Ditulis El Qudz 


Lelaki itu tak ada henti-hentinya menulis surat cinta. Tiap hari, ia akan duduk di kamar tiap pagi dan menuliskan seluruh isi hatinya. Hatinya tertambat pada seseorang yang tidak jauh dari rumahnya. Ia tetangganya sendiri. Kadang ia merasa bahagia memiliki tetangga yang anaknya aduhai. Tapi kadang ia merasa mengapa ia begitu dekat.

Kini El Qudz – demikian nama lelaki itu – sudah menulis surat ke-999. Dia berjanji tidak akan berhenti menulis surat sampai perempuan itu takluk kepadanya. Dia yakin betul surat-surat itu akan dibaca oleh perempuan itu. Tiap tinta yang menjelma sebagai serangkaian kata-kata, kalimat-kalimat, yang tertulis pada surat itu akan meluruhkan setidaknya beberapa titik air mata. Ia yakin betul kalimat-kalimat itu ditulis dengan kedalaman dan ketulusan hati.

“Apakah perempuan itu sudah membalas dari surat-suratmu?”

“Belum”.

Kawannya itu ingin meledak dalam tawa. Tapi El Qudz segera menyambar.

“Hanya orang-orang yang tidak mengerti perjuangan yang akan tertawa”.

Kawannya melongo seperti orang kebingungan.

“Bagaimana?”

El Qudz menggeser kursinya dan menghadap kepada kawannya yang terlihat tolol itu. Seperti layaknya pujangga, ia mulai menjelaskan perjuangan dari cintanya.

“Surat-surat itu sudah sampai sampai di rumah kekasih sejatiku itu. Kawan kepercayaanku mengetuk pintu rumah kekasihku itu. Lalu sang putri, tetanggaku yang cantik, muncul dari balik pintu dan surat itu berada dalam genggamannya”.

“Lalu?”

“Lalu dia akan berlari ke kamarnya. Dia tak sabar untuk membuka surat itu. Dia ingin tahu isi perasaan yang aku tuliskan dalam surat itu. Saat tangannya mulai membuka surat itu, kalimat-kalimat itu terlihat sebagai susunan kalimat-kalimat yang penuh cinta. Dia akan tenggelam dalam membaca surat itu. Dan bertambahlah cintanya kepadaku”.

Malam telah gelap. Kawannya yang tak percaya dengan bualan El Qudz itu hanya bisa tertawa. Kini ia betul-betul meledak dalam tawa.

“Aku akan pulang, kawan. Besok ke sini lagi untuk menertawakan lelucon-lelucon surat cintamu yang ke seribu yang tak dibalas-balas… hahahaha”.

El Qudz menendang pantat kawannya menjauh dari pintu. Dan ia menguncinya dari dalam. Kawan yang menyebalkan, gerutunya. Begitulah kalau tak pernah membaca kisah-kisah perjuangan cinta sejati, katanya lagi.

*
El Qudz tidak akan pernah putus asa. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa cinta butuh pengorbanan. Dia menatap lemari bukunya. Kini ia membuka lagi lembaran-lembaran Love in the Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez. Tentu itu sudah versi terjemahannya. El Qudz tak memahama bahasa latin.

Tiap hari, El Qudz mengulang-ulang novel yang setebal 600-an halaman itu. Ia terkagum-kagum dengan kesabaran Florentino Ariza untuk mengejar cinta Fermina Daza.

“Bayangkan 50 tahun. Ia harus menunggu 50 tahun”, kata lelaki itu setengah berbisik. Ia lalu menghisap rokoknya. Dan kepulan asap berbentuk hati muncul dari mulutnya yang dimonyongkan. Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dilihatnya di luar. Malam telah membuat dunia gelap gulita. Titik-titik cahaya kecil yang datang dari lampu-lampu penerang jalan dan dari rumah-rumah begitu kecil di hadapan malam.

Pikirannya melayang jauh ke tempat di mana kisah cinta Florentino Ariza dan Fermina Daza terjadi. Kini ia membayangkan dirinya sebagai Florentino Ariza dan tetangganya yang cantik itu sebagai Fermina Daza. Ia akan tetap menunggu perempuan itu. Surat-surat itu begitu ia yakini sampai di tangan sosok manis itu. Ini hanya soal waktu, demikian keyakinan lelaki itu.

“Ah, indahnya cinta…”, ucapnya setengah berbisik menyadari kebahagiaan dari perjuangan itu.

