Cerpen J. Deida




Lelaki itu menatap dirinya pada sebuah cermin. Ia memastikan apakah ia pantas di mata kekasihnya. Di hadapan cermin, ia memperagakan berbagai senyum. Ia ulangi. Ia ingin yang termanis. Ia juga bayangkan senyum kekasihnya. Pasti manis.

Tapi siang itu, bila ada satu hal yang paling ia pikirkan, tak lain adalah ia sedang memikirkan sepotong kalimat yang berani dan memukau. Besok pagi, dia akan bertemu kekasihnya di sekretariat organisasi. Tentu jangan anda bayangkan ini bakal berakhir menjadi sesi diskusi, rapat-rapat besar. Tidak! Ini sebuah janji perjumpaan antara aku dan dia, bisiknya pada manusia di cermin yang tak lain adalah dirinya sendiri.

Sekretariat itu begitu sederhana. Hanya sebuah ruangan tiga petak. Tidak luas. Dindingnya dihiasi warna yang mulai pudar. Warna yang mengalami penuaan yang tak sempat dicat ulang oleh para penghuninya. Lantainya dialasi karpet lusuh yang tak cukup. Penuh bercak-bercak kopi yang diabaikan begitu saja. Mungkin di atas karpet itu, hidup jutaan mahluk kecil yang menyukai kotoran-kotoran tak kasat mata.

Tapi cinta telah menyulap apapun menjadi terlihat indah. Cinta membuktikan bahwa keindahan itu sejatinya tak datang dari objek-objek di luar kita. Sekretariat yang sederhana dengan karpet yang lusuh itu bisa terlihat seperti sebuah istana Cleopatra. Di atas karpet itu, ia seakan menjelma sebagai Napoleon Bonaparte yang gagah. Segalanya menjadi begitu saat hati sudah diracuni oleh rasa yang sedang tumbuh dan membuncah oleh cinta.

Kalimat apa yang hendak kau ucapkan padanya? Lelaki itu terdiam. Ia menatap sosok di cermin. Sosok itu juga ikut terdiam. Seakan dua sosok itu sedang sama-sama berpikir. Ia bangkit dari duduknya dan mencari-cari kertas. Ia duduk kembali. Dan ia mulai merangkai-rangkai kata. Tiap kalimat yang dicatat ia peragakan. Ia ulangi terus-menerus. Ia ingin menghasilkan sebuah gerak yang sederhana tapi serius dengan ucapan yang terdengar begitu tulus dan dalam. Di hadapan cermin, ia seperti sedang belajar pementasan drama teatrikal. Ia olah betul gerak tubuh dan air wajahnya. Ia ulangi kalimat-kalimat yang bakal ia ucapkan. Beberapa kali ia coret kalimat yang tidak tepat. Beberapa kali ia koreksi adegan-adegan dirinya yang tak memuaskan.

Sore itu, cinta telah membuat dirinya menjadi manusia paling sibuk di hadapan cermin. Sibuk mengatur tubuhnya, gerak bibir, senyum, cara mengutarakan, isi kalimat, dan segalanya. Hari itu, dunia seakan menuntutnya menjadi manusia yang paling sempurna. Satu jam lebih ia melakukan semuanya. Ada lima potong kalimat yang ditulisnya. Dan ia hafalkan betul kalimat-kalimat itu. Mulutnya terus berkomat-kamit bahkan dalam tidurnya yang pulas.

I
Ia dan kekasihnya sudah menjalin hubungan dekat dalam setahun terakhir. Keakraban mereka dipupuk lewat perjumpaan di organisasi kampus. Keduanya aktif di organisasi. Mereka senior-junior. Kerap adu mulut yang tajam dalam diskusi atau rapat-rapat organisasi.

“Orang-orang memandang kita seperti Tom dan Jerry”, kata perempuan itu suatu kali diiringi sepasang tawa.

Belum ada nama untuk sebuah kedekatan itu, tapi lelaki itu memiliki kebiasaan bangun pagi untuk bisa datang ke kampus dan menunggunya di sana. Kadang ia harus menahan kantuk yang menyerangnya di pagi-pagi itu. Kadang ia terlentang di besmen saat kantuk berhasil menghabisinya. Sering juga ia bahkan mengantarnya hingga di pintu kelas hanya untuk memastikan ia dapat menatap matanya sebelum hilang di balik pintu.

