Cerpen Ben Yowes


Tiap dini hari, saat mataku seakan terasa dilem, dan tubuhku seakan terikat pada ranjang tidur yang terbuat dari kayu, dengan alas anyaman bambu, di tengah dunia yang masih diselimuti kegelapan, di luar rumah sudah terdengar kesibukan. Saking seringnya, sampai aku tidak perlu bangun untuk memastikan siapa yang sedang sibuk itu. Nenek telah menjadikannya itu sebagai rutinitas.

Tapi sesekali aku penasaran. Aku berusaha membuka mata, dan perlahan melompat dari tempat tidur. Aku berjalan ke luar rumah, dan mengikuti kesibukan nenek.

“Sudah bangun?”, tegur nenek dari arah sumur. Ia sedang menimba air. Tangan tuanya nampak masih kuat untuk menarik timba dengan beban air dari kedalaman sumur. Katrol kerekan timba berderit-derit seiring dengan tarikan dan beban air dari timba di sumur. Di musim kemarau, air sumur makin dalam. Maka tentulah semakin berat bagi nenek untuk mengisi bak di kamar mandi.

“Iya”, jawabku ringan. Aku berjalan ke arah sumur. Tanpa diminta, aku ambilalih peran menarik air dari sumur. Tali penarik itu rupanya sangat kasar di tangan. Kepalan tangan yang kuat pada tali itu, dengan beban air yang begitu kuat untuk ditarik ke atas, membuat tanganku jadi terasa sakit. Aku hanya kuat beberapa kali saja menimba air.

Nenek tersenyum melihatku meringis, menahan sakit di telapak tangan. Sambil mengambil alih lagi menarik air dari timba di sumur, muncul berbagai ceramah dari mulut nenekku. “Dasar anak sekarang. Cuma naik air dari sumur saja sudah ngeluh”. Aku tersenyum-senyum malu.

“Biar aku bantu yang lain saja nek”. Air yang sudah dituangkan dari timba sumur ke wadah khusus, sebagian aku bawa untuk mengisi bak kamar mandi. Setelah bak kamar mandi penuh, aku disuruh nenek untuk mengecek gentong di depan rumah, di dekat jalan.

“Yang satu sudah hampir habis. Satunya lagi masih sisa setengah”. Nenek lanjut menarik air lagi dari sumur. Dituangkan ke wadah khusus. Aku angkat wadah air itu dan dituangkan ke dalam gentong. Begitulah kehidupan nenekku tiap pagi. Nenek ingin agar gentong-gentong itu selalu penuh setiap hari.

*

Saat usia nenekku semakin tua, dan ia tak lagi kuat menimba air di sumur, tak lagi terdengar kesibukan di pagi-pagi buta. Tak ada lagi derit dari katrol keret air di sumur. Tak ada lagi suara ‘gembyuar’ air dari timba ke wadah bak mandi atau gentong di jalanan. Tak terdengar lagi kecipak-kecipuk jejak kaki nenek yang tanpa sandal menjejaki tanah-tanah yang becek di depan rumah.

Hari-hari semakin sunyi. Tak terlihat lagi orang-orang yang berdiri di jalan depan rumah untuk sekedar sebentar mengobati haus. Tak terdengar suara orang-orang yang meminta izin untuk minum. Gentong-gentong itu kehilangan auranya. Semakin lama semakin terlihat tak terurus. Kehilangan fungsi sosialnya sebagai wadah penyedia air.

Gentong-gentong itu seakan makin tak semangat untuk hidup. Bagian-bagian luar, kena terik matahari, sedikit demi sedikit terkelupas. Aku sendiri tak ada keinginan untuk mengisinya lagi. Apa yang di pikiran nenek tak ada dalam pikiranku. Maka aku biarkan saja gentong-gentong itu terabaikan.

Gentong-gentong itu tetap terabaikan sampai ajal menjemput nenekku.

