Cerpen Nandi


Cinta datang dengan pelan-pelan, lewat teks-teks yang diam, lewat suara, dan akhirnya gerak mata yang mengisyaratkan cinta yang lebih dalam.

“Tuh fotonya”.

Kawanku mengirimkan dua buah foto perempuan itu. Begitu aku buka, pertama-tama kesan yang muncul adalah… aku tak bisa membahasakannya. Aku takjub. Tertegun. Berkali-kali aku terdiam dan memandangi kedua foto itu. Aku tenggelam dalam lautan keindahannya. Wajah yang manis. Anugerah sepasang mata yang indah. Di sekitar bibirnya, ada garis senyum yang membuat aku tertawan dalam penjara keindahannya. Dalam beberapa menit, aku terjebak dalam dunia yang dihuni para bidadari. Dan Tuhan yang begitu baik mengirimkan satu untukku. Betapa beruntungnya aku…bila…tapi…!

Spontan yang meluncur dari diriku adalah kekhawatiran: “aku ga berani kenalan”. Dan tiba-tiba berkelebat dunia yang tak menarik yang muncul dari kisah kelamku. Dalam dunia percintaan, aku sudah merasakan begitu banyak penolakan. Tentu aku tak memasukkan bagian-bagian yang sekedar cinta yang kekanak-kanakan. Di sini yang aku maksud cinta yang serius, yang mengajak pada jenjang yang lebih tinggi, dalam komitmen seumur hidup, sehidup semati. Kedatangan dua buah foto bidadari ini membawaku pada persimpangan, campuran senang dan khawatir. Pertanyaan-pertanyaan getir menyelinap di antara persimpangan itu: apakah Tuhan mengirimkan bidadari ini untuk menggenapkan kisah-kisah pedihku? Apakah bidadari ini akan jadi yang kesekian yang akan membawa pesan bahwa aku ditakdirkan untuk menerima dengan sabar kesendirian ini?

Tuhan segera merespon lewat utusannya. “Coba saja dulu, kaan kali aja cocok”. Aku mendesah dengan sedikit lega. Ada harapan yang sedikit menyelinap dalam pikiran was-wasku. Aku segera membenahi pikiranku yang kacau. Memori-memori kelam masa silam yang tak seharusnya jadi penghambat untuk jalan mendekati bidadari ini, perlahan kusingkirkan. Kusimpan dalam kotak waktu masa lalu. 

“Barangkali aku tak akan lupa, tapi semoga kenangan kelam tak menghambatku membangun cerita yang lebih indah”, kataku dalam hati meyakinkan.

“Ini nomor dia yang satunya, yang kemarin ga aktif. Nanti kalo dia udah pulang dari pesantren (liburan), aku kasih tau kamu”, dan dia menambahkan, “kamu langsung chat dia yaa”. Aku jawab. Ok.

*
Beberapa minggu kemudian, sebuah pesan menghampiriku.

“Dia lagi ada di rumahnya, kemarin pulang dari pondok, langsung chat saja yaa..."

Aku spontan menjawab: “mau chat apa yaa...”. Di antara jawaban ini, pikiran berkelana lagi mencari di mana kiranya kutemukan kalimat pembuka yang baik. Aku bisa saja chat sembarang saja. Tapi segera aku timbang-timbang lagi. Ini soal kesan-kesan pertama. Jadi aku harus menemukan kalimat yang tepat. Oh Tuhan, betapa sulitnya memulai ini.

“Gimana ntar klo ga dibales…?”, jawabku lagi diselingi dengan emoticon tawa. Ya tawa. Tapi itu tak mewakili apa yang ada di dalam pikiranku. Aku tak bisa tertawa dalam suasana ini. Bayangkan aku mau memulai menghadapi bidadari.

Lagi-lagi malaikat ini menumbuhkan semangatku. “Ya elah, chat saja, pasti dibales kok”. Pasti dibales. Pasti dibales. Kuulangi kalimat itu seperti mengulangi sebuah mantra sembari meyakinkan diri dengan kata-kata: ya, ya, pasti dibales. Dan di antara kata-kata itu, jemariku mulai bergerak di atas papan layar ponsel, menitik-nitikkan pada bagian huruf berbentuk pola qwerty. Aku pastikan dengan sangat hati-hati untuk menghindari typo. Kuberhenti sejenak. Berkali-kali. Membaca berulang-ulang sebelum akhirnya yakin untuk mengirimkannya.

