Cerpen oleh Nandi

“Aku hanya seorang perempuan dari keluarga yang sederhana. Dididik dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang cintanya begitu melimpah. Aku telah berjanji sepenuh hati bahwa bila suatu saat datang cinta dari seseorang yang mencintaiku, maka hanya restu mereka yang akan membuat hatiku mau menerima cintanya”.

Perempuan itu masih dalam balutan mukena. Ia terbangun di sepertiga malam dan tenggelam dalam munajat kepada Sang Pemilik Alam dan seisinya. Di hadapan Dzat yang Maha Kuasa, ia ceritakan seluruh kegaduhan hatinya. Ia ceritakan tentang cinta yang melekat dalam perasaannya. Cinta yang baru saja datang, tapi seakan begitu mudah menyelinap dalam hatinya. Seakan ia lupa menutup pintu hatinya, dan cinta itu masuk begitu saja.

“Tuhan, berikan aku petunjuk”.

Dalam kata-kata yang seterusnya dilanjutkan oleh hatinya, perempuan itu bertanya-tanya mengapa kini hatinya begitu mudah terbuka untuk seseorang yang baru saja ia kenal. Seseorang yang bahkan hanya ia kenal dalam tiga hari.

“Dia kawanku. Dia orang baik”.

Suara sore itu masih terus terngiang-ngiang. Dari sepupu perempuannya. Suara itu nampak sangat tulus. Dari matanya, ia melihat secercah cahaya kejujuran. Sepupunya pasti ingin dirinya disanding oleh lelaki yang tulus, yang baik. Kembali ia menengadahkan tangannya. Sepertiga malam sangat sunyi. Panjatan doa-doanya yang lirih terdengar di antara sayup-sayup desir angin.

Di luar, di antara malam yang disapu gelap malam, malaikat seakan sedang turun ke bumi. Jutaan atau bahkan miliaran malaikat sedang mendapatkan tugas dari Tuhan untuk mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan para umat manusia di sepertiga malam. Malaikat itu turun dalam kesunyian. Lebih halus dari desiran angin. Lebih sunyi dari kesunyian apapun. Mereka mendatangi rumah-rumah yang penghuninya terbangun dan khusyuk dalam sujud yang tulus kepada Tuhannya.

Perempuan itu tak dapat melihat malaikat-malaikat itu. Tapi ia begitu yakin, tiap kata yang membentuk doa pasti terdengar langsung oleh sang Kuasa. Malaikat-malaikat yang mencatat tiap harapan pasti tidak akan lengah dari menyimak setiap harapan yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan. Dia – perempuan itu – pasti tak dapat melihat malaikat yang menyelinap dan tertegun dengan doa-doanya. Ia hanya merasakan ada kelegaan pada tiap harapan yang digantukan pada Tuhan. Ia yakin hanyalah Tuhan yang paling sejati tempat segala doa dan harapan. Kepada-Nya tak akan ada kata kecewa.

*
Berkelebat dalam kenangannya tentang dua lelaki yang pernah datang mengetuk pintu hatinya. Kedua-duanya sudah begitu lama. Pada yang pertama, ia sempat menaruh harapan besar. Sempat ada jalinan cinta dalam wujud tunangan. Masa itu, perempuan itu masih begitu muda. Cinta yang datang dibalut pertunangan sempat membawanya pada kebahagiaan. Tapi entah, Tuhan seakan merencanakan cerita yang lain. Meski ada rasa sedih, akhirnya ia terima akhir dari kisah itu. CInta yang diikat dalam jalinan pertunangan itu berakhir.

Andai ia mau membuka lagi, cerita itu bisa saja terulang lagi. Lelaki yang pernah datang dan pergi itu, kini sempat datang kembali. Seakan ia datang dengan permohonan maaf dan penyesalan. Ada rasa yang hendak ia bangun kembali dari rajutan cinta dan tunangan yang sempat terwujud dan berakhir. Tapi perempuan itu berusaha menerima kenyataan. Ia – dengan penuh kerendahan hati – tak ingin kembali merajut kisah itu. Seakan-akan ia ingin mencatat kisah itu sebagai bagian dari cinta yang patut ia maafkan tapi tak patut ia ulang.

“Ibarat ludah yang sudah luruh ke tanah, kau tak perlu jilat kembali, nak”, demikian pesan kedua orang tuanya. Ia dengar kata-kata itu. Ia resapi. Ia coba pahami. Kata-kata itu mungkin tak sepenuhnya benar. Tapi bagi perempuan itu, kata-kata itu sangat berharga. Hanya karena kata-kata itu pastilah diucapkan dengan penuh ketulusan. Pastilah kata-kata itu penuh dengan kebaikan. Ia tak akan meragukan pesan dari orang yang cintanya abadi. Kedua orang tua.

Demi pesan itu, maka tak akan ada kisah cinta yang gagal di masa lalu untuk diulangi lagi.

*
Pada kelebat ingatan yang lain, seorang lelaki seakan protes kepada dirinya: mengapa kau membuka pintu hatinya kepada orang lain dengan tiba-tiba?

Begini pembaca yang baik. Sejak kegagalan tunangan yang pertama, ia dan orang tuanya seakan diam-diam terikat satu kesepakatan. Ia boleh bertunangan lagi kelak setelah lulus kuliah. Palu yang tak kasat mata seakan diam-diam mengetok kesepakatan itu. Ia dan orang tuanya seakan menerima keputusan itu. Maka, hingga detik tertentu, keputusan itu telah membuatnya tak dapat menerima cinta-cinta yang datang sebelum waktu yang diputuskan itu.

Saat kini hatinya terketuk oleh seseorang, oleh cinta yang baru datang, dan ia seakan melonggarkan perjanjian tak kasat mata. Pada titik ini, ia sesungguhnya berada dalam perasaan yang bimbang. Ia tak punya kata-kata yang dapat membantah protes itu. Ia tak punya alasan apapun yang bisa meyakinkan lelaki itu mengapa ini bisa terjadi?

Perempuan itu menengadah. Ia kembali luruh dalam panjatan doa dan pertanyaan-pertanyaan yang bertaburan dalam pikirannya. Tuhan, hanya Engkaulah yang mengerti segala teka-teki yang diinginkan hati. Engkau, Dzat yang suci, yang Maha Tahu segala yang tampak dan yang kabur, segala yang terlihat dan yang tersembunyi, berilah aku suatu pengertian tentang cinta yang baru datang ini.

Di tengah kebingungan untuk memahami cinta yang datang tiba-tiba dan protes dari lelaki yang sudah lama menaruh hati kepadanya, jemari perempuan itu seakan tergerak dan menuliskan balasan yang tak panjang:

“Maafkan aku, mungkin ini yang terbaik. Tapi segalanya tergantung restu orang tua”.

Keesokan harinya, lelaki itu memberikan penguatan doa: Semoga itu memang yang terbaik. Semoga ini cinta yang abadi. Cinta kalian diberkahi Tuhan selamanya. Amin.
0Comments

Previous Post Next Post

ads