Penulis: Ihlal Nazuaf



Kita dikecoh waktu. Dipermainkannya. Apakah itu waktu yang lama? Apakah itu waktu yang sebentar? Dua-duanya tak bisa aku mengerti. Durasi waktu menjadi sangat relatif.

Ini bukan tentang apa-apa. Ini hanya igauan seorang lelaki yang kini terjebak pada sisa hari yang singkat yang hanya dimengerti dengan pertanyaan dia kepada seorang perempuan, temannya belaka: mengapa kau lekas pergi?

Satu hari, sebelum perpisahannya, lelaki itu datang lebih awal menemui perempuan itu di kota … Lelaki itu bertekad untuk menghabiskan sisa waktu sebelum perpisahan sebagai kawan yang mengerti betul cara menghormati sebaik-baiknya teman. Entah bagaimana pengertian “sebaik-baiknya” dalam kamus hati seorang lelaki yang begitu baik (baik sekali) kepada seorang perempuan, kawannya. Aku tak mengerti. Aku tak bisa menjelaskan kerumitan kisah ini. Lagi pula, aku penutur yang jomblo.

Lelaki itu akan ada di sebuah kedai di kota atau di mana pun saja di sana asal saja ia dapat duduk menghabiskan sisa waktu di depan perempuan itu. Ia akan menikmati kopi atau minuman apapun di sana. Persetan kopi atau minum apapun. Mungkin sama saja rasanya. Tapi mungkin juga tidak di dalam posisi dia. Lagi-lagi aku tak mengerti. Aku penutur yang jomblo.

Lelaki itu mengebut motornya sepanjang 20 km dari kampung ke kota. Melewati jalanan yang sudah akrab. Meliuk-liuk melintasi jalan yang berbahaya yang menempel di tebing yang tak banyak dibantu penerang jalan. Hari itu, dini hari. Ia mestinya ditemani udara dingin dini hari. Mungkin selain ditemani gelap, mungkin juga sedikit gerimis.

Tapi hari itu, ia seakan merasa udara dini hari tak sedingin biasanya. Sebaliknya, rasanya seperti begitu hangat. Tubuhnya yang hanya dibaluti oleh jaket tipis, tentu tak sepenuhnya terlindungi dari godaan belaian udara dini hari itu. Tapi, kehangatan yang datang dari hati seakan memberinya berlapis-lapis kehangatan yang lain pada tubuhnya.

“Aku ingin memberimu penghormatan yang sebaik-baiknya”, begitu bisik lelaki itu berkali-kali seperti sebuah mantra yang diucapkannya di sepanjang jalan.

“Sebagai…”. Tapi setiap kali sampai pada kata ini, ucapannya terhenti. Kata itu seakan menyisakan lanjutan yang meragukan. Sesungguhnya, lelaki itu hendak menjelaskan pada dirinya bahwa perempuan itu hanyalah kawan biasa. Ingat kawan biasa. Tapi bagaimana menjelaskan pengertian “kawan biasa” bila mengingat hari-hari singkat yang baru mereka lewati?

Dalam situasi ini, kamus bahasa tak dapat menolong apa-apa. Pengertian formal di kamus itu tak dapat menjelaskan peliknya situasi perasaan lelaki itu. Ucapan “kawan biasa” dengan perempuan itu hanya pilihan bahasa formal belaka. Sedangkan pada suasana informalnya, mungkin dibutuhkan kata yang lain. Teman? Teman biasa? Teman tak biasa?

Suatu waktu, bila sudah bisa lepas dari suasana ini, lelaki itu ingin berdebat dengan Ivan Lanin atau siapa pun yang dianggap punya otoritas menghadirkan kata dan segenap pemaknaannya.

*

Ia terus memacu motornya di keheningan dan kesunyian dini hari. Deru motornya yang tua, yang tak bisa berlari kencang, beradu dengan deru udara dini hari. Jalanan menuju kota, selain memiliki liukan seperti sirkuit balap yang berbahaya, juga memiliki cerita-cerita masa dahulu yang semestinya membuat siapa pun merinding bila mengingatnya. Lebih lagi, di tengah gelapnya dini hari. Di beberapa titik jalan, dahulu kala selalu ada cerita yang menakutkan: kematian orang-orang di tangan perampok, dan semacamnya.

Tapi, dini hari ini, cerita menakutkan tak cukup kuat meneror dirinya. Ada teror lain yang dirasanya lebih kuat: teror perpisahan. Di hadapan perpisahan, teror itu seakan menjadi-jadi. Kadang lelaki itu berusaha menyangkal teror itu dan meletakkannya sebagai sebuah keanehan. Ia ingin menempatkan perasaan itu sebagai remeh-temeh yang bisa diluapkan di tempat sampah belaka.

“Bila ini semacam jatuh cinta, oh sudah pasti ini jatuh cinta yang anjing…”, ucapnya sesekali saat menyadari perasaan-perasaan yang menenggelamkan kesadaran rasionalnya. Ia merasakan gema ucapan itu begitu menjijikkan. Dan ia meludah sendiri. Betapa ia begitu ringkih di hadapan masalah jatuh cinta. Ia membenci dirinya. Tapi pada saat ia tenggelam pada kebencian yang mendalam, ada hal lain yang menyelinap, dan itu tiba-tiba membuatnya merasa ingin memaafkan dirinya. Mencintai itu hal yang biasa saja. Tak perlu dibenci atau dimusuhi. Maka ludah yang tersisa di lidahnya, ia tahan dan telan kembali.

Dalam kesusahan mencari titik ketegasan antara protes atau tunduk pada perasaan jatuh cinta, lelaki itu harus berulangkali menelan ludahnya sendiri.

Aku yang menuturkan kisah ini tertawa geli. Mampus kau tokoh lelaki di kisah ini. Pikiranmu yang aneh, perasaanmu yang jatuh pada perempuan manis yang kau sebut sahabat saja itu, bakal mengoyak-oyak dirimu. Tubuhmu yang kecil, ringkih, bagaimana mungkin menampung hati yang dipenuhi gunungan beban perasaan cinta. Ini saja kau masih di jalan. Bila saja nanti kau sudah duduk di dekatnya dalam momen-momen yang akan mengantarkan pada perpisahan – kau kembali lagi ke kampung, dan perempuan itu kembali lagi ke kampungnya yang nun jauh di sana, kira-kira kau akan terseok-seok menjalani hari-hari untuk melupakan semua ini.

Tapi, kau tokoh perempuan di kisah ini. Kau juga tak bisa mengelak dari kesulitan cinta yang dibangun beberapa hari ini saja. Sesaat kau memutuskan untuk pergi, mungkin sebenarnya pikiranmu meminta sejenak menunda: apakah lelaki itu – sahabatmu – setuju kau pergi secepat itu? Apakah kau benar-benar pulang secepat ini? Lalu saat kau sudah di sana, di kampung nun jauh di sana, bisakah kau secepat itu melupakan segala yang pernah terjadi, di sini?

Perjumpaan yang begitu singkat. Rasa-rasanya akan jadi neraka untuk beberapa hari bagi kalian berdua. Sambil menulis kisah ini, aku terus tertawa-tawa. Betapa indahnya tertawa di atas penderitaan sepasang lelaki dan perempuan yang terikat persahabatan tapi di dalamnya – pada hati yang terdalam – terpasung dalam ikatan yang lain, berupa keinginan untuk saling cinta. Betapa indahnya.

Kisah ini baru dimulai. Aku akan mengakhirinya nanti di babak-babak cerita berikutnya.
0Comments

Previous Post Next Post

ads