Penulis: Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera Maluku Utara)


Cinta adalah rasa suka atau ekspresi subjek terhadap subjek lain yang melampaui rasa suka. Atau rasa sayang melampau rasa-rasa yang lain, terhadap seseorang atau persona otonom. Cinta adalah tujuan kebahagian persona yang diartikulasikan dalam sikap rela berkorban, kejujuran, keikhlasan, pengorbanan dan pengertian.

Mencintai adalah ekspresi sikap yang harus ditunjukan di antara persona otonom tadi melalui penghargaan eksistensinya untuk persona yang dicintai. Bahwa sesungguhnya cinta adalah hadiah tertinggi Ilahi terhadap ciptaan-Nya yang bereksistensi sebagai wujud keterberiannya. Karena itu setiap persona yang saling mencintai harus didasari pada kesadaran yang disaring melalui hakikat struktur tertinggi manusia yaitu rasio. Rasio adalah saringan tertinggi yang menghasilkan tindakan.

Platon menjelaskan bahwa di dalam struktur manusia terdapat tiga tahap yang membentuk kesadaran manusia sebagai persona otonom: 1. Struktur Rasio; 2. Struktur Thumos; dan 3. Struktur Ephitumia

Bahwa manusia sebagai persona yang diilhami melalui anugerah tertinggi Ilahi, maka dalam praktik mencintai persona lain haruslah didasarkan pada rasio sebagai struktur tertinggi manusia. Bukan pada struktur kedua atau ketiga yaitu Thumos dan Ephitumia.

Thumos adalah struktur manusia yang bicara soal kehendak. Karena itu, cinta yang didasarkan pada struktur kehendak adalah mencintai tetapi harus ada asas manfaat. Karena itu persona yang mencintai yang didasarkan struktur thumos, di mana persona yang dicintai harus bertubuh seksi, punya mobil, atau punya uang.

Sementara cinta pada struktur Ephitumia di mana cinta kepada persona lain didasarkan pada kehendak naluri atau napsu. Bahwa napsu adalah alasan hakiki cinta kepada persona lain sebagai objek pelampiasan naluri.

Argumentasi rasional yang sahih untuk menegaskan cinta yang didasarkan pada rasio sebagai pijakan mencintai adalah penghargaan, pengorbanan, kejujuran dan keiklasan bahwa persona yang dicintai, apapun keberadaannya atau eksistensinya haruslah dilihat sebagai ekspresi otonom sebagai wujud menghargai tanpa ada dominasi ke-aku-an di dalam persona yang dicintai.

Jika mencintai, maka kesadaran dan penghargaan terhadap eksistensi persona yang otonom dihargai sebagai sebuah kebebasan ekspresi. Artinya kalau bilang cinta, apapun keberadaannya harus dihargai dan dihormati karena eksistensinya (keterberiannya).

Seperti pacarmu meminta bertemu dengan teman-temannya atau pergi ke acara perkawinan temannya, harus ada seijin kamu, ke mana-mana harus sepengetahuan kamu dengan alasan cinta atau mencintai. Bukankah cinta haruslah dihargai sebagai wujud eksitensinya yang otonom? Kalaupun pacarmu pergi ke acara temannya, lalu anda mengatakan jangan, nanti kamu bisa “cinlok” dengan mantanmu, atau jangan, lebih baik bersama saya saja di kos, atau di rumah saja. Jika demikian yang terjadi, maka itu bukan cinta terhadap pacarmu, tetapi itu namanya mencintai dirimu sendiri. Karena terlalu cinta dirimu sendiri, semuanya harus didasarkan pada pertimbangan dirimu sendiri. Tidak ada lagi penghargaan, tidak ada lagi rasa percaya, dan tidak ada lagi keikhlasan.

Cinta yang tanpa ada nilai penghargaan, pengorbanan, kepercayaan, dan keikhlasan adalah cinta diri sendiri, di mana cinta dijadikan alasan mendasar mengikuti semua maumu dan laku ke-aku-an menjadi dominan. Cinta itu eksistensialisme, mencintai berarti menghargai, menghormati, dan percaya bahwa persona yang kita cintai adalah persona yang bereksistensi otonom.

Percaya, menghargai dan keikhlasan bahwa di mana pun persona yang kita cintai berada dia selalu ada dalam eksistensi dan kebebasannya dan ekspresinya adalah sikap yang otonom yang harus dijunjung tinggi. Karena itu Platon mengatakan bahwa cinta adalah pengetahuan tertinggi.

Bayangkan jika manusia hidup tanpa ada cinta? Maka kedamaian dan keadilan tidak akan diusahakan sebagai jalan juang ziarah manusia di muka bumi ini. Semoga kita mampu mencintai sekaligus bereksistensi secara otonom sebagai wujud keterberian kita dari sang pengada. Semoga.
0Comments

Previous Post Next Post

ads