Penulis: Ghozy Mubarak Al-Akhyar


"Saat melihat gereja, engkau takut imanmu runtuh. Tapi saat membaca al-Quran tak sedikitpun hatimu tersentuh", itu jawaban Gusdur terhadap pertanyaan seseorang ihwal kerasnya hati. Mungkin ini bisa jadi pedoman moral terhadap mereka yang punya hobi menghujat saudaranya sendiri saat menghadiri acara tertentu di gereja, misal Natal.

Natal adalah hari untuk mengingat lahirnya Yesus yang dirayakan oleh umat Kristiani tiap 25 Desember. Marsh, dalam Christmas Traditions Around the World, menyebut bahwa di negara barat (Eropa dan Amerika), perayaan natal tidak hanya dirayakan dalam bentuk agamawi melainkan juga non-agamawi.

Di Indonesia, kenyataannya perayaan natal hanya dilakukan oleh umat Kristen. Namun karena natal adalah salah satu hari libur nasional, gedung-gedung besar pemerintahan ikut dihiasi dengan dekorasi natal. Sehingga seakan-akan tampak seluruh masyarakat Indonesia ikut andil dalam perayaan natal.

Suasana meriah itu sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesia -sebagai negara multikultural- begitu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Kemeriahan itu merepresentasikan wajah Indonesia yang saling peduli, mengakui dan menghormati di antara kalangan penganut agama. Suasana ini memang sudah semestinya terjadi di Indonesia.

Meski begitu, tidak sedikit pula yang mengotori toleransi dengan bertindak dan bersikap yang kontra terhadap narasi kesalingpedulian, penghormatan, dan pengakuan atas keanekaragaman keberagamaan. Salah satu wujud kontra atas narasi toleransi yang sering mengemuka adalah tuduhan bahwa memberikan ucapan selamat atas penganut agama lain dengan sendirinya jatuh pada ‘musrik’. Ini membawa kita pada satu pandangan atau penilaian sempit dan mengikis tradisi untuk saling mengucapkan selamat.

Inklusivisme Agama

Bila meneliti masalah dari terhambatnya sikap dan tindakan untuk saling memberikan ucapan selamat atas perayaan agama lain, akarnya ada pada interpretasi atas teks-teks kitab suci. Di dalam Islam, yang dijadikan landasan seringkali adalah QS. al-Imron ayat 19: “Innaddina ‘indallahil Islam (sesungguhnya agama yang diridhoi Allah hanya Islam )”.

Ayat ini seringkali dijadikan pijakan penguat keyakinan pada agamanya sendiri sebagai yang benar. Ditinjau ke dalam, penguatan ini tentu baik. Sebab ayat ini dapat memperkuat keyakinan (keimanan) atas agama yang kita anut. Tetapi ayat ini juga berpotensi menghambat untuk memberi pengakuan terhadap keyakinan agama lain dan berpotensi menyebut agama atau keyakinan yang lain sebagai salah.

“Islam” itu sendiri memiliki dua makna yang masih dirancukan, yaitu yang pertama adalah Islam sebagai “wadah” yang menaungi setiap orang yang masuk islam, dan yang kedua adalah islam sebagai sebuah “ajaran”, di mana ajaran itu bisa siapapun yang mendalaminya. Jika islam diposisikan sebagai sebuah ajaran, maka tentunya kita harus memaknai kata “Islam” itu sesuai dengan keadaan bahasanya yaitu bahasa arab. Di dalam bahasa Arab, makna “islam” adalah “berserah diri kepada Tuhan (Allah)”. Kata “Din” bermakna “jalan”, sehingga ayat “Innaddina 'indallahil Islam” bisa kita maknai menjadi “Sesungguhnya jalan yang diridhoi Allah hanyalah berserah diri kepada Allah”.

Etika Beragama

Persoalan makin minusnya ihwal saling memberi penghormatan atau pengakuan atas umat beragama yang lain adalah dipicu oleh krisisnya etika beragama. Padahal dalam dimensi agama, tidak hanya soal hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga ada aspek hubungan manusia dengan manusia. Hablum minallah, hablum minannas. Dalam konteks ini, maka beragama mestinya makin memperkuat aspek hubungan dengan manusia sebagai konsekuensi dari dekat kepada Tuhan.

Dalam diri Nabi Muhammad SAW, sebagai ‘uswatun hasanah’ (teladan yang sebaik-baiknya), sudah tercermin bagaimana mestinya etika dari orang-orang beragama. Salah satu yang sangat kontras dari etika beragama Rasulullah adalah beliau tidak pernah mengkafirkan orang lain. Sikap keberagamaan yang hidup dalam dirinya membuatnya menjadi manusia yang pemaaf, penyabar, dan baik dengan lingkungan sekitarnya.

Ambil kisah keteladanan ketika Nabi Muhammad berjalan menuju ka'bah, lalu ada seorang Yahudi yang diutus Abu Jahal untuk menyakiti baginda Muhammad SAW. Seorang Yahudi itu meludahi nabi tiap kali nabi menuju ka'bah, namun tak sedikit pun beliau menunjukkan rasa marah. Suatu hari nabi tak lagi bertemu dengan orang yang meludahi itu. Terdengar kabar bahwa orang tadi sedang sakit, nabi pun bergegas mengunjunginya. Dengan kuasa Allah orang Yahudi tadi terketuk hatinya dan mau menerima ajaran Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad. 

Sikap ini kontras dengan kondisi sekarang. Etika keberagamaan yang menekankan pada aspek sikap saling menghargai dan menghormati agama atau keyakinan lain justru tenggelam dalam debat-debat yang saling menyalahkan atau mengkelirukan agama lain. Kebijaksanaan teks-teks kitab suci dan hadits dilontarkan untuk meneguhkan keyakinannya sebagai satu-satunya yang benar dan menyalahkan yang lain sebagai yang salah. Apakah ini keliru?

Sekali lagi, dipandang dari sisi penguatan keyakinan atau keimanannya, tentu itu baik. Sebab tiap-tiap pemeluk agama mengimpikan jalannya benar menuju Tuhan. Tapi dalam kaitannya dengan agama atau keyakinan lain, apalagi digunakan untuk memandang agama lain sebagai salah, keliru, atau sesat, itulah yang bermasalah. Di sini nampak betul betapa krisis etika keberagamaan. Padahal, bila kembali lagi pada cerita Rasulullah di atas, ketertarikan orang beragama lain kepada Islam ditunjukkan bukan semata-mata oleh kuatnya argumen-argumen pembenaran diri dan penyalahan atas pihak lain, tapi berkat pengamalan yang kuat atas etika keberagamaan. Agama dibuktikan oleh tingkah laku yang mencerminkan keteladanan yang baik.

Bagi saya, keluarbiasaan Rasulullah adalah terletak pada cara beliau menunjukkan bahwa beginilah sikap dan etika keberagamaan yang benar, yang menjunjung ahlakul karimah, menekankan agama dalam hal keteladanan diri dalam hubugannya dengan penganut agama lain.
0Comments

Previous Post Next Post

ads