Penulis: Abdullah SP


Saya ingat sewaktu masih awal-awal kuliah. Dengan bangganya mendapat julukan mahasiswa. Dengan kepribadian yang bakal segera tercerahkan oleh terang ilmu pengetahuan. Cara berpikir pun bakal diterangi dengan metode berpikir rasional-kritis. Pada titik ini, kebanggaan tentu berlimpah-limpah.

Tapi ada satu masa di mana cara berpikir kritis yang diterangi ilmu pengetahuan ini membuat kita terjebak pada sejenis arogansi. Dengan memuja ilmu pengetahuan di satu sisi, dan di sisi yang lain kita seolah ‘gengsi’ (dan ‘ogah’) disebut masih lekat dengan mitos-mitos (yang dituduh irasional) membuat kita terjebak pada satu cara memandang kebenaran secara hirarkis: yang rasional mengatasi yang irasional. Yang ilmiah (positivis) mengatasi yang mitos (yang mistis). Dan pada akhirnya dengan berbagai demitologisasi, kita seakan dipaksa untuk mengeliminasi kebenaran yang berasal dari mitos.

Pada titik kepentingan metode berpikir di kampus, sikap seperti ini masih wajar. Tapi sejenis arogansi yang lain yang kadang nampak berlebihan terlihat pada saat kita pulang ke kampung dan memandang remeh pikiran-pikiran orang-orang di sana (di kampungnya masing-masing) manakala cara berpikir, bertindak, berkata, dan lain-lain dari mereka masih diwarnai oleh cara berpikir yang – kita sebut – irasional (sebab tak bisa diterima oleh cara berpikir yang – kita anggap – rasional-ilmiah).

Apakah yang irasional (yang berasal dari mistis atau mitos-mitos) memang sepatutnya kita pinggirkan? Apakah yang rasional-ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran dan yang tak rasional (atau bersumber dari mitos-mitos) sepenuhnya keliru dan tak mendukung bagi kebudayaan masyarakat? Saya jadi teringat dengan salah satu novel “Sang Pengoceh”, yang ditulis Mario Vargas Llosa.

Ada Saul Zuratas. Sosok itu terdidik dan diterangi oleh pendidikan kampus. Cerdas bukan main. Peduli. Juga tak mundur bila harus diajak berdebat. Pokoknya dia punya keistimewaan sebagai sosok jenius. Bila perlu disebut kekurangannya, dia tak tampan. Ada tompel besar yang menutupi separuh wajah sebelah kanannya. Tapi itu tak mengurangi kepercayaan dirinya.

Novel ini bercerita tentang ekspansi modernitas dan pertahanan masyarakat adat yang berada di kedalaman hutan-hutan Amazon. Saul adalah sosok yang peduli dan bersikukuh agar masyarakat adat – bagaimana pun pandangan kita yang modern terhadap mereka – tetap dipertahankan. Dia termasuk yang getol menolak masuknya peradaban-peradaban modern ke dalam masyarakat adat itu. Bahkan dia mencurigai bahwa kebudayaan modern justru bisa merusak kebudayaan mereka yang sudah ada dan terwariskan dari masa ke masa.

Dia bahkan – meskipun dirinya seorang etnolog juga – tidak percaya dengan para etnolog yang punya misi baik dengan memasuki hutan-hutan dan mencoba menginterpretasi simbol-simbol dan kebudayaan masyarakat adat. Apalagi kalau para etnolog yang dibalut dengan cara berpikir ilmiah ini berpikir empati untuk mencerahkan mereka dengan ilmu pengetahuan modern. Bagi Zuratas, biarkan mereka hidup dengan kebudayaan mereka. Biarkan nilai-nilai yang mereka anut, cara berpikir, bertindak, berkehidupan, dan lain-lain tetap dalam terang keyakinan kebudayaan mereka. 

Ada beberapa yang saya tangkap dari Saul Zuratas – sang tokoh utama ini. Pertama, baginya, masyarakat adat di kedalaman hutan Amazone itu hidup dengan cara mereka sendiri. Kebudayaan – betapa pun kita anggap mereka tertinggal – mencukupi untuk kebutuhan kehidupan mereka. Kepercayaan-kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi menunjukkan bahwa kebudayaan mereka punya nilai fungsional bagi mereka. Mengapa kita – kaum yang diterangi peradaban modern – merasa perlu untuk menerangi mereka dengan cara dan kebudayaan kita? Jangan-jangan mereka tidak membutuhkan peradaban modern yang kita tawarkan. Jangan-jangan mereka tak membutuhkan cara berpikir modern yang kita punya saat ini?

Kedua, bila kita memaksakan untuk menyelinapkan peradaban modern kedalam kehidupan mereka – dengan misi kita ingin meningkatkan peradaban mereka, yang terjadi justru adalah proses konversi dari kebudayaan yang mereka punya kepada kebudayaan yang kita punya. Sehingga adat budaya mereka menjadi hilang. Dan akhirnya yang terjadi globalisasi kebudayaan yang monoton dan membosankan.