Di luar urusan debat-debat diskusi dan organisasi, mereka seakan sepasang yang hemat bicara. Saat beriringan menuju kelas pun, hanya kesunyian yang paling banyak ambil bagian. Perjumpaan mereka selalu saja terjebak dalam kesunyian. Bila pun ada kata-kata, maka ia menyelinap sebentar, datang dan hilang dalam sekejap. Seakan mereka percaya bahwa sepasang mata yang bertatapan, atau tangan yang saling bersentuhan, atau dua tubuh yang saling berdekatan memiliki bahasa tersendiri yang dapat saling berbicara satu sama lain.

“Kita tak pernah banyak bicara, hanya berjalan beriringan menuju kelas, dan selalu seperti itu setiap harinya”, tulisnya.

Bagi lelaki itu, perasaan yang ia bingung apa menyebutnya, cinta atau apakah itu, datang begitu saja. Ia ingat suatu kali saat perempuan itu punya kesulitan, dan lelaki itulah yang ia hubungi. Lelaki itu sangat senang dengan momen itu. Lelaki itu punya tafsir sendiri tentang apa artinya seorang perempuan yang dapat mengingat namanya dan menghubunginya di saat sulit. Ia menafsirkan momen itu dengan tafsir-tafsir yang penuh keindahan.

Bila seorang perempuan mengingat namamu, dan meminta pertolonganmu, hanya kepadamu, maka itu punya arti tertentu yang patut bikin kita bahagia. Itu bukan sekedar ia membutuhkan bantuan, tapi ia membutuhkan bantuan yang hanya kamu baginya yang bisa memberikan jalan keluar dalam kesulitan itu.

Begitulah tafsir keindahan dan kebahagiaan yang ia bayangkan. Dan lelaki itu yakin betul dengan tafsirnya sendiri.

“Aku begitu bahagia ketika aku menjadi orang pertama yang kau hubungi ketika kamu sulit. Kamu langsung mengingat namaku”.

Kini setahun lebih hubungan itu berjalan. Mereka dekat sekali. Tapi lelaki itu tak suka dengan hubungan yang tidak bisa dijelaskan dalam sebuah bahasa yang tegas: apakah sekedar teman, teman dekat, dekat sekali, atau apalah. Dia membutuhkan nama yang lebih tegas untuk sebuah hubungan yang sudah berusia satu tahun lebih itu. Dan nama untuk sebuah hubungan itu haruslah: ikatan sepasang kekasih. Dia tak ingin nama-nama yang lain. Andai Tuhan memberi lelaki itu dua opsi: kamu mau ikatan ini sebagai teman atau teman dekat? Maka ia ingin menambahkan opsi ketiga: hubungan kekasih.

“Dalam hal percintaan sungguh aku tak bisa meyakini bahwa ketidakjelasan merupakan hal yang baik".

II
Lelaki itu datang 20 menit lebih awal. Ia sudah menyiapkan sekian kalimat yang ia yakin betul akan bisa meyakinkan kekasihnya. Sederhana, tulus, dan dalam. Ia juga sudah menyiapkan sepenuh-penuhnya keberanian. Ia tak ingin mengulangi kegagalan demi kegagalan yang lalu. Kegagapan, kehilangan kata, dan hal bodoh lainnya tak boleh terulang lagi. Ia harus bisa mengatakan itu. Aku mencintaimu. Aku mencintamu. Ini hanyalah kalimat sederhana.

Lelaki itu duduk di ruang depan sekretariat. Sepi. Tak kan ada orang yang datang ke sana di waktu menjelang maghrib. Lelaki itu menyukai senja. Itu sebabnya, ia memilih waktu menjelang maghrib. Belum habis kelana pikirannya, perempuan itu sudah ada di dekatnya.

Deg! Kini ia mulai dihinggapi oleh suasana ragu, kikuk, dan ketololan lainnya. Ia dihinggapi kegagalan. Tapi ia teguhkan dalam hati. Ia tak akan mengulangi kegagalan. Perempuan itu terlihat cantik sekali di sore itu. “Perpaduan yang baik antara senja dan kamu”, kata lelaki itu dalam hati.

“Kamu mau ngomong apa? Nanti kaya dulu-dulu lagi”. Deg! Sekali lagi.

“Nggak kok, aku cuma mau kasih kejutan buat kamu”, jawab lelaki itu sambil tersenyum. Ia raih tangan perempuan itu. Ia genggam.

“Maaf ya kalau selama ini aku sering gangguin kamu”.

