Penulis: Deny Pratama


***

Utuy Tatang Sontani, jika dibandingkan dengan sastrawan Indonesia lainnya seperti sekelas Pramoedya, maupun dengan sastrawan lainnya, yang tersohor namanya di masa sekarang. Utuy mungkin kalah pamor. Tapi harus segera ditambahkan di sini: hal itu disebabkan nasib sialnya saja. Namun, bila melihat karya-karyanya, maka segera kita akan mendapati karya sastra yang tinggi. Bahkan Pramoedya Ananta Toer memujinya dengan ungkapan Raksasa Dramaturgi pada masanya. 

Utuy Penjembatan Antara Teater Tradisional dan Modern

Dalam diskusi 100 tahun Utuy Tatang Sontani: Diskusi Teroka bersama Zen Hae dan Zulkifli Songyanan (Toni: literat.my.id, 2020), salah satu sastrawan paling berpengaruh, Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan bahwa Utuy adalah penjembatan antara Teater Tradisional, dan Teater Modern.

Mitos produk masyarakat, Sangkuriang, telah teraktualisasikan dalam karya Utuy dengan judul Sang Kuriang. Juga pada karya ini Utuy menerima tanggapan dari masyarakat modern. Dengan drama librettonya, ia mampu menghidupkan kembali jiwa Sang Kuriang dan Dayang Sumbi dengan pikiran dan paham baru. Sehingga bisa dikatakan produk Utuy ini adalah sebuah tafsir baru yang berbeda dengan mitosnya (Yeni Mulyani Supriatna, 2014).

Perbedaan ini juga bisa dilihat dari sosok Sang Kuriang yang berpikir kritis dalam menghadapi suatu masalah. Segala sesuatunya bisa diterima apabila sesuai dengan akal dan logika berpikirnya. Juga dalam hal ini, masih ada juga hal yang baru, yaitu kontrasnya antara nilai-nilai kepercayaan dengan logika berpikir.

Masyarakat lama yang diwakilkan oleh Dayang Sumbi, yang mana orang lain percaya dengan apa yang dikatakannya. Dan masyarakat baru, yang diwakilkan oleh Sang Kuriang, yang memercayai segala sesuatunya jika sesuai dengan akal dan logikanya. Dan yang tak kalah penting adalah Utuy mengusung individualitas dan kebebasan dalam berpikir juga bertindak.

Utuy Sebelum Dieksilkan

Utuy Tatang Sontani, lahir di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920. Lahir dari keluarga saudagar batik yang sangat kaya. Namun, kekayaan orang tuanya hanya sampai pada Utuy sebagai cerita saja. Hanya kakaknya yang mati muda yang sempat disekolahkan ke Holland Islandse School, sementara dirinya hanya disekolahkan ke sekolah rendah yang jauh lebih murah.

Baru pada saat setelah ayahnya mendapatkan pekerjaan juru tulis di toko arab, ia disekolahkan di Schakel, yang mengajarkan bahasa belanda. Namun, dirinya keluar karena tak tahan dihina oleh guru Belandanya dengan sebutan Inlander malas karena ketidakmampuannya menghafal.

Setelah keluar dari sekolahnya, Utuy tidak mau lagi sekolah. Walaupun ibunya sudah menyuruh dukun agar anak itu dimandikan, usaha itu sia-sia saja. Utuy tetap tidak mau sekolah. Dia hanya mau sekolah di mana ilmu bisa didapat sambil bermain dan tentunya juga tidak ada guru Belanda yang sering memakinya Inlander.

Ketertarikan Utuy terhadap tulis-menulis disebabkan karena dirinya mengenal seorang redaktur dari koran Sinar Pasundan sekaligus paman dari tetangga perempuan yang ditaksirnnya. Semua koran Sinar Pasundan yang datang habis dibabatnya. Mulai dari iklan obat sampai dari tulisan tentang kritikan terhadap pemerintah.

Pertama ia menulis, hanya untuk menggait perhatian perempuan yang ditaksirnya. Ia mengirim tulisan tersebut dengan nama Sontani, karena kekagumannya kepada tokoh Sontani dalam buku Pelarian Dari Digul yang digambarkan sebagai seorang pemberani. Karena keseringannya menggunakan nama itu, Sontani hingga akhirnya disisipkan kepada namanya. Sehingga menjadi Utuy Tatang Sontani.

Setelah Utuy memutuskan untuk pergi ke Jakarta karena kesulitan yang dialami oleh RRI. Dia mengirimkan tulisan-tulisannya kepada Balai Pustaka, seperti Suling dan Bunga Rumah Makan kemudian disusul oleh Tambera (1949), Orang-Orang Sial (1951) dan Awal dan Mira (1952). Pada Awal dan Mira lah yang membuat nama Utuy semakin terangkat sebagai Dramawan, walaupun dirinya juga seorang cerpenis dan novelis.

Utuy juga aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) setelah keluar dari Balai Pustaka. Dan menerbitkan banyak karya-karyanya selama berada di Lekra. 

Utuy yang Dieksilkan

Setelah bergabung dengan Lekra, pada September ia berangkat ke RRC (Tiongkok) sebagai delegasi dari Indonesia untuk berobat karena penyakit livernya. Yang dibantu oleh temannya Dipa Nusantara Aidit yang juga salah satu pemimpin senior dari PKI (Partai Komunis Indonesia).

Namun, nampaknya nasib sial menghampiri dirinya. Mulai dari istrinya yang gagal berangkat bersama dirinya ke Tiongkok pada September 1965 untuk berobat, karena tidak memiliki paspor. Hingga dirinya yang tidak bisa kembali ke Indonesia karena meletusnya G30S/PKI, tiga hari setelah keberangkatannya ke Tiongkok. Tak berhenti di situ, keberuntungan masih belum menemuinya, Utuy harus rela menghembuskan nafas terakhirnya di Moscow pada 17 September 1979, karena tidak bisa pulang ke Indonesia.

Bagaikan tokoh Dimas Suryo dalam novel Pulang karya Laila S. Chudori, nasib Utuy nampaknya masih lebih sial. Jika tokoh Dimas Suryo dalam novel tersebut tidak bisa pulang karena persoalan yang sama dengan Utuy, yaitu karena meletusnya peristiwa G30S/PKI, setidaknya raganya masih bisa pulang ke tanah Indonesia, masih bisa dikuburkan di Indonesia. Sementara Utuy, harus rela menerima nasibnya yang begitu sial, menerima keadaan bahwa raganya tidak bisa pulang. dan harus rela dikuburkan di Negeri orang.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)dan Pegiat Indonesian Culture Academy (INCA_MUDA)

0Comments

Previous Post Next Post

ads