Penulis: Max Tole


*** 

Ini tulisan serius. Bahkan lebih serius dari jurnal di J-Stor itu. Ini adalah ungkapan diri, yang aku yakin mewakili banyak orang yang memiliki profesi yang sama denganku: joki skripsi.

Sampai sejauh ini, aku tak pernah menilik sejak kapan profesi ini muncul. Pada masa revolusi agrikultur dulu, jelas jasa joki skripsi tidak ada. Selain budaya aksara masih belum lumrah, memang petani mana yang butuh dengan jenis manusia yang rela berlelah-lelah menulis hanya demi sesuap makan semacam itu. Tangan lihai penulis joki skripsi jelas tak penting bagi masyarakat yang kala itu profesinya lebih kepada sektor agrikultur.

Jadi paling mungkin, profesi ini muncul pada masa pasca revolusi industri. Di mana, sesuai dengan premis Yuval Noah Harari, pekerjaan mulai bergeser dari yang semula terfokus pada sektor agrikultur, industri, kemudian jasa. Masa itu, tentu saja budaya aksara juga sudah mulai dikenal bahkan sudah lumrah di kalangan manusia di samping budaya komunikasi oral.

Tetapi persetan lah dengan kapan profesi ini mula-mula muncul. Umur profesi joki skripsi nampaknya setua rasa malas dan kebodohan dalam diri manusia. Dua hal yang bagi sebagian orang nampak negatif, tetapi, justru anugerah bagi mereka, para joki skripsi.

Karena jelas mustahil akan muncul profesi ini jika semua manusia pandai dan rajin. Takkan ada jari-jari lentik joki skripsi yang walaupun ogah-ogahan tetap menulis atas nama cuan, jika tak ada kemalasan dan kebodohan dalam beberapa jenis manusia.

Maka, sebagai manusia, marilah kita rayakan segala bentuk ketidaktahuan dan kemalasan yang kita miliki. Bukankah atas dasar dua sikap ini pulalah segala macam teknologi di kehidupan kita ini muncul?

Kita malas berjalan maka muncul kendaraan. Kita malas menghitung maka muncul kalkulator. Kita malas mengingat segala hal, maka muncul komputer dan segala alat untuk menyimpan data penting dalam kehidupan umat manusia. Semua ini berawal dari rasa malas dan kebodohan umat manusia.

Jadi, selain menguntungkan bagi para penulis joki skripsi yang menderita, kebodohan dan kemalasan juga berguna bagi kehidupan kita.

Dalam konteks profesi ini, nampaknya sukar kita berdebat soal apakah ini profesi yang baik, atau justru membawa petaka atas kehidupan umat manusia; apakah ini profesi yang menolong, atau justru menyuburkan kebodohan kepada masyarakat kita.

Jangan dulu berdalil ini termasuk tindakan kriminil atas nama etika jurnalistik atau peraturan perguruan tinggi yang bilang demikian. Jangan! Kita perlu seperangkat filsafat etika yang cukup kompleks untuk membahas perihal ini.

Pasalnya begini, menulis itu bukan perkara gampang. Menulis skripsi apalagi. Jika kita menolak bahwa kemampuan menulis itu taken for granted¸ maka kita nampaknya akan setuju kalau kemampuan menulis itu perlu latihan yang tak sebentar dan membutuhkan waktu yang lama untuk mampu menguasainya. Jadi sangat wajar apabila muncul banyak mahasiswa yang enggan atau kadang memang tak mampu untuk menulis skripsi.

Pun ada pula yang memang karena alasan kerja, sibuk urus keluarga, sibuk urus istri, entah istri sendiri atau istri orang, mereka akhirnya tak sempat menulis skripsi. Maka duhai pembaca yang budiman, di sinilah letak urgensi joki skripsi. Dia bak Sakh Rukh Khan yang menjadi pahlawan dalam film-film bollywood bagi mereka, kriteria manusia seperti yang telah kujelaskan.

Alhasil, kita, para joki skripsi, berada pada posisi yang dilematis: antara baik dan buruk, antara jahat dan tidak. Mayoritas orang menganggap bahwa profesi ini buruk hanya karena ini: kebohongan atas suatu karya. Lha lantas jika memang si joki skripsi tak pernah mempermasalahkan karyanya “dibajak”, kenapa malah kalian yang repot?

Tetapi biarlah. Toh mau dijelaskan bagaimanapun, profesi ini tetap saja dianggap “minus”. Beda dengan profesi yang juga menjual jasa lainnya semisal pengacara. Padahal kita tahu sama tahu bahwa pengacara juga bukan profesi yang absen “minus” jika mau lebih kritis. Kecuali pengacara yang masih memiliki idealisme tinggi (bisa dipastikan pengacara jenis ini miskin dan memiliki hidup yang miris).

Poinnya, hidup sebagai joki skripsi sama sekali tak menarik. Hasilnya pun tak seberapa. Lebih banyak lelah, emosi, serta waktu yang tumpah daripada “gaji” yang didapat. Walau sudah begini, masyarakat tetap saja masih membebani kami para joki skripsi dengan cap-cap tidak baik. Ah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Udah gitu, tangganya besi dan lipet dua pula. Sialan!

Oleh karena itu, jika dulu, filsuf Yunani, yang juga dikutip oleh Soe Hok Gie, pernah berkata bahwa mereka yang paling beruntung di dunia ini adalah yang tak pernah dilahirkan, atau paling banter adalah yang mati muda, maka di jaman industri atau istilah yang lebih kekiniannya di era revolusi industri 4.0 ini, nampaknya manusia yang paling beruntung bukan yang tak pernah lahir atau modar di usia muda, tetapi mereka yang atas berkat dan nikmat Tuhan yang Maha Esa, telah dijauhkan dari salah satu profesi yang dianggap berbahaya setingkat mata-mata: joki skripsi!

0Comments

Previous Post Next Post

ads