tindakan negara yang terkoordinasi, dirumuskannya serangkaian kebijakan – regulasi di semua sektor terkait pembangunan pertanian,……., dan… tidak korup!

Mengapa? Korupsi (kita petik dari bahasa Latin: Corrumpere), berarti ‘membusuk, merusak, memburuk, atau menyeleweng. Karena itu korupsi menjadi ancaman yang membusukkan, merusak, masyarakat melalui penyalahgunaan wewenang yang diamanahkan.

Pemerintah dewasa ini tentu keberatan memikul dan melakukan semua itu. Sementara pemerintah tahu persis, ada banyak jalan menuju Roma. Jalan favorit yang ditempuh adalah: Impor, datangkan dari negeri seberang. Apakah manfaat kebijakan itu bagi para petani gurem kita? Pasti ada, paling tidak, kebijakan itu menyediakan ruang terbuka yang luas bagi petani gurem untuk menyublim.

Dalam ruang itu, para petani gurem secara pelan dan lembut hilang dari pandangan kita. Hasilnya: semua komoditi tersedia di pasar, rakyat dapat memerolehnya kapan saja, tidak usah berebut cepat, berapa pun yang dibutuhkan pasti terpenuhi, asal punya duit.

Lalu, pemerintah melaporkan setiap kuartal: ketersediaan pangan nasional, aman! Hmm….Ternyata tak ada rumit di negeri ini.
0Comments

Previous Post Next Post

ads