Penulis Abd. Halim, Guru MIN 1 Balikpapan-Kaltim 

Hidup seseorang, siapa pun dia, tidak akan pernah bisa dielakkan dari pecinta dan pembenci. Haters dan Lovers adanya bukan akhir-akhir ini saja. Rasa suka, dan tidak suka seperti diberi angin segar oleh sosial media.

Penyuka dan penampik seperti punya pasar tumpah dan laku keras dengan harga murah. Difatwakan Buya Syakur dalam sebuah webinar dengan tema "Serunai Literasi Sufisme" gelaran cssmora UIN Bandung pada harlah ke tujuhnya, bahwa kebenaran itu bersifat relatif. Layaknya sebuah kebenaran, sufisme merupakan suatu istilah yang secara etimologi terapannya dalam kehidupan bukan hanya dijalani oleh umat islam saja, melainkan oleh Yunani Kuno khususnya dalam mencari kedamaian hidup.

Jiwa yang mencari ketenangan punya hak prerogasi menentukan cara dalam pelampiasannya. Sedih dan bahagia mutlak dimiliki oleh setiap jiwa bukan hanya oleh umat muslim tetapi pun juga oleh nonmuslim. Orang-orang terdahulu punya banyak cara dalam melampiaskan nafsu kesenangannya. Sebut saja salah satunya Harun Arrasyid. Harun Arrasyid ini mempunyai selir sebanyak 400 orang dan salah satu yang paling digandrunginya bernama Kholisoh.

Kecenderungan jiwa manusia berkebutuhan pada konsep ketenangan hidup, dan lagi-lagi ini bukan hanya dialami oleh umat muslin. Memilih pola hidup sederhana dari segi materi baru merupakan sebahagian kecil dalam mencari sumber kedamaian dari kehidupan ini. Spiritualisme hanya bisa dinikmati oleh jiwa yang bersih dari kecintaan terhadap kebendaan dan tolak ukur untuk menilai kesalehan seseorang dapat diperhatikan dari perlakuannya terhadap nilai-nilai moral.

Kecenderungan jiwa sufisme tidak ada kaitannya dengan hidup miskin atau menderita, compang-camping, atau bahkan berpenampilan kotor. Begitu pun dengan kesukaannya terhadap kemewahan pada kebendaan.

Kemudian Buya Syakur melanjutkan paparannya. “Jangan paksa jiwamu untuk mengagumi mati-matian seorang wanita pelacur yang Allah takdirkan esok harinya menjadi seorang sufis atau seorang sultan yang dengan harta kekayaannya setiap saat bisa bersedekah. Sebab sufi ada pada jiwa yang Allah kehendaki, lahirnya perkumpulan-perkumpulan tarekat tidak lantas ujug-ujug melahirkan seseorang menjadi sufi”.

Sufi adalah persoalan hati dan setiap yang hidup pasti punya hati. Jadi jangan berharap apalagi meyakinkan orang lain tentang hatimu, hal cintamu pada kehidupan yang megah, di gubuk kecil sekalipun sufi itu bisa enggan bila hatimu yang mati. Pengalaman hati bisa dimiliki oleh siapa saja, oleh yang berlagak preman atau yang yang tampak baik-baik saja bahkan terlihat suci.

Nikmati saja orgasme spiritual itu dengan hatimu, karena mendengarkan kisahmu, statusmu di beranda sosmedmu hanya membuatku muak, merasa penuh dosa, karena penuh syakwasangka semata dan duga-duga.

Nikmati saja orgasme spiritualmu, karena mengundurkan diri dari rasa belaka hanya membuatku buta hati, rasa tak cukup melihat dengan mata telanjang, tak cukup rasa mendengar dengan daun telinga, seringkali bisikan daun-daun lebih kuat membelai hati yang sedang haus akan ketenangan hidup. Atau kerangkeng saja keinginanmu untuk menikmati orgasme spiritual, bila hanya bersekutu dengan syaithan, musuhmu bukan dia saja, ada aku dengan keakuanku, ada kamu dengan keakuanmu yang setiap saat bisa menjauhkanmu dari ketenangan hatimu. Dan ingat musuhmu yang hakiki adalah nafsumu sendiri. Berikut semampu saya kisahkan kembali pengalaman berharga itu.

Kita seringkali mendengar atau membaca berita ada orang kaya raya yang mati bunuh diri atau sebaliknya orang miskin yang mati kelaparan. Cerita semcam ini berbanding lurus dengan kisah-kisah unik seperti berikut ini.

Pagi itu seperti biasa Pak Dirman keluar dengan sebuah becak tuanya yang sudah hampir 10 tahun menemani hidupnya di jalanan kota Surabaya. Di samping kanan dekat posisi tangannya tempat ia memegang setang becak, ada sebuah botol minum yang beirisi air mineral. Jangan ditanya apa merek air mineralnya karena botol itu dibawa dari rumah setiap ia berangkat menjadi nafkah dan telah diisikan oleh istri tercintanya.

Tiga kali memutari jalanan kota Surabaya dengan dua kali di antaranya mengantar penumpang ke terminal bus Bungur Asih. Pak Dirman terus mengayuh pedal becaknya yang sudah mulai lelah berputar. Di usianya yang setua itu, kerutan di wajahnya menggambarkan kerasnya kehidupan kota Surabaya.

Terlihat dari kejauhan ia menepikan becaknya dan meraih botol minum yang ia simpan di samping kanan setang becaknya. Bibirnya bergetar membaca doa sebelum menelan air minum sedikit demi sedikit. Ia bernaung di bawah rindangnya pepohonan setiap sudut kota yang asri. Mungkin ia pun merasa sangat beruntung tinggal di pinggiran kota Surabaya dengan wali kotanya Bu Tri Risma Harini yang dikenal sangat perhatian dengan penduduknya dan telah berhasil menghadirkan ikon kota Surabaya yang nyaman dihuni dan sejuk.

Terdengar suara Adzan Dzuhur berkumandang dari arah masjid dekat Pak Dirman menepikan becaknya. Ia bergegas menuju masjid dan berwudu untuk melaksanakan shalat berjamaah seperti hari-hari sebelumnya. Pak Dirman kembali ke bawah pohon tempat becaknya ditepikan. Di sana ia bersandar dan masyaaAllah dengan nyenyaknya ia tertidur.

Ternyata untuk nyenyak tidur tak perlu kasur mewah dan empuk. Tak perlu fasilitas ruang dan kamar ber-AC. Usahlah sekali-kali dibayangkan apakah pak Dirman tertidur karena kelelahan atau karena kekenyangan. Sebab dalam kenyataaannya orang yang bisa tidur dengan nyenyak adalah ia yang jiwanya tenang dan mampu melepaskan segala bentuk pikiran yang bermain dalam benaknya. Jangan pula dipertanyakan apakah Pak Dirman bahagia. Karena bahagia tempatnya di dalam hati. Apabila semua yang hidup memiliki hati maka ia pun pantas berbahagia dengan caranya sendiri.

Salam bahagia.

Balikpapan, 21 Desember 2020

Data Penulis, Abd. Halim, S. Pd.I Guru Alquran Hadis MIN 1 Balikpapan
Fb. https://www.facebook.com/Hardsense/
IG. https://www.instagram.com/aby_kembar/



2Comments
  1. abyk_kembar
    abyk_kembar
    sukses mengayomi insan literasi

Previous Post Next Post

ads