Penulis: Nandi (Lelaki Penyuka Jagung Rebus)

Bagian I

Suatu hari nanti, saat kita menua bersama, dengan helai demi helai rambut kita yang berubah warna putih, warna yang mengisyarakatkan cinta kita sudah melewati umur yang panjang, melewati lorong-lorong suka-duka bersama, aku ingin mengingat kembali hari-hari aku duduk termenung pada suatu sore di beranda rumah. Saat itu, aku sedang mengintip nasib dengan sederet pertanyaan yang hampir bikin aku putus asa: apakah aku ditakdirkan hidup sendiri selamanya?

Aku tak percaya ada kutukan hidup menyendiri selamanya. Setiap orang pasti dipertemukan dengan pasangannya masing-masing. Tapi berbekal keyakinan ini saja tak menghiburku apa-apa. Kawan-kawan yang seumuranku sudah bertemu dengan pasangan hidupnya masing-masing. Jalinan pertemuan mereka indah-indah untuk dikenang dan dituliskan. Harapan-harapan mereka sudah bersua dengan kenyataan. Dan aku di sini masih saja berkutat dengan harapan-harapan. Kadang lelucon biasa bikin aku seakan membenarkan: jangan-jangan tulang rusukku terpenjara di suatu tempat selamanya.

Suatu hari nanti, andai Tuhan tak mengubah apa-apa jalan hidupku, mungkin aku akan menulis kalimat yang panik di secarik kertas: aku sudah melewati hari-hari yang panjang dalam kesendirian yang abadi, dan cinta yang kunikmati sendiri, sebab tak ada orang yang mau berbagi cinta.

Tapi aku tak jadi menuliskan kalimat itu. Sebab Tuhan tiba-tiba mengutus sosok malaikat dari Surga dalam jelmaan tubuh manusia. Namanya N. Pasti kalian tidak percaya, Tuhan mengatur pertemuan itu melalui media sosial facebook: mahluk tak kasat mata di dunia modern yang diciptakan oleh manusia di belahan dunia barat tapi kini sudah menjadi konsumsi masyarakat di seluruh belahan dunia. Aku akan masih percaya bahwa N adalah sosok malaikat meskipun aku juga tahu bahwa N hanyalah kenalan lama yang kembali menjalin komunikasi.

Pada suatu hari, cerita inilah yang akan aku susun: 23 hari aku mengenalmu, begitulah kalimat permulaan kisah yang akan panjang.

*
Aku dan N adalah sahabat sejati. Dunia yang kata orang selebar daun kelor ini tak benar-benar selebar itu. Buktinya, aku dan N kehilangan kontak persahabatan selama 10 tahun lamanya. Andai dunia selebar daun itu, mungkin aku tak perlu menunggu 10 tahun untuk bisa berjumpa lagi. Tapi di mata facebook, barangkali bumi sebesar kelereng saja. Mahluk tak kasat mata ini begitu mudah mempertemukan kita. Dan ia begitu baik memfasilitasi keakraban kami lewat fitur-fiturnya. Keakraban kami tak berkurang. Ada keabadian dalam persahabatan yang penuh ketulusan.

“Kamu sudah menikah?”

“Belum ada perempuan yang mau menerimaku apa adanya”, jawabku ringan.

“Alaaah, kamu ganteng, masa ga ada yang mau sama kamu?”

“Ganteng bukan tolak ukur saat ini, kalo cuma ganteng tapi ga berduit, ditolak mentah-mentah. Sementara aku pengangguran. Hidupku tak jelas”.

Aku merasa aku mengatakan semua itu penuh kejujuran. Dan aku tersenyum dengan kemampuanku untuk mengatakan secara jujur. Biarlah orang tahu diriku apa adanya. Kesederhanaan dan kejujuran dapat melegakan batin.

“Aku punya sepupu”, katanya tiba-tiba seakan mengerti isi hatiku yang tengah mencari sosok yang menerima aku apa adanya. Angin segar seakan membelaiku. Harapan-harapan dari diriku seakan mengajakku untuk mendengarkan tuturannya.

“Dia belum punya tunangan. Sekarang, dia lagi kuliah dan sekaligus tinggal di pesantren. Maukah aku kenalin dengannya?”. Aku bisa saja menjawab iya. Iya banget. Tapi pertanyaan itu nampak terlalu cepat dan aku tergeragap untuk menjawab. Dan tanpa kusadari, kalimat yang muncul dari mulutku yang spontan: “duuhh, gimana yaa...?”

Ia merespon jawabanku dengan cepat: “sepupuku cantik kok, ga bakalan ngecewain, bisalah dibawa ke to'petto”. Kata to’petto’, silahkan cek di kamus bahasa Madura. Kalau tak ada, tanya sama orang-orang saja.

“Waduuh, cantik yaa..?”, lagi-lagi aku mengatakannya spontan, dan aku terbawa untuk berpanjang lebar mengutarakan kekhawatiranku. “Kalo cantik aku kurang percaya diri buat kenalan, apalagi dia kaya, misalnya. Aku pernah ditolak orang cantik yang kaya”.

Tapi N, kawan sejatiku ini, meruntuhkan kekhawatiranku. “Dia juga orang biasa-biasa saja, bukan orang kaya. Orang tuanya juga petani, gimana?”, dan ia seperti tak memberiku jeda untuk berpikir panjang. Saat aku masih dilanda suasana antara senang dan khawatir yang saling bercampur-campur tak karuan, dia menawariku: “aku kasih no wa-nya kalo kamu emang mau kenalan”.

Kawanku ini baik betul. Seakan pesan dari Surga kepada malaikat: cepat, cepat, cepat. Segerakan dia dipertemukan dengan seseorang sebelum ia menderita jomblo berkepanjangan. Dan kawanku ini seakan merespon cepat pesan itu. Ia tak hanya membagi nomor hape perempuan yang ia kenalkan kepadaku. Ia juga memberi screenshot foto, alamat facebook, dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera aku add (ajak pertemanan). Sebentar aku menunggu respon korfimasinya. Aku masih menunggu dalam beberapa waktu. Berhari-hari. Sampai dalam diriku timbul-tenggelam pertanyaan: apakah Tuhan lupa menginstruksikan untuk segera mengonfirmasi ajakan pertemananku di facebook.
0Comments

Previous Post Next Post

ads