Angin sore bersiul-siul, menggoda daun-daun, dan mengintip mereka yang hanya duduk berdua. Senja adalah bola merah yang kini makin tenggelam.

“Makasih selama ini kamu udah bersedia nemenin hidupku”.

Perempuan – yang mata indahnya begitu ia kagumi – hanya terdiam dan membiarkan tangannya dalam genggam lelaki itu. Ada getaran yang seakan datang dari aliran tubuh mereka.

“Aku memang bukan laki-laki yang selalu mengirimkan pesan cinta. Juga jarang menanyakan kabarmu. Tapi aku mau jadi laki-laki yang dampingin hidup kamu. Aku mau jadi laki-laki yang menemani kamu ketika kamu lelah, dan jadi laki-laki yang bisa nenangin kamu yang suka emosian”.

Lelaki itu mengambil jeda lagi. Masih ada sederet kalimat lagi. Tapi ia puas. Getaran kegugupan yang timbul tenggelam dalam dirinya tak membuatnya gagal. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya seakan mengalir dengan baik. Tak sia-sia, ia berjuang berkali-kali di hadapan cermin untuk memastikan kalimat-kalimat ini tersampaikan dengan baik.

Tapi, ada kalimat yang pamungkas… dan ia masih terdiam. Siulan angin menuju senja semakin menjadi-jadi. Gemerisik daun menjadi alunan musik latar mereka. Seorang penyair yang melakonlis mungkin akan menuliskan momen ini sebagai pengungkapan cinta yang sederhana. Dirayakan oleh semesta. Lewat alunan irama dedaunan yang bergemerisik digodai angin senja.

“Kamu mau nggak jadi pacar aku?”

Kali ini, ada jeda kesunyian yang lebih panjang. Lelaki itu mencoba mengoreksi diri dalam diamnya. Adakah kekeliruan dalam kalimat itu? Apakah itu ungkapan yang terlampau buru-buru. Lelaki itu segera menambahkan:

"eee… tapi aku ga bakalan pernah memaksa. Semua ini hak dan pilihan kamu. Begitu pun sebaliknya, kamu tidak boleh memaksa aku untuk tidak cinta sama kamu. Karena itu sudah jauh terlanjur".

Deg, ini saat yang menentukan. Perempuan itu masih diam. Seakan dia diciptakan untuk memahami makna lewat isyarat dan kesunyian. Apa yang ada di dalam pikirannya? Lelaki itu bersabar untuk menunggu. Detik-detik berlalu dan itu kian terasa menegangkan. Perempuan itu juga masih sibuk dengan diamnya. Mungkin ini seperti kalimat yang terburu-buru, dan perempuan itu tidak menyiapkan jawabannya. Kesunyian kini benar-benar mengambil alih. Senja yang kini sudah dilahap malam hanya menyisakan sedikit semburat yang tersisa saja. Perempuan itu kini seakan menjadi patung. Tak terlihat ada getaran apapun dari bibirnya. Ia benar-benar diam.

Lelaki itu ingin mengulangi lagi dalam kekacauan hatinya. Bahkan ia ingin mengoreksinya dari awal bila memang ada kalimat yang keliru. Tapi saat ia hendak mengatakannya lagi, tiba-tiba suatu suara datang dari dunia lain dan membuyarkan segalanya.

"Lu ngomong apaan sih! Jangan ngigau! Bangun lu!”.

Lelaki itu tersadar. Ia mendapati tubuhnya masih di kos-kosan. Sosok tubuh yang di hadapannya bukan seorang perempuan yang cantik. Tapi tubuh dekil, dengan rambut awut-awutan, dengan suara galak kayak setan. Mulutnya tak berhenti mengomel. Seluruh makian ditujukan pada lelaki yang masih susah menahan kantuknya.

“Bego! Lu ngajakin orang ketemuan, lu nya malah tidur. Dia ngebangunin lu dari tadi, lu nggak bangun-bangun. Tolol. Orangnya pulang sambil ngamuk-ngamuk noh”.

Lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya terdiam. Senja di depannya kini akan segera hilang dilahap malam. Sore ini, senja menjadi saksi dari ketololannya. Ia menyesal sekali. Ia hanya sedikit terhibur oleh salah satu judul novel Puthut EA, Cinta tak Pernah Tepat Waktu. Ia lalu cengar-cengir sendiri.

0Comments

Previous Post Next Post

ads