Penulis: El Qudz 


Bila teringat cerita ini, aku bisa tertawa campur sedih. Tertawa sebab untuk pertama kalinya dalam hidup yang lebih banyak diwarnai kesusahan, tiba-tiba aku sudah dipanggil bos besar. Sedihnya, sebab saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup aku dipenuhi bergepuk-gepuk duit, tapi habis untuk orang-orang yang menyebutku bos, demi menyenangkan mereka semua.

Dunia malam. Dunia kelam. Begitulah untuk pertama kalinya mobil yang dikendarai sopirku tiba-tiba berbelok ke arah sebuah klub malam. Tampak dari luar, aku sudah menduga-duga. Hanya orang-orang elit yang memasuki tempat ini. Lampu yang kelap-kelipnya terlihat begitu estetik. Sedikit remang. Tapi aku sudah seakan menghirup aroma dari tubuh-tubuh yang pasti bisa membuat imanku terkelupas habis.

“Silahkan pak bos”.

Aku terdiam. Dan sejurus kemudian, sopir di depan mengulangi lagi sembari memberi isyarat kepadaku untuk turun. Aku mengikutinya. Di depan pintu, sopir itu memanggil kawan-kawannya. Dan aku sudah tiba-tiba berada di antara keramaian orang-orang. Wajah-wajah mereka tersenyum kepadaku dan seperti memberikan penghormatan layaknya diriku seorang pejabat. Ya, aku kaget dan takjub untuk pertama kalinya dikira pejabat. Kupandang perutku. Memang agak maju. Caraku berdandan, ah mungkin ini yang membuat diriku tampak seperti seorang pejabat.

Aku terus masuk ke dalam. Klub malam. Ya ini yang disebut klub malam. Kulihat orang-orang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Dunia yang di depannya tidak lengkap bila tanpa disajikan berbagai minuman yang memabukkan. Untuk di sini, aku hanya bisa mengatakan minuman yang memabukkan. Aku tidak tahu nama-nama jenis minuman itu.

“Perkenalkan”, kata sang sopir, “ini bos besar kita, tolong kalian senangkan bos kita ini”.

Seluruh mata kini tertuju padaku. Dalam beberapa saat, aku menikmati betul menjadi seorang yang dipanggil bos besar. Sedikit menyelinap diriku yang gembel dalam pikiranku dan seakan menggodaku dan tawa. “Hahaha, bos besar. Hidup kau dulu diburu-buru ibu kos. Makan pun hanya kelas warung-warung di sekitar kosan yang harga mahasiswa”.

Kesel juga diriku dengan bayangan itu. Segera kusingkirkan bayangan masa lalu itu. Kupastikan diriku malam ini adalah seorang bos. Dengan baju eksekutif ini, perut sedikit maju, dan sepatu pantofel, tak bakal ada yang tahu sisi masa laluku. Kini – oh diriku – nikmati, nikmatilah hidup sebagai bos besar, dengan segala kenikmatan yang siap disajikan di depanmu.

Sopir itu kemudian membisiikan sesuatu. Menawarkan kesenangan yang bos besar sepertiku inginkan di tempat klub malam seperti ini. Dia menanyakan mau minum apa? Aku bingung. Tak dapat menjawab. Jenis minuman apa yang terdengar elit dan tidak memalukan. Tapi saat memikirkan itu, tiba-tiba spontan aku cuma menyebut air mineral, es teh, dll. Si sopir terdiam. Ia nampak bingung. Aku tak terlalu memperhatikan wajahnya.

“Air mineral? Es teh?”, dia mengulangi. Aku mengangguk. Tapi tiba-tiba aku seperti diingatkan oleh diriku sendiri. “Hei bos besar, kau minum air mineral? Coba sebutkan minuman memabukkan yang lebih terdengar keren dari sekedar air mineral”. Di titik itu, aku mulai menyadari aku belum terlihat sebagai bos besar. Selera minumnya masih air mineral biasa di klub malam ini.

Yang datang kepadaku memang mula-mula air mineral, tapi minus es teh. Sang pelayan dengan wajah penuh mohon maaf mengatakan di sini tak ada es teh. Aku berusaha menyembunyikan kekikukanku. Beberapa menit kemudian, datang beberapa botol minuman. Tanpa kuminta, si sopir sudah menuangkan ke gelasku. Saat aku masih tertegun pada gelas itu, si sopir sudah menanyakan lagi.

“Kenikmatan macam apa yang bos inginkan malam ini?”

Kenikmatan? Aku mencoba memeras otakku memikirkan apa yang paling aku inginkan malam ini. Terdengar panggilan dari perutku. Kriyuk. Lapar, bung. Aku lapar, kata perutku. Dan yang terbayang di masa lapar, kenimatan itu adalah nasi bercampur kuah, telor dadar, sayur, es teh, dan ohhh saat seluruh itu masuk ke perutku, aku akan merasa menikmati angin-angin dari surga, dan mata kelep-kelep, membawa pada mimpi.