Kepulan asap muncul lagi dalam bentuk hati dari mulutnya. Kini asap itu segera berantakan dan meluncur lewat jendela untuk hilang ditelan malam.

Di kamarnya ini, El Qudzi merawat banyak sekali buku-buku berisi kisah-kisah cinta. Ada “Cinta yang Mengundang Gelak Tawa”-nya Milan Kundera, “Nyonya Bouvary”-nya Gustave Flaubert, “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta”-nya Luis Spuvelda, “Para Pelacurku yang Sendu”-nya Gabriel Garcia Marquez, & lainnya.

Tak hanya itu, lelaki itu juga rajin menulis kutipan-kutipan cinta di dinding-dinding kamarnya. Sekarang sudah ada 999 kutipan yang tercoret di dinding kamarnya. Seperti sebuah ritual yang aneh, tiap hendak tidur, dia akan membaca beberapa kutipan yang dibutuhkannya. Biasanya ia selalu membaca bagian kutipan-kutipan yang menguatkan moral perjuangan cintanya.

Begitulah setiap hari. Menulis surat cinta yang tak kunjung dibalas dan membaca kutipan kisah-kisah cinta menjadi ritual wajib setiap hari.

*
Kawannya pagi ini datang lagi. Tanpa seizin pemilik rumah, ia masuk dan menghempaskan tubuhnya di kasur El Qudz. Ia diam sebentar seakan membaca kutipan-kutipan yang tercoret di dinding kamar itu. Seperti biasa, dia akan selalu tertawa dengan kisah-kisah cinta El Qudz yang menurutnya aneh & tak masuk akal.

“Ini cinta bung”, El Qudz dengan nada agak kesal, “Cinta itu memang tidak masuk di akal. Kau harus tahu kisah-kisah cinta orang-orang di dunia. Mereka berjuang tanpa henti. Hingga titik penghabisan. Kau tak kan pernah tahu rasanya berjuang demi cinta”.

El Qudz makin kesal. Kawannya bukan mengiyakan, tapi malah semakin tertawa.

“Mana suratmu yang keseribu?”

“Sudah aku sampaikan”.

“Dibaca ngga tuh?”

Lelaki itu hanya sedikit terganggu dengan ucapan itu. Bagaimana bila memang surat-surat itu tak pernah dibaca? Bagaimana bila orang kepercayaannya itu tidak menyampaikannya? Nasib sial betul. Tapi lelaki itu tak mau menyerah dengan khayalan yang mengkhawatirkan itu. Ia masih yakin bahwa surat-surat itu dibaca oleh tetangganya itu.

Siang itu, seorang perempuan datang ke rumahnya. El Qudzi segera tahu dari suaranya. Perempuan itu adalah… ya tidak salah lagi. El Qudzi membayangkan, perempuan datang kepadanya untuk mengatakan perasaannya. Perempuan itu tidak bisa menulis atau mungkin tidak mau menulis surat balasan. Dia ingin bertemu dengannya. Ya ingin bertemu.

El Qudzi keluar dan menyambutnya. “Ibumu mana?”

Lelaki itu agak kecewa. Dia tak mencari dirinya, tapi ibunya. Waktu ia akan berbalik memanggil ibunya, perempuan itu mengatakan lagi.

“Terima kasih dengan surat-suratnya…”

El Qudzi terdiam. Ia tak membalikkan mukanya hanya agar ia bisa tersenyum tanpa diketahui perempuan itu. Ini cinta bung, ini cinta, katanya dalam hati dengan riang gembira.

“Tapi surat-suratmu tak pernah sampai”.

Ia agak kaget. Ia menoleh. Kini perempuan itu tak sendirian. Di sampingnya, ada seseorang dengan songkok yang tinggi, dengan kumis melengkung seperti celurit, dengan sorot tatap matanya kepadanya. Lelaki itu hanya mengatakan sedikit saja.

“Jangan lagi ada surat-surat cinta ke rumahku. Awas kau”.

El Qudz masih bergidik ngeri dengan ancaman itu. Dia berjalan dengan tubuh gemetar menuju kamarnya. Di kamarnya, El Qudz tak lagi percaya dengan kebohongan para pengarang kisah-kisah cinta. Ia mengutuk Marquez, Kundera, Sepuvelda, dan pengarang-pengarang yang pandai menggoda-goda hatinya dengan cinta dan perjuangan.

“Besok mau menulis surat ke 1001, kawan?”

El Qudz menatap kawannya dengan geram. Geram sekali. Tangannya mengepal. Otot-