Ketiga, Saul juga memperingatkan bahwa adat dan kebudayaan mereka – bukan saja mencukupi kebutuhan bertahan hidup mereka. Adat dan kebudayaan mereka jauh lebih harmoni dengan alam. Mereka punya kepercayaan yang lebih ramah pada alam ketimbangan peradaban modern. Justru peradaban modern jauh lebih destruktif kepada alam, jauh lebih kehilangan elemen-elemen spitirualisme, jauh lebih tercerabut dari kepedulian dengan sesamanya. Logika modern yang bertumpu pada rasionalitas tak lebih baik daripada adat kebudayaan mereka (masyarakat adat) itu.

Itulah kritik-kritik yang dilakukan Saul. Maka, ketimbang menjadi dan menjalankan perannya sebagai seorang etnolog yang diterangi pengetahuan modern, yang dilakukan Saul justru menjadi bagian dari masyarakat adat tersebut. Ia resapi nilai-nilai dan cerita-cerita yang menjadi pegangan masyarakatnya. Ia dekati tokoh-tokoh adat yang masih bisa mengingat berbagai nilai dan historisnya. Dan pada akhirnya Saul – dalam kisah itu – menjadi “Sang Pengoceh”. Dia menjadi penyambung cerita-cerita atau mitos-mitos di dalam masyarakat adat itu yang menjadi tempat berpijaknya nilai-nilai.

Dengan membaca Saul dalam Sang Pengoceh, tentu tulisan ini tak hendak memaksa kita – yang berasal dari kalangan kampus (dengan cara berpikir yang diterangi rasionalitas-ilmiah) - untuk menganut keyakinan mereka. Ini hanya semacam refleksi kritis agar kita tak terjebak dalam arogansi cara berpikir yang kita punya saat ini. Supaya kita selalu kritis pada diri (otokritik) bahwa peradaban modern bukan hanya baik tapi juga mengandung aspek-aspek destruksinya. Agar kita saat berjumpa dengan cara berpikir orang-orang di kampung yang masih dipenuhi dengan pandangan yang lekat dengan mitos-mitos tidak lantas membuat kita menjustifikasi mereka sebagai bodoh, terbelakang, tertinggal, udik, ndeso, dan lain-lain. Setidaknya kita tak terjebak pada superioritas cara berpikir modern di atas cara berpikir yang tak modern.

Andai kita pun mau menjadi Saul Zuratas sekali pun mungkin juga tak apa. Bila dibayangkan di masa kini, mungkin dengan menjadi Saul Zuratas, kita bisa menjadi sosok yang mula-mula berusaha mendalami aspek-aspek penting di balik mitos-mitos atau hal-hal mistis yang diyakini warga di kampung, di pedesaan dan kemudian menjadi bagian dari kebudayaan mereka. Kita bisa mendalami sisi historis dari mitos-mitos itu. Kita bisa menyerap hal-hal yang berasal dari nilai-nilai lampau yang menjadi pijakan dari mitos-mitos itu. Dan seterusnya – sebagai Saul – kita bisa menjadi “Sang Pengoceh” yang berusaha untuk terus menghidupkan mitos-mitos itu, menceritakannya kepada generasi ke generasi sehingga nilai-nilai dari adat lampau itu tak hilang.

Bila juga kita tak ingin menjadi Zuratas, setidaknya kita lebih bijaksana dalam memandang cara berpikir yang berasal dari kebudayaan lama, yang lampau, yang banyak masih dipenuhi unsur-unsur mistik, mitos, dan hal-hal yang tak sejalan dengan semangat rasional-modern lainnya. Kita mungkin tak percaya bahwa pohon-pohon punya perasaan seperti manusia, seperti sedih, bahagia, dan perasaan lain-lain. Tapi setidaknya di balik keyakinan itu, orang-orang adat menjadi tak mudah menebang pohon. Kita mungkin tak percaya bahwa lingkungan hidup dan mahluk-mahluk non-manusia tak punya perasaan seperti kita, tapi setidaknya dengan kepercayaan itu, kita menjadi peduli dengan lingkungan, kita peduli agar tak membuat kerusakan, agar tak sepenuh-penuhnya mengeksploitasi untuk kepentingan kita.

Singkatnya, bila pun kita tak percaya ada kebenaran dalam keyakinan kebudayaan masyarakat yang diterangi oleh mitos-mitos atau unsur-unsur mistis lainnya, setidaknya kita bersikap bijaksana bahwa kenyataan mereka hidup harmonis dengan lingkungan, dan kebudayaan mereka mencukupi kebutuhan mereka untuk bertahan hidup.
0Comments

Previous Post Next Post

ads