*

Kini tubuh-tubuh indah, yang hanya bagian titik-titik tertentu yang terbungkus, dengan wajah-wajah yang manis, cantik, dan yang semula hanya bisa aku nikmati di film-film, sedang menuju ke arahku. Aku memperhatikan mereka satu demi satu dengan pikiran dan perasaan tak karuan. Mereka benar-benar perempuan. Tubuh-tubuh yang setengah telanjang, setengah tertutup. Keringat tipis seperti terperanjat muncul dari pori-poriku. Seluruh kendali moral dalam diriku seakan sedang dikelupas sedikit demi sedikit. Dan oh Tuhan, adikku satu-satunya menjadi begini tegang. Kupikir efek celanaku yang terlampau ketat.

“Maaf bos, terpaksa saya memanggil mereka semua. Sebab bos terlihat bingung untuk memilih. Sekarang silahkan bos pilih di antara yang paling cantik. Nikmati surga keremangan ini”.

Yang paling cantik? Aku mencoba menatap mereka. Dan kini aku seperti diserang perasaan minder yang luar biasa. Dari mana saja datangnya perasaan aneh ini? Sopir itu undur diri. Maka tinggallah aku dikelilingi oleh bidadari-bidadari klub malam yang menghancurkan imanku. Lampu masih terus berkelap kelip. Menyisakan sedikit keremang-remangan. Tapi aku tetap bisa melihat wajah-wajah mereka yang indah. Musik-musik yang tak mampu menggantikan musik dangdut dan koplo (tarik sisssss) terus mengalun lambat-lambat. Orang-orang di sekitar tenggelam dalam irama musik itu.

Bidadari klub malam itu mulai menanyakan ini dan itu kepadaku. Aku dipaksa untuk berbasa-basi. Tapi aku tak bisa mengatakan apa-apa. Mulutku seperti terkatup. Pikiranku kacau. Mereka mulai menyentuh diriku. Aku terjebak dalam belaian mereka. Tangan ini. Tangan itu. Tangan-tangan yang lain bergerak di sekujur tubuhku. Suara-suara mereka terdengar berbisik-bisik, dekat sekali di telingaku. Seakan bibir-bibir mereka hanya sekian senti dari telingaku. Aku merasa telingaku juga ikut bingung. Antara malu-malu tapi mau. Oh Tuhan.

Hampir satu jam, aku hanya bisa duduk mematung. Dan bidadari klub malam ini sepertinya bosan dengan diriku. Satu demi satu undur diri. Dan akhirnya tersisalah aku sendirian di tempat itu, dengan pakaian yang keringetan, nafas ngos-ngosan, dan tetap belum tahu apa yang harus aku lakukan. Sang sopir datang lagi dengan raut wajah yang agak jengkel.

“Jadi bos, mau kenikmatan seperti apa? Saya sudah tawarkan ini dan itu, pilih yang terbaik, tapi bos tak menikmatinya”. Aku masih sedikit gagap. Air mineral kutuangkan ke gelas. Dan perlahan rasa segar sedikit mengalir di tubuhku. “Sebentar”, kataku. “Di mana toilet?”. Aku bergegas menuju ke arah yang ditujukan sang sopir.

*

Sopir itu menyiapkan kejutan yang lain. Tiba-tiba bidadari klub malam itu datang lagi. Beberapa saja. Mereka membawaku ke pojokan. Aku diajak menari. Menari apa? Seluruh gerak tarianku sudah terisi oleh selera koplo. Apakah tarian seperti itu yang mereka mintakan dariku? Aku tak mampu menari. Akhirnya, aku hanya menyaksikan mereka yang mulai menari. Tubuh mereka, yang seperti tanpa tulang, begitu gemulai, lentur sekali. Kadang mereka terlihat bergerak-gerak seperti ulat, menempel-nempel pada sebatang pohon. Mereka terus menempel pada sebatang besi yang berdiri di sana, menari menampilkan kemolekan tubuhnya. Aku teringat: mungkin ini yang disebut tarian striptis. 

Pada wajah mereka, aku seperti melihat Salma Hayek dalam Dusk Till Dawn. Aku memang suka betul dengan artis Amerika Latin itu. Aku sudah menonton banyak filmnya. Mulai dari Desperado dengan lawan mainnya Antonio Banderaz, From Dusk Till Dawn, Wild Wild West, Once Upon a Time In Mexico, dll. Aku terus memandang tarian-tarian mereka dengan tubuhku yang tetap mematung. Kadang kalau mereka menari dekat sekali dengan diriku, keringatku semakin banyak berloncatan dari pori-poriku yang tak tahan gempuran keindahan yang tak abadi ini.

Tarian itu berlangsung kurang lebih 30 menit. Mereka terlihat jengkel melihat dirinya sendiri gagal menggoda diriku. Seluruh jurus yang menurutnya mungkin bisa berhasil membuat para lelaki menjadi agresif justru tumpul menghadapi bos besar yang aneh seperti diriku. Mereka lagi-lagi meninggalkan diriku sendirian di pojokan. Baru beberapa saat aku merasa sendiri, barulah tubuhku yang tegang dan kaku seperti patung ini kembali menjadi manusia yang bisa bergerak dan lega. Aku kembali dengan tubuh kelelahan dan bermandikan keringat menuju kursiku lagi.

