Corat-coret Ben Yowes

Suatu malam. Suasana sepi. Begitu cicak banyak ‘ngoceh’ dengan bahasanya yang tak aku mengerti, kudukku yang berbulu berdiri. Maksudku, bulu kudukku berdiri. Itu berdiri secara otomatis saja. Seakan refleks begitu saja. Barangkali nenek dari nenekku (moyang dari moyangku) terbiasa menanamkan horor pada bunyi cicak. Makanya anak-anak keturunannya – sampai keturunan ke sekian, ya aku sendiri – mendapatkan efek kurang baik dari warisan itu. Diwarisi ketakutan pada ocehan cicak-cicak di malam hari.

Aku tak pernah bertanya: mengapa bunyi cicak itu dibebani oleh suasana horor? Jangan-jangan mereka hanya mengigau, atau sedang ‘ngegibah’ atau bercinta, atau apapun itu. Saat mereka saling berkejaran, dan terlontar sahut-sahutan mereka, jangan-jangan mereka sahut-sahutan dalam sayang: beb, beb, beb. Jadi tak punya alasan kita takut dan menganggapnya horor. Tapi… ah, warisan yang tertanam lama dari sejak kecil di benakku tak dapat hilang. Suara cicak di malam hari tetaplah selalu horor. Dan terbayang mahluk-mahluk halus (dalam arti yang sesungguhnya: halus tak terlihat) datang bergentayangan sekitar kamar…

Malam itu, saat suasana sepi, dan aku sedang mengetik, entah apa yang aku ketik, aku sudah lupa, tak ada ocehan cicak. Aku tak mendengarnya. Mungkin aku terlalu serius berpikir, menatap layar komputer, atau memikirkan tumpukan tugas-tugas lainnya. Jadi rasanya sesudah aku duduk berjam-jam, tak ada suara cicak. Memang, begitu mataku menatap dinding, aku melihat satu-dua cicak merayap-rayap di sana. Tapi aku cuek sekali.

Tapi yang ingin aku katakan: pada satu kesempatan di malam itu, saat aku masih sejenak terdiam, dan tanganku juga sedang terdiam di atas papan keyboard laptop, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh. Terasa menempel di salah satu jari tangan kiriku. Aku mencoba menerka apa yang menempel itu lewat rasa. Aku mencoba menebak-nebak: kok rasanya begitu basah? Akhirnya aku putuskan melihatnya. Wah. Dasar!!!

Aku lihat ke langit-langit. Terlihat cicak yang sedang meregangkan ekornya. Aku membayangkan andai cicak itu adalah manusia, maka ia sedang menikmati kelegaan akibat taiknya berhasil meluncur dari pantatnya. Dan karena ia seekor cicak, dan menembakkan dari ketinggian langit-langit kamarku, maka taiknya melayang-layang terlebih dahulu sebelum akhirnya tiba di salah satu jari tanganku. Plak. Ces. Mungkin tak persis seperti itu bunyinya.

Begitu aku tahu kalau itu adalah tai cicak, warnanya hitam, terlihat dan terasa basah, aromanya mulai menusuk hidung. Ya tak salah lagi. Itu tai cicak yang jatuh dari ketinggian langit-langit kamarku. Cicak itu, sehabis meregangkan ekornya, tak merasa bersalah sama sekali. Apakah ia tak mendengar kalau malam itu aku mendengus kesal. Kesal sekali. Aku mencaci-makinya lewat suara yang aku tahan.

Malam itu, aku tak lagi menempatkan cicak sebagai hewan yang identik dengan horor. Cicak tak ubahnya hewan yang menyebalkan. Tidak tahu tempat. Sembarang menembakkan taiknya. Jari kelingkingku jadi korban kecerobohannya. 

0Comments

Previous Post Next Post

ads