Penulis: Azhar Azizah

Tidak ada penolakan terhadap diri saya mengenai perkembangan paham-paham feminisme yang masih eksis berkembang sampai hari ini. Justru ini adalah suatu pencapaian dan perjuangan perempuan yang luar biasa. Karena intinya kita punya tujuan yang sama: “menyerukan kesetaraan”.

Namun kesetaraan yang bagaimana? Tentu kesetaraan yang tidak eksesif (melampaui batas) terhadap kodrat kita sebagai perempuan. Hal-hal atau perbedaan paham di dalam feminisme, wajar saja jika itu terjadi. Karena feminisme sendiri terdiri dari berbagai macam aliran. Dan sebagai seorang muslim, ada hal-hal yang tidak semua musti saya setujui, misal kebebasan berpakaian, kebebasan seks, dan lain-lain walaupun tujuannya untuk menunjukkan singa betina atau kemerdekaan perempuan.

Ya, saya akui, nilai-nilai agama itu memberikan sumbangsih begitu besar dalam hidup. Nilai-nilai agama juga tidak selamanya menyekat perempuan dalam belenggu norma agama. Justru nilai agama mengajarkan kita etika, moral dan pengetahuan yang baik sebagai seorang muslim dan sebagai seorang perempuan. Islam adalah sebaik-baiknya agama manusia, sebaik-baiknya nilai feminis, yang mengajarkan cara hidup yang baik. Dalam arti ini, tak berarti saya bawa-bawa agama dalam ruang feminis. Tidak. Hanya saja, ajaran agama jadi acuan atau batu loncatan kita dalam berbicara, berpikir dan bertindak yang baik. Dan feminisme pun mengajarkan bahwa "feminisme adalah proses, proses kita menjadi perempuan", dan islam serta feminis mengajarkan saya itu.

Kita dituntut untuk “mempelajari sejarah untuk menjadi bijaksana terlebih dahulu” begitulah kata John Seeley. Ki Hajar Dewantara juga pernah mengatakan: “Janganlah tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, janganlah juga terikat oleh rasa konservatif atau rasa sempit, tapi cocokkanlah semua barang dengan kodratnya”. Mungkin ini akan menjadi salah satu quotes favorit saya sebagai pijakan atau pedoman dalam menyusun kerangka feminisme yang benar dan sebagai seorang muslim dan perempuan.

Bagaimana pun, pemahaman dan keberpihakan kita pada feminisme ini tak lantas membuat kita sebagai perempuan merasa superior. Jangan kita terlalu fokus pada pengangkatan hak-hak kita saja. Perempuan harus menjadi dewi humanis dan anarki yang maju pemikiran. Laki-laki juga harus diberi ruang seimbang dalam pengangkatan hak mereka sebagai sesama manusia. Karena tidak semua laki-laki itu terbelenggu dalam superior dan patriarki. Hanya mereka yang mencari keuntungan di balik soal-soal keperempuanan saja yang pantas dikatakan 'patriarki'. Dan bukan hanya laki-laki saja yang pantas disebut patriarki, tak sedikit juga perempuan yang berpikiran patriarki. Inilah bahayanya produk kapitalis dalam bentuk patriarki. Mesin itu terus diolah dalam budaya masyarakat. Sehingga masyarakat terus berada dalam keterbelakangan dan stagnasi pemikiran yang masih kolot.

Lalu, hal yang paling miris yang dialami perempuan adalah masih minimnya hak para pekerja perempuan buruh pabrik. Gramsci menyatakan: “mereka rata-rata bekerja di bawah selimut kesadaran palsu”. Banyak sekali contoh tidak adanya hak yang sama dalam pekerjaan yang dialami para perempuan buruh tersebut, gaji yang tidak setara dengan pekerja laki-laki, jam kerja yang terkadang lebih lama (lembur), produksi yang tidak ada habis-habisnya, terkadang tak ada jaminan perlindungan kerja, bahkan terkadang tidak ada hari libur. Sesungguhnya dalam hatinya, mereka memberontak tak terima, tetapi demi penghidupan keluarga yang layak, dan terikat gaji dan kontrak, mereka tak bisa apa-apa selain menerima. Kalau sekiranya tidak percaya, coba saja lihat fenomena sekitar, atau coba sesekali menonton film “Maquilapolis”: barangkali anda mengerti, serba salah dalam menghadapi pekerjaan dan penghidupan.

Lihatlah, separah itu masalah perempuan. Separah itu juga budaya patriarki dan kapitalis, memberantas sampai membumihanguskan pikiran masyarakat. Belum menjadi seorang istri atau ibu, lalu demi penghidupan keluarga agar tak kelaparan, perempuan rela menjadi pegawai buruh pabrik. Hal seperti itu, kadang ada saja suami yang tidak bisa menerima kondisi tersebut dan malah bilang “kedudukan engkau sebagai seorang istri dan ibu tidaklah sempurna”. Padahal hidup keluarganya sudah miskin dan kerjaan si suami hanya main catur dengan tetangga. Istrinya menyadari itu, ini juga adalah kesalahannya, ia telah memilih pekerjaan ini, dan apa yang dikatakan suaminya benar juga, tapi apalah daya, suaminya yang tidak tahu diri, boro-boro kerja, disuruh cari kerja saja kadang-kadang suaranya seringkali lebih meninggi dan tak mau mendengarkan lagi. Ingin minta cerai, tapi teringat kepada anak-anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Realistis saja, fenomena macam ini sering kita jumpai. Andai saja jika suaminya itu bisa saling berbagi dan memahami jika tak ingin kerja. Semua pasti akan ringan, bahagia, walaupun sederhana.

Dari hal ini, bagi saya, masalah perempuan juga amat besar. Masalah perempuan bukan aib atau bulu ketek yang musti ditutup-tutupi. Masalah perempuan juga masalah negara dan kemanusiaan. Masalah perempuan haruslah menjadi masalah global. Masalah yang amatlah penting. Dan sah-sah saja jika demonstrasi buruh digalakkan demi menuntut kesetaraan kerja, perlindungan dan upah. Perempuan juga harus menunjukkan singa betinanya yang bijaksana dan benar. Menunjukkan pada budaya kapitalisme dan patriarki kalau ia bukan sekedar budak dan alat seks. Perempuan juga manusia yang harus dimanusiakan. Asalkan hal itu tidak eksesif dan bisa diterima oleh semua kalangan.

Adapun sekali lagi harus kukatakan, walaupun akhirnya perempuan ujung-ujungnya di dapur, tapi setidaknya melalui pendidikan, perempuan punya ilmu, bukan capek-capekin diri. Karena bagi saya, pendidikan adalah cara kita melawan. Dan pendidikan bukan hanya didapat melalui lembaga formal saja, tetapi fenomena yang kita lalui sehari-hari juga adalah ilmu pengetahuan dan pendidikan.

0Comments

Previous Post Next Post

ads