Penulis: Abdullah SP


Buku adalah jendela dunia. Kalimat ini, meski terdengar klise, benar adanya. Dan nampaknya magis dari kalimat ini semakin terdengar jauh menerobos masuk ke wilayah-wilayah pelosok desa dan menebarkan api semangat di sana. Saya menunjuk pada salah satu Rumah Baca Rampak Naong di Kampung Janten, Desa Dempo Barat.

Memang, rumah baca ini baru saja akan melangkah. Bila ada hal yang bisa kita tunjuk sebagai tanda permulaannya, tak lain adalah api semangat dan ide – yang sebenarnya sudah terbayang sejak lama – dan sarana-sarana sederhana berupa fasilitas tempat yang mulai dipersiapkan saat ini.

Meskipun ini baru sebuah permulaan – yang bisa saja tak berjalan optimal di tengah perjalanan nanti, tapi bagi saya ini justru menjadi penanda awal untuk menguji apakah lingkungan masyarakat di mana Rampak Naong berdiri punya semangat untuk mengapresiasi kehadirannya? Apakah masyarakat di sekitar memang membutuhkan pendidikan?

Di Kampung ini, dan secara luas kampung-kampung sekitarnya (tetangga desa lain juga), sepintas kita bisa melihat bahwa pendidikan tumbuh dengan baik. Setidak-tidaknya kita bisa melihat pada beberapa indikasi. Pertama, antusias para orang tua untuk memasukan anak-anaknya ke sekolah. Kedua, banyaknya lembaga pendidikan yang saling berkompetisi untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas. Ketiga, semakin banyaknya yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi (alias mahasiswa).

Bila melihat pada tiga indikasi di atas, maka keberadaan rumah baca yang mendukung aspek pendidikan mestinya akan direspon dengan positif dan penuh semangat. Rumah baca ini bukan saja disambut tapi bisa menjadi alternatif untuk menambah keilmuan, jadi tempat yang mendukung suasana santai untuk belajar. Pihak penyelenggara pendidikan tertarik untuk datang bahkan untuk sekedar melihat-lihat dan merekomendasikan murid-muridnya untuk menjadikan Rampak Naong sebagai suatu tempat pustaka. Ada banyak imajinasi lain yang terbayang.

Tapi bila sebaliknya yang terjadi, di mana kehadiran Rampak Naong tidak disambut dengan antusias, tak ditandai dengan semacam rasa syukur dan kebutuhan pada membaca dari masyarakat sekitar, maka kita bisa mengajukan keraguan-keraguan: jangan-jangan pendidikan di sekitar lingkungan Rampak Naong belum memberi perhatian besar pada aktualisasi semangat ‘membaca’ sebagai jantung dari dunia literasi.

Keraguan ini bisa dikembangkan secara lebih detail dengan merujuk pada tiga subjek. Pertama, masyarakat secara umum di sekitar Rampak Naong. Jangan-jangan imajinasi masyarakat sekitar tentang pendidikan barulah sebatas yang penting anaknya sekolah. Sehingga, bila mereka (orang tua) sudah memasrahkan ke lembaga pendidikan (sekolah formal atau pesantren), maka imajinasi pendidikan mereka terhenti di sana, tak perlu pertanyaan lebih jauh.

Kedua, pada penggerak atau penyelenggara pendidikan di sekitar. Jangan-jangan pendidikan bagi para penggiat lembaga sekedar soal kewajiban formalitas kegiatan belajar-mengajar yang sangat terbatas di lingkungan sekolah, pemenuhan tugas-tugas, dan aktivitas formalitas lainnya. Ketiga, bagi mahasiswa (yang sudah lulus atau yang belum) yang ada tinggal di sekitar Rampak Naong, jangan-jangan aktualisasi menjadi mahasiswa hanya terbatas pada sekedar mengejar status sosial, tuntutan ‘titel’, kebanggaan belaka, dan atau kebanggaan-kebanggaan lainnya. Kita masih bisa memperpanjang lagi daftar dari ‘jangan-jangan’ sebagai suatu metode bertanya yang meragukan.

Dan ingat, itu hanyalah ‘jangan-jangan’. Suatu pertanyaan yang ragu-ragu yang bisa dijadikan bahan refleksi kepada masyarakat umum di sekitar Rampak Naong tentang imajinasi pendidikan. Refleksi ini penting semata-mata untuk semakin membawa kita pada esensi dari pendidikan.

Tapi di luar hal-hal di atas, bila Rampak Naong tak disambut signifikan, barangkali ada hal lain yang lebih merupakan persoalan internal rumah baca tersebut. Ada banyak hal yang perlu dievaluasi di internal mulai dari pengelolaan, ketersediaan fasilitas bacaan, tempat, dan ragam kenyamanan fasilitas lainnya.

0Comments

Previous Post Next Post

ads