Cerpen Deina Mikaila Juba


Adakah kuasa Tuhan dalam perjumpaan kita?

Kamu tersenyum membayangkan pertanyaan itu. Kamu selalu bilang: biarlah yang misteri kita terima adanya. Saat kita memikirkan perjumpaan misterius itu, dan kita bersusah payah untuk menjelaskannya, maka kita semakin tersesat jauh. 

Ada hal yang bisa diterangi ilmu, katamu. Sisanya, biarkan harapan yg mencoba meneranginya.

Walau begitu, kau selalu begitu cerewet untuk menceritakan perjumpaan kita. Tiba-tiba mataku terpaku pada satu titik, katamu. Lalu entah bagaimana aku berjalan mendekatimu. Memastikan apakah aku tak salah mengagumimu. Kadang sesuatu indah bila dilihat dari jauh. Tapi rupanya dari dekat pun, aku tak salah, aku mengagumimu, katamu kepadaku.

Saat itu, kamu menggenggamku dan membawaku pergi.

*
Dua bulan telah berlalu. Kini ujung tahun 2020. Kamu akan merayakan detik-detik menjelang tahun baru. 2021. Kamu akan menatap langit yang dipenuhi percikan petasan. Kilatan-kilatan yang melesat dengan latar langit yang hitam itu seakan-akan mengalahkan bintang-bintang. Kamu, dan mungkin orang-orang, akan berhenti berbicara tentang bintang-bintang atau rembulan. Kamu, dan orang-orang, akan sibuk memandang langit sebagai latar hitam yang ditaburi percik petasan.

Sorak-sorai berseiring dengan bunyian terompet. Deru kendaraan akan berhenti sejenak. Seluruh mata seakan menengadah. Seluruh tangan seakan menadah. Seakan harapan-harapan akan turun seperti titik-titik hujan. Saat itu, bila ada suara yang paling aku harapkan untukku dengar tak lain adalah suara yang berasal dari dalam hatimu. Harapan-harapan yang didetakkan hatimu. Dilafalkan oleh lidah lenturmu yang terdengar seperti bisikan halus.

Aku akan menemanimu malam penghabisan itu. Bukankah itu tugasku? Aku akan menyaksikan matamu yang indah terpejam sesaat. Lalu ;entik bulu matamu perlahan bergerak seiring kamu membuka mata dan menatap langit. Di tepi bibirmu, akan terlukis garis senyum yang pasti akan abadi dalam ingatanku. Beruntung sekali siapa pun yang memiliki hatimu. Malam pergantian tahun akan menjadi yang terindah dalam hidupmu.

Aku akan membuatmu tersenyum bahagia.

*
Tapi sore yang rintik, matamu basah. Kamu tak mau bercerita tentang apa yang terjadi. Aku rasa apakah rintik di luar itu yang membuat matamu basah? Tapi aku tak bisa menemukan jawaban yang pasti tentang bisakah rintik hujan membuat matamu basah?

Aku mencoba mengumpulkan potongan-potongan ingatan sore itu. Kamu duduk di beranda rumah. Di tanganmu, foto seorang lelaki. Perlahan wajah tampan itu tak berbentuk. Dari sisi kiri, mula-mula telinga, rambut, mata, hidung, dan seluruh kepala yang segera menjalar ke seluruh foto itu dilalap oleh api yang berasal dari korek api di tanganmu.

Dalam hitungan detik, foto itu menjadi serpihan abu. Angin sore itu segera menghembuskan. Sisa-sisa abu itu kamu biarkan berceceran. Rintik hujan membantu menghapuskan sisa-sisa terakhir. Aku tak akan berani bertanya tentang siapa lelaki itu? Kenapa api melahapnya?

Kamu beranjak ke dalam kamar. Tatapanmu berhenti padaku. Aku dapat melihat matamu. Sisa air mata yang tak sempat kamu hapus masih terlihat. Kamu ingin tersenyum. Tapi justru di kelopak matamu, air sebentuk mutiara menggelinding dan pecah membuat garis di pipimu. Beberapa kali mutiara itu terus bermunculan dari balik kelopak matamu. Semakin membentuk garis panjang hingga ke bibirmu.

Aku hanya terdiam bingung. Aku tak bisa membaca senyum yang terukir di antara air mata. Kamu masih tersenyum. Tapi semakin berusaha untuk memperlihatkan senyum, mutiara dari matamu makin banyak yang tumpah dan aku segera mendengar beberapa getaran dari bibirmu. Ada sesenggukan yang segera kutafsir sebagai pecahnya tangis di puncak kesedihan. Apa gunanya senyum itu? Apakah dirimu memaksakan diri untuk bertarung melawan kesedihan yang digariskan oleh takdir?

Dalam sesenggukan itu, kamu menatapku sekali lagi. Kali ini, tanganmu merengkuhku. Dengan mengikuti arah tanganmu, aku sudah berada dalam pelukanmu. Aku tak dapat menolak apapun keinginanmu untuk memelukku. Aku merasakan dadamu seperti surga. Ada kehangatan yang segera merayap pada diriku. Lelaki mana yang sudah membuat hatimu patah?

Titik mutiara jatuh pada diriku. Nampaknya itu mutiara terakhir. Sebab akhirnya kamu berkata padaku, kita akan tetap merayakan penghabisan tahun 2020 dan menyambut datangnya tahun 2021. Katamu lagi, tak ada waktu untuk berlama-lama dengan kesedihan. Aku ingin kamu menghiburku. Dan setelah itu, matamu sedikit berbinar.

*
Jalanan sedikit mengkilap. Ada beberapa titik yang dipenuhi genangan air hujan sisa tadi. Orang-orang sudah berkumpul di kolong langit. Sebentar lagi, dunia akan dipenuhi keramaian terompet, letusan petasan yang memercikkan kilatan-kilatan indah. Kamu sendiri menggenggamku. Erat sekali.

00.00 WIB.

Tiupan terompet mengisi kesunyian. Petasan meletus di udara membentuk kilatan-kilatan kecil dengan latar langit yang hitam. Kilatan-kilatan itu seakan melambung tinggi dan luruh lagi ke bumi seperti titik-titik hujan. Suka cita dan gema do’a mulai dipanjatkan.

Kamu menatapku. Kali ini, kamu terlihat lebih lama menatapku. Perlahan dengan begitu lembut, kamu melepaskan seluruh pembungkus tubuhku. Aku rela saja seluruhnya yang membungkus diriku ditanggalkan oleh tangan lembutmu. Pelan-pelan sekali. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kini aku adalah tubuh penutup apapun. Kamu terus memandangku. Dalam ketelanjangan ini, aku merasakan angin membelai-belai tubuhku.

Pada ujung kepalaku, ada satu helai. Dari sana, diriku merasa terbakar. Lalu seiring itu, aku merasa terbang ke atas. Makin lama makin tinggi. Aku mendengar diriku menggemakan suara: tar…tar…tar! Suara itu menggema di langit. Diriku menjadi percikan-percikan kilat di langit yang dalam hitungan detik luruh dan menghilang.

Tapi aku sempat memandangmu sebelum diriku luruh dan menghilang. Kamu tersenyum. Ada air mata yang menggantung di matamu, yang segera luruh dalam do’a-do’a dan harapan untuk memutus rantai kesedihan dengan tahun 2020. Dalam gema-gema letusan dan percikan itu, aku mendoakanmu agar segera bisa melupakan apa yang telah berlalu sebagai kenangan.

Andai kau tahu, aku tak ingin menjadi petasan.
0Comments

Previous Post Next Post

ads