Penulis: Fauzan Nur Ilahi

Gambar: Nawala Karsa



Sebuah pengantar santuy untuk novel Dazai Osamu yang bisa dibaca sambil menertawakan kejenakaan bila kalian menemukan diri dan kesamaan dengan tokoh di cerita ini.

2 Januari 2021

Sebelumnya aku mengira, bahwa Edgar Allan Poe adalah penulis yang paling "gila" dalam imajinasi. Rangkaian cerita dalam kumpulan cerpen "Kucing Hitam" sontak membuat kepalaku nyeri: "Bisa-bisanya ada manusia dengan imajinasi "sekejam" ini", pikirku. Namun ternyata manusia sejenis Poe tidak hanya satu. Beberapa hari lalu, aku, dengan perantara seniorku, dipertemukan dengan salah satu novel Jepang berjudul "Gagal Menjadi Manusia" versi terjemahan Asri Pratiwi Wulandari. Nama penulisnya adalah Dazai Osamu.

Novel tipis yang sekitar 150-an halaman ini membuatku ketagihan membaca. Aku tak ingin berhenti sekaligus ingin berlama-lama membacanya. Plot yang sebetulnya tak rumit-rumit amat namun menyajikan beberapa ledakan berupa gugatan terhadap paradigma umum semisal moral, kebaikan, dosa, kemanusiaan, adat, dan kebanalan aktifitas manusia, dibalut dengan terjemahan yang tak bikin pusing, membuat novel ini menarik untuk dibaca.

Osamu, sama seperti Poe, pandai memilin cerita tragedi. Bedanya mungkin Osamu tak "sekejam" Poe dalam menggambarkan adegan mata kucing yang dicungkil, tubuhnya dipotong kecil-kecil hingga kemudian disemen seperti dalam kumpulan cerpen "Kucing Hitam"-nya Poe. Osamu lebih menjadikan tragedi sebagai media olok-olok terhadap konsep-konsep dalam masyarakat yang kadangkala justru mencekik individu dalam masyarakat itu sendiri.

Osamu bahkan sejak halaman-halaman awal, sudah menyoal tentang apa itu penghormatan? Mengapa manusia harus saling menghormati? Mengapa manusia suka sekali dengan kerumitan? Mengapa manusia lebih memilih berbohong daripada harus bermusuhan? Osamu menyoal semuanya. Bahkan hingga pada persoalan lapar yang dalam novel ini, Si Tokoh Utama mengaku tak pernah mengerti apa sebetulnya definisi "lapar" itu.

Selain perenungan keras dan dialektika dengan diri sendiri, dalam novel ini kita juga akan banyak menemukan aneka adegan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan anugerah, namun bagi Si Tokoh Utama adalah petaka yang tak kunjung usai.

Anugerah disukai banyak perempuan, misalnya. Hal ini mungkin akan menjadi kuntungan bagi para kaum lelaki, terlebih bagi para hidung belang. Tetapi coba bayangkan apabila "anugerah" ini didapatkan oleh manusia yang merasa jijik terhadap manusia lain; Manusia yang takut berhadapan dengan manusia lain karena menganggap manusia adalah makhluk rumit dan sukar dipahami sehingga berjumpa dengan mereka adalah sebuah siksaan belaka. Bukankah "anugerah" ini hanya akan menjadi pemberian tak berguna bahkan menakutkan?!

Oleh karena itu, alih-alih menikmati anugerah ketampanan yang akhirnya juga mengundang ketertarikan banyak perempuan, atau melimpahnya harta benda keluarga serta kecerdasan yang ia punya, Si Tokoh Utama justru jatuh dalam kubangan penderitaan tak berujung. Mulai dari kegetiran dalam berhadapan dengan manusia lain, percobaan bunuh diri yang gagal, ketergantungan terhadap rokok, alkohol, dan morfin, dijebloskan ke rumah sakit jiwa, sampai harus terpaksa melihat pasangannya diperkosa lelaki lain tanpa mampu berbuat apa-apa.

