Cerpen Regista Trequartista


“Bapak”.

Aku mendengar suara itu. Dalam satu desiran angin, aku seakan sudah berada begitu dekat dengan suara itu.

“Di mana pun kamu berada. Semoga bapak kembali. Lastri membuatkan rumah kembali untuk bapak”.

Aku kini berdiri di suatu jarak. Suara itu berasal dari seorang anak gadis yang duduk di sebuah tanah luas yang dihuni ratusan-ribuan rumah-rumah menuju keabadian. Mata anak itu tertuju pada salah sebuah gundukan tanah yang ditaburi bunga-bunga oleh seorang perempuan yang bersamanya. Udara berdesir. Bunga-bunga yang baru dipetik membiarkan wanginya dimainkan udara. Terbang. Tak terlihat. Tapi dapat dihirup. Perempuan yang berkacamata ikut duduk di samping gadis itu. Kini keduanya kompak saling memejamkan mata. Tangannya ditadahkan ke langit. Mereka memanjatkan doa. Tak lama setelah itu, tangan mereka diusapkan masing-masing ke wajahnya. Lalu ditekankan ke dadanya sebagai pamungkas. Seakan isyarat penegasan panjatan doa itu berasal dari hati.

Begitu sebentar membuka kacamatanya, terlihat mata perempuan itu sembab. Tangannya menyeka air mata yang menggenang dan jatuh di pipinya. Dilihat dari wajahnya, ia tampak masih muda. Ia berjalan di sisi gadis itu.

“Bu”.

Perempuan itu berhenti. Demi dapat menatap wajah anak perempuannya, ia merendahkah tubuhnya. Rada menjongkok. Bertemulah dua pasang mata. Mata yang sama manis. Mata yang sama menyiratkan pesan, pertanyaan, dan harapan.

“Bu, bapak akan pulang kan?”

Udara mengusik kerudungnya. Kini tersingkaplah rambut yang bersembunyi. Perempuan itu tak sempat membetulkannya lagi. Tangannya menggapai tubuh anak perempuannya. Ia jatuhlah dalam rangkul peluknya. Kini mereka masing-masing pecah dalam tangis yang sunyi. Hanya kelopak matanya yang mengisyaratkan kesedihan itu.

Aku masih berdiri dari suatu jarak. Aku tak berani mendekati mereka.

“Bapakmu pasti pulang”, ucap perempuan yang dipanggilnya ibu itu. Udara berdesir lagi. Aku melintas sebentar di antara mereka bersama desiran angin. Tapi aku kembali menjauh dan berada di suatu jarak.

“Jika bapakmu tak pulang, mungkin bapakmu menunggu di suatu tempat. Kita nanti akan menyusul bapakmu”.

Kedua perempuan itu saling melepas pelukan mereka. Lalu kini berjalan lagi. Bergandengan. Mengambil jalan membelok ke kanan jalan setapak. Lalu ke kiri. Mereka hilang ditelan belokan jalan setapak yang ketiga. Tersamarkan oleh pohon-pohon yang merimbuni jalan setapak. Kini gundukan itu tinggal sepi lagi.

Aku berjalan mendekati gundukan itu. Kakiku terasa ringan. Tanah-tanah tak terasa dipijak. Aku seolah begitu ringan. Seringan udara. Bobot pada diriku sudah tak seperti dulu lagi. Aku berhenti tepat di depan gundukan itu. Mataku tertuju pada bunga-bunga yang masih segar. Bunga-bunga yang baru dipetik. Aku duduk di dekat kuburan itu. Aku seperti mengingat sesuatu.

“Perempuan itu. Anak gadis itu…”.

Aku berusaha menoleh ke jalan setapak yang tak ada siapa-siapa lagi. Aku ingin berteriak memanggil mereka. Sekarang aku mengingat sesuatu. Dan keyakinan bertambah-tambah lagi. Kedua mataku dapat melihat nama yang menempel pada papan kayu yang ditancapkan di atas gundukan itu. Nama itu digores dengan menggunakan batu kapur. Jelas tertera nama… Suroto. Namaku. Meninggal pada… Tak salah lagi.

“Halimah…Halimah…Halimah”.

Konon, aku telah meninggal lima tahun yang lalu. Pesawat yang kutumpangi jatuh ke laut. Seluruh tubuh pesawat itu hancur berkeping-keping. Tubuhku hancur berantakan. Bila masih ada potongan-potongan tubuhku yang utuh, ikan-ikan yang miliaran telah mendahului daripada petugas pencarian korban. Konon yang tersisa adalah tas hadiah dari Halimah. Keluargaku yakin tas itu milikku. Maka itulah yang kini menghuni rumah abadiku. Gundukan tanah ini. Ini untuk pertama kalinya aku akhirnya menemukan rumah ini. Ah, Halimah. Ah, Lastri anak gadisku.



0Comments

Previous Post Next Post

ads