Opini Regista Trequartista


Beberapa hari terakhir, bencana alam menimpa negeri ini. Banjir di Kalsel. Gempa di Sulbar. Situasi ini makin menunjukkan kepada kita bahwa alam tidak sedang baik-baik saja. Bencana ini mesti ditempatkan sebagai persoalan yang jauh dari sekedar soal bencana alamiah. Ini soal hubungan kita (manusia) dengan alam. Dengan menggunakan perspektif ini, maka persoalan ini perlu dibaca dalam kerangka kesadaran kita (manusia) dalam memperlakukan alam.

Otokritik Kebijakan Lingkungan

Bencana alam ini tak bisa dilepaskan dari persoalan kebijakan – pemerintah pusat maupun daerah – dalam memperlakukan alam. Protes dari para penggiat lingkungan atas berbagai kebijakan pemerintah pusat dan daerah terdengar di mana-mana. Suara-suara mereka menjadi alarm penting dalam hal ini.

Bahkan di era media sosial ini, isu-isu lingkungan dikemas dalam kreatifitas liputan yang dalam, jelas & tajam dalam mempertontonkan problem-problem persoalan lingkungan. Isu tambang misalnya begitu jelas disuarakan dan dipertontonkan oleh Dandhy Dwi Laksono lewat Sexy Killer.

Sayangnya, suara-suara mereka nampak tak direspon dengan baik. Komitmen memperkuat kebijakan yang melindungi lingkungan masih menjadi jalan terjal, berliku, dan jauh. Setidaknya, kita masih terus menyaksikan banyak lingkungan dieksploitasi terutama oleh korporasi-korporasi besar. Menyedihkan.

Kesadaran dari Bawah

Tak bisa menunggu kebijakan pemerintah, kesadaran kita tentang pentingnya merawat lingkungan haruslah ditanamkan dari akar rumput. Gunanya untuk menguatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya merawat lingkungan dan sekaligus sebagai cara memperkuat masyarakat sehingga bisa mendorong dan memperkuat kebijakan dari bawah.

Pendekatan paling potensial dalam menanamkan pemahaman dan kesadaran pada lingkungan adalah melalui pendekatan teologi lingkungan. Seorang penganjur ekosentrisme dan deep ecology, Naess (1993), pernah mengatakan bahwa krisis lingkungan saat ini hanya bisa diatasi dengan mengubah secara fundamental dan radikal cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam dan lingkungannya.

Agama, terutama di dalam masyarakat yang kental dengan nuansa nilai-nilai keagamaan – memiliki potensi yang besar untuk mengarahkan perilaku pada kesadaran lingkungan. Misal, kita bicara Islam. QS. Surat Ar-Rum ayat 41 bahkan cukup jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa tangan-tangan manusia lah yang justru menjadi sebab dari kehancuran alam.

Kiai Kampung, Kiai Lingkungan

Di masyarakat, kita punya para tokoh agama. Dalam mempertahankan lingkungan dari ancaman kerusakan, para tokoh agama ini bisa diharapkan untuk mulai memperkuat ceramah-ceramah yang menjurus pada isu etika lingkungan. Bila sejauh ini, agenda ceramah isu lingkungan ini masih jauh dari pembicaraan atau jarang menjadi bagian yang penting, hendaknya ini perlu menjadi perhatian bersama.

Mengapa kita berharap banyak pada kiai kampung dalam konteks ini?

Pertama, nilai-nilai agama di kampung banyak tersebar di masyarakat melalui ceramah-ceramah agama. Kesadaran teologis masyarakat terbentuk melalui ceramah-ceramah para kiai. Kedua, keberhasilan para kiai/ulama dalam menyampaikan ceramahnya sebab disertai keteladanan sehingga efektif dijalankan oleh masyarakat. Ketiga, nilai-nilai agama dalam ceramah kiai-kiai di kampung disampaikan melalui cara dan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat kampung.

Maka bila para tokoh agama antusias memperkuat nilai-nilai keagamaan terkait etika lingkungan, disampaikan secara terus-menerus melalui penjelasan yang bisa dan mudah dipahami masyarakat, maka hal tersebut akan memperkuat kesadaran masyarakat tentang etika lingkungan. Penguatan mentalitas atau kesadaran lingkungan ini akan berdampak besar.

Terutama di daerah-daerah yang lingkungan alamnya menjadi sorotan korporasi, kehadiran kiai dan segenap ceramahnya yang menjurus pada etika lingkungan, setidaknya dapat menjadi benteng agar masyarakat tak mudah tergoda iming-iming/rayuan korporasi. Masyarakat menjadi lebih peka untuk menolak eksploitasi lingkungan oleh korporasi. Masyarakat bisa membawa tekanan dari bawah kepada kebijakan pemerintah dalam hal penyelamatan atas lingkungan.
0Comments

Previous Post Next Post

ads