Penulis: Robinsons H. Balamau


Sejarah panjang perjuangan kemerdekaan dari masa penjajahan koloniali Belanda-Jepang dan pada akhirnya Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya, adalah bentuk dari rasa cinta yang lahir dari jiwa setiap pejuang di kala itu. Rasa cinta yang besar membawa maju semangat perjuangan meski-pun darah dan air mata yang menjadi saksi perjuangan. ”Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya merebut kemerdekaan tanpa cinta”, demikian sepenggal kata W.S Rendra.

Kurang lebih 4 tahun sejak kemerdekaan diproklamasikan, barulah kedaulatan bangsa Indonesia diakui oleh negara lain. 10 Januari 1950, dibentuklah tim Lencana Negara yang bertugas mencari, membuat dan menyeleksi usulan lambang negara. Dari usaha yang dilakukan oleh tim Lencana Negara, lahir dua usulah dari Sultan Hamid II dan Moh Yamin tapi ditolak Soekarno karena menggambarkan bangsa Jepang. Setelah beberapa penyempurnaan, dan beberapa masukan dari Soekarno dan kemudian Moh Hatta, terciptalah Garuda Pancasila. 11 Februari 1950, Garuda Pancasila resmi disahkan. 15 Februari 1950, Garuda Pancasila diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia di hotel Des Indes.

Beberapa saat kemudian, Soekarno melihat gambar Garuda Pancasila masih mirip dengan lambang Eagle milik AS. Kemudian dia menyuruh seorang pelukis (Dullah) untuk menambahkan sebuah pita yang dicengkeram oleh Garuda, dengan bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Mengapa harus Bhinneka Tunggal Ika?

Bangsa Indonesia mulai dari Sabang (Sumatera) sampai Merauke (Papua) dikenal sebagai masyarakat plural, yang beragam ras, suku serta agama. Dari sini, kita bisa memahami mengapa “harus Bhinneka Tunggal Ika” yang memiliki arti “Berbeda-beda tapi satu” yang sesuai dengan isi sumpah pemuda. Semangat persatuan ini yang kemudian jadi ruh perjuangan seluruh pejuang kemerdekaan. Semangat ini juga mengubah paradigma konservatif masyarakat Indonesia yang pernah menginginkan negara ini menjadi negara khilafah (negara islam).

Representasi Pancasila mulai terlihat nyata dengan adanya keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mulai dijunjung tinggi dengan membangun budaya gotong-royong dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masih terjadi. Secara teoritis, Pancasila sangatlah relevan bagi masyarakat Indonesia yang dengan keberagamannya. Tapi lagi-lagi, mengutip apa yang disampaikan oleh Gus Dur ( presiden ke III) yang mengatakan bahwa di era neoliberalisme, yang menjajah bangsa Indonesia bukan lagi bangsa asing (orang yang berambut pirang) tetapi yang menjaja bangsa Indonesia adalah orang-orang Indonesia itu sendiri”. Ini yang kemudian ditegaskan oleh Bung Karno bahwa “Revolusi Belum Selesai”.

Pancasila sebagai dasar serta pedoman berbangsa dan bernegara dituangkan dalam konsitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus taat serta melaksanakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam proses penerapan Pancasila beserta nilainya, setiap wilayah yang ada di Indonesia memiliki simbol kebudayaan/adat yang sangat relevan dengan Pancasila. Salah satunya adalah”HIBUALAMO”. Hibualamo merupakan lambang dari kabupaten Halmahera Utara yang ada di provinsi Maluku Utara. Secara geografis, Halmahera Utara memiliki 17 kecamatan dan 196 desa. Dalam kehidupan masyarakat Halut, masih terbilang harmonis meski memiliki ragam suku (Tobelo, Galela, Loloda, Tobaru, Modole, Pagu, Boeng, dll). Dalam penetapan lambang kabupaten, tidak serta merta hanya sebatas ada saja (formalitas) akan tetapi memiliki sebab-akibat penetapan layaknya penetapan lambang Negara.

Kenapa Hibualamo?

Setiap suku memiliki rumah adat yang berbeda-beda. Misalnya Galela (Bangsaha) , Tobelo (Halu), Loloda (salu) yang fungsinya sama sebagai tempat pertemuan. Tapi hanya berukuran kecil karena hanya untuk masyarakat setempat. Untuk menyatukan beberapa suku yang ada di Halmahera Utara, dibuatlah Hibualamo sebagai tempat pertemuan masyarakat Halut dengan tidak menghilangkan simbol sukunya masing-masing.

Jika esensi Pancasila adalah persatuan, sama halnya juga dengan Hibualamo. Hibualamo diambil dari penggalan kata Hibua-lamo yang berasal dari bahasa Tobelo yang artinya sibua/rumah besar. Jika kita menelaah makna kata dari cerita, Hibualamo adalah sebuah tempat berkumpulnya masyarakat yang ada di kabupaten Halmahera Utara baik dalam acara adat maupun pertemuan penting lainnya.

Selain dari itu juga pada tahun 2001, Hibualamo disepakati menjadi simbol rekonsiliasi (perdamaian) antara umat muslim dan Kristen yang ada di Halmahera Utara pasca konflik horizontal pada tahun 1999-2000. Itu artinya apa? Relevansi antara nilai Pancasila dan Hibualamo memiliki kesamaan nilai. Yang membedakannya adalah: Hibualamo hanya disimbolkan di Halmahera utara. Tapi tidak hanya sebatas itu, berkat berbagai usaha yang dilakukan oleh tokoh budaya Halmahera utara beserta pihak terkait lainnya, Hibualamo kemudian diakui oleh dunia dan menjadi salah satu warisan budaya dunia yang ada di Indonesia. Sedangkan Pancasila menjadi pedoman berbangsa dan bernegara.

Masyarakat Halmahera utara sangat menjunjung tinggi nilai Hibualamo karena dalam perspektif lain Hibualamo memiliki keunikan tersendiri baik nilai, bentuk serta filosofinya.
0Comments

Previous Post Next Post

ads