Begini kalimat itu: “Assalamu’alaikum, aku …. boleh aku mengenalmu?”. Lihat, ini hanya beberapa potong kata. Tapi aku memikirkannya lama. Kutunggu responnya dengan detak jantung yang seakan sedang mengikuti lomba lari. Berdetak cepat. Dag-dig-dug.

“Boleh, ini … siapa ya? Dapat nomor aku dari siapa?”. Pertanyaan ini terasa seperti sebuah interogasi. Aku mengambil jeda sejenak untuk membalasnya. Kalimat yang tepat semacam apa yang menunggu di pikiranku. Ayo, ayo, datanglah kalimatku.

“Aku…, aku udah add FB kamu. Tapi belum dikonfirmasi”, dan kata-kata itu yang meluncur. Aku ragu barangkali ini bukan balasan yang tepat. Kekeliruan kata bisa membuatnya tak yakin, dan akhirnya… oh Tuhan. Tapi aku dengan segenap keberanian yang tak kokoh menambahkan sebarisan kalimat lagi: “soal nomor hape, nanti aku jelaskan jika sudah saatnya”. Sudah saatnya? Aku menimbang-nimbang lagi kalimat ini dan bertanya-tanya, apa maksud dengan kalimat “sudah saatnya”. Aku bingung dengan diriku sendiri mengapa kalimat yang tak karuan ini yang muncul. Balasan semacam apa yang akan muncul dari perempuan itu.

“Oke gak apa-apa”, singkat sekali. Begitu singkat untuk seseorang sepertiku yang berharap bisa berlama-lama dengannya.

Setelah tiga hari, aku semakin yakin Tuhan tak sedang mengirimkan pesan untuk menggenapkan kesendirianku. Sebaliknya, ini seperti titik balik. Tuhan mengirimnya untuk menguji komitmen cintaku. Apakah do’a-do’aku selama ini berasal dari hati atau sekedar harapan yang terburu-buru? Aku berbaik sangka, apapun yang datang hari ini, tentang perempuan itu, adalah anugerah dari Tuhan.

Dalam tiga hari yang tak membuat kami lelah, aku ngobrol dan telponan lewat whatsapp. Di hari ketiga, pagi-pagi, dia mengirimkan pesan: “Aku mau balik ke pesantren hari ini, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Sesuatu? Apakah itu berarti… aku menunda dulu harapan-harapan yang terlampau tinggi.

“Iya silahkan. Dengan senang hati”, jawabku dengan dag-dig-dug, harap-harap cemas. Kadang ingin rasanya segalanya segera menjadi terang. Dan kata sesuatu 'seolah' menyelinap sebagai teka-teki. 

“Boleh video call?”

“Sangat boleh”, betapa bertambah-tambah kegiranganku, dan spontan lagi-lagi aku mengutarakan beberapa kalimat yang sangat jujur. “Sebenarnya aku juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama. Tapi aku takut kamu menolaknya”.

“Aaah kamu kenapa ga bilang dari tadi, sampai aku yang mengajukan pertanyaan lebih dulu. Aku seperti perempuan macam apa, ngajak laki-laki VC duluan”, jawabnya agak jengkel bercampur perasaan malu. Tapi sejatinya kita berdua bahagia. Karena diam-diam, di kedalaman hati yang paling dalam, ada satu kesamaan ingin: sama-sama tak sabar untuk saling mengobrol lebih dekat, dengan keakraban yang lebih kuat. Video call WA membuat kita seakan hanya dipisahkan oleh dinding transparan, di mana masing-masing sepasang mata kita bisa saling bertatapan, saling mencari pengertian di lorong-lorong kedua mata kita untuk memastikan di mana letak kejujuran dari cinta yang sedang bersemi di antara kita.

Aku tak tahu apakah bagian kalimat terakhir tentang cinta yang mulai tumbuh merupakan kalimat yang tepat. Tapi Tuhan yang baik pasti memiliki rencana-rencana yang terindah untuk kita lewati. Ini adalah video call pertama kami. Dan akhirnya aku mulai menyimpulkan: cinta datang dengan pelan-pelan, lewat teks-teks yang diam, lewat suara, dan akhirnya gerak mata yang mengisyaratkan cinta yang lebih dalam.
0Comments

Previous Post Next Post

ads