*

Selama seminggu kematian nenek, tiap malam aku tidak bisa tidur. Aku merasa nenek masih berada di sekitar rumah. Kadang ia berdiri di dapur. Kadang di pintu rumah. Kadang ia duduk di dekat sumur. Dan pernah juga sesekali ia seakan mengecek gentong-gentong itu. Seminggu berlalu. Kejadian itu berlalu.

Aku kembali bisa merasakan hidup seperti biasa. Malam-malam tidur dengan tenang. Tapi di hari ke-40 dan 100 dari kematian nenek, aku bermimpi nenek berada di dekat sumur. Ia menimba air untuk kamar mandi dan gentong-gentong di pinggir jalan. Mimpi itu muncul kembali di hari-hari yang lain. Hari ke seribu. Setahun.

Seorang paranormal memberitahuku: “nenekmu ingin kamu menggantikan perannya, menimba air itu”. Tapi kenapa nenek tidak mengatakan padaku sewaktu dia masih hidup, pikirku. Tapi segera aku tepiskan itu. Kalau memang itu yang diinginkan arwah nenekku, maka aku akan melakukan tugas itu. Aku akan menggantikan peran nenek.

*

Di luar rumah, dari jalan dekat gentong, ada orang teriak-teriak. Aku terbangun. Rupanya aku kesiangan. Aku segera meloncat dari ranjang tidur dan bergegas keluar. Tak ada orang. Siapa gerangan mahluk yang memanggil-manggilku tadi? Aku masih tak percaya ada hal aneh di siang hari. Aku berjalan keluar ke arah gentong. Menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan di sepanjang jalan, ada seseorang yang baru saja lewat. Ternyata tak ada.

Saat aku berbalik hendak kembali masuk ke rumah, terdengar langkah seseorang.

“Izin saya mau minum ya”, aku hendak bilang kalau… tapi orang itu sudah minum dari gentong itu. Ia lalu tersenyum dan berterima kasih sambil mendoakan agar aku dan semua keluargaku baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal sama-sama diberkati Tuhan dan mendapatkan tempat yang baik di singgasana-Nya. “Aminnnn”. Orang itu melangkah pergi.

Belum lama lagi, seseorang datang lagi. “Keluarga ini luar biasa. Aku pikir setelah nenek meninggal, gentong-gentong ini bakal kering, eh ternyata kebaikan keluarga ini mengalir terus. Terima kasih ya”. Ia segera pergi lagi.

*

Suatu pagi, aku terbangun sekitar jam tiga dini hari. Tidurku terusik oleh kesibukan di luar rumah. Aku menduga ini pasti ada kaitannya dengan gentong itu. Aku menebak arwah nenek masih bergentayangan dan mengisi sendiri gentong-gentong yang diisi oleh air. Begitu aku membuka pintu, aku tak melihat nenek. Aku kitarkan seluruh pandang ke sekitar rumah, tak ada nenek.

Aku maju selangkah. Lalu duduk di teras rumah memandangi pagi dini hari yang masih diselimuti kabut dan kegelapan. Rupanya aku baru sadar, nenek duduk di sampingku. Ia tak berbicara. Menatap lurus ke depan. Katrol keret air di sumur itu menarik timba air sendiri dari dalam. Gentong-gentong bergerak dari jalan ke sumur untuk dituangi air dari timba. Setelah penuh, gentong itu kembali ke jalan.

Nenek menatapku dan tubuhnya tiba-tiba terbawa angin. Aku mengikut pemandangan itu hingga dia seutuhnya tiada. Ada yang tersisa dan seakan menggema-gema di pikiranku: “kebaikan tak boleh tiada, sekecil apapun itu”.

Aku terkejut. Rupanya aku terbangun kesiangan lagi. Aku segera berlari ke jalan. Gentong-gentong itu rupanya kering. Tak ada air apapun.

0Comments

Previous Post Next Post

ads