Selain rangkaian tragedi tak terhingga, novel ini juga mengajak kita bertanya, betulkah konsep "manusia" yang bukan dilihat dalam perspektif biologis sudah sepenuhnya benar? Atau sebuah lautan bernama masyarakatlah yang telah dengan lancang menyusun konsep manusia dengan segala atribut wajibnya yang akhirnya dalam novel ini membuat Si Tokoh Utama mendapat celaka berlipat-lipat?

Ini pertanyaan yang tak selesai hanya dalam jangka waktu satu batang rokok. Perlu refleksi dan perenungan yang cukup panjang untuk menjawabnya.

Membaca novel ini, juga mengajakku kembali mengingat eksitensialisme, salah satu cabang dalam kajian filsafat yang banyak menyoal perihal ontologis. Salah satunya tentu saja tentang manusia. Dalam salah satu premisnya, eksistensialisme (pada beberapa tokohnya semisal Heidegger dan Nietzsche yang dalam nihilismenya masih kental aroma eksistensialisme) melihat kehidupan sebagai sebuah ironi.

Bayangkan, sejak lahir kita sudah diintai dengan kematian. Belum lagi kita juga -- atas nama konsep "manusia", mau tidak mau harus memenuhi seluruh tanggungjawab moral agar tak dicap sebagai manusia yang gagal. Padahal jika kita cermati, memangnya standar manusia yang utuh itu seperti apa? Siapa yang berhak membuat kriteria semacam itu? Jika kriteria itu memang ada, lantas mengapa di setiap daerah kriteria itu selalu berbeda? Duh, betapa melelahkannya...

Singkatnya, hidup akhirnya bukan sebuah pilihan. Tetapi sebuah keterlemparan. Kita tak memiliki ruang untuk memilih antara mau lahir, atau tidak. Kita hanya tiba-tiba hidup, dan dipaksa mengisinya.

Kita, misalnya, untuk mengendus aroma eksistensialisme bisa mengacu pada kutipan kalimat di bawah ini, yang mana Si Tokoh Utama mendefinisikan hal-hal yang menurut common opinion sebagai kewajiban, tetapi justru ia melihatnya sebagai aktifitas atau konsep yang membuat ruwet belaka. Osamu menulis:

"Aku sendiri terjerat oleh ketakutanku pada dunia, hal-hal menyusahkan seperti uang, kelompok gerakan, perempuan, sekolah, yang semakin kupikir, semakin membuatku yakin akan ketidakmampuanku untuk bertahan lebih jauh. Maka dari itu, aku terima tawarannya tanpa beban (untuk bunuh diri, penulis)", (hal. 74).

Atau pada halaman lain, Osamu juga menulis:

"Keburukan dan dosa memangnya beda?"

"Beda, kupikir. Konsep baik-buruk itu buatan manusia. Istilah moral yang manusia buat seenaknya." (hal. 124).

Aku sendiri tak tahu apakah ada relasi antara Osamu dan filsafat eksistensialisme. Mungkin perlu banyak bacaan lagi mengenai karya-karya Osamu untuk mengukur asumsi ini. Mengenai mengapa Osamu banyak menyoal tentang konsep manusia, adat, moral, tanggungjawab, dosa, dan yang lainnya, agaknya hal ini kita bisa lihat dari latar belakang Si Penulis.

Kita tahu bahwa Osamu adalah penulis berkebangsaan Jepang. Dan di Jepang, adat, moral beserta seluruh tetek bengeknya cukup kental. Sehingga sangat maklum apabila Osamu melahirkan novel yang memuat berbagai gugatan yang demikian.

Daya pikat novel ini juga pantas dilihat dari proses penerjemahan yang, menurutku, sangat baik. Kita pantas angkat topi pada Asri Pratiwi Wulandari sebagai penerjemah novel ini.

Terakhir, sebagai penutup catatan pengantar buku yang sederhana ini, nampaknya aku ingin menyodorkan sebuah tanya kepada kita semua: Sudahkah kita seutuhnya menjadi manusia? Atau kita semua sejatinya telah gagal menjadi manusia?

Sekian. (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

ads