*
Aku sudah berada di mobil. Aku senang. Seluruh dunia malam yang bagiku menegangkan ini sudah berakhir. Tapi pikiranku keliru. Sopir tidak membawa diriku ke hotel untuk aku menghabiskan diriku dalam tidur yang nyenyak. Ia membawaku ke suatu tempat yang lebih aneh lagi. Memasuki ruangan besar, lurus beberapa langkah – seperti sebuah lorong kecil yang kanan-kirinya ada beberapa pintu. Diketoknya oleh si sopir sialan ini. Akhirnya keluarlah mahluk-mahluk tuhan yang tak kalah memukau pandangan. Siapa pun yang imannya lemah, dan adikknya cepat bereaksi tak terkendali, barangkali jatuhlah pada dunia yang kelam tapi penuh kenikmatan.

Mahluk-mahluk yang indah itu segera mengerubungiku. Masing-masing mereka menunjukkan senyum dan laku tubuh genit mereka. “Silahkan bos, pilih salah satu dari mereka”. Aku tak bisa memilih. Dan tak tergerak untuk memilih. Imanku memang lemah. Tapi entah ada perasaan aneh, gugup, minder, dan lain-lain yang bikin aku tak merasa ingin. Lalu sopir itu memilihkan tiga saja, sedangkan yang lain kembali bubar ke kamarnya masing-masing. “Mereka ini yang terbaik bos. Tak usah pilih. Bawa tiga-tiganya”. Aku masih belum bisa memilih. Dan tak tergerak untuk memilih.

Sopir itu menyerah dan mendekat kepadaku. Aku begitu kasian melihat pengorbanannya untuk bikin aku senang. Tapi aku betul-betul tak dapat disenangkan dengan cara ini. Aku terlalu gugup dan itulah yang bikin aku bingung. Akhirnya aku tawarkan sesuatu kepadanya. Langsung terlihat binar bahagia di wajahnya. “Baiklah”. Maka malam itu, sopir menikmati sajian itu. Sementara aku menunggunya di meja. 

*
Ada satu perempuan yang menemaniku di meja. Ia menuangkan minuman ke gelasku. Demi menghormatinya, bercampur penasaran, aku tuangkan minuman itu ke mulut. Jleeggg. Melewati kerongkongan dan jatuh di perutku. Aku menghabiskan dua sampai tiga gelas. Perempuan itu agak kaget melihatku bisa menghabiskan sebanyak itu. Dia mengatakan bahwa ini jenis minuman yang tak semua orang bisa menghabiskan sebanyak itu. Ini yang terbaik, katanya lagi.

Aku agak merasa senang. Aku sedikit merasa diriku pantas menjadi pejabat atau bos besar. Aku tidak mabuk dengan minuman ini. Adaptasiku dengan minuman elit yang memabukkan ini begitu cepat, pikir ku. Hanya tinggal bagian-bagian yang lain yang belum beradaptasi.

Aku berusaha berdiri. Tapi seluruh tubuhku seperti tak bereaksi. Aku mencoba mengangkat gelas, tapi gelas itu terjatuh sendiri. Cengkeramanku menjadi begitu lemas. Aku mencoba berdiri lagi. Tiba-tiba tubuhku ambruk. Pikiranku masih dalam keadaan sadar. Aku masih bertanya-tanya: ada apa ini? Karena tidak bisa berdiri, akhirnya aku merangkak-rangkak seperti kucing ke kamar mandi. Aku tak bisa minta tolong siapa pun. Aku lupa apakah aku sudah sampai ke toilet dan kembali ke meja lagi, ataukah itu hanya gambaran khayalanku. Sebab tiba-tiba, duniaku gelap. Saat mataku terbuka, aku sudah berada di suatu tempat yang berbeda. Sebuah kamar hotel.

Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku bisa sampai di sini. Tapi sia-sia. Kawanku akhirnya yang bercerita. Aku ditolong oleh orang-orang. Dicarikan tempat penginapan. Sebab aku sudah tak sadarkan diri. Beberapa kali aku coba disadarkan dengan cara ditabok. Tapi aku lenyap begitu dalam di dunia lain. Tiba-tiba aku sedikit merasa lega. Tuhan melarangku terjatuh dalam kekelaman yang lebih dalam lewat cara yang aneh: inferiority complex. Aku betul-betul mengalami suasana itu, itu sebabnya aku tak bisa merespon dengan baik kenikmatan tak abadi yang disuguhkan kepadaku.

Aku hendak menikmati pagi itu dengan senang dan lega sebelum akhirnya aku mendapati uang di dompetku tersisa beberapa lembar saja. Pagi itu, aku tak jadi tersenyum.
0Comments

Previous Post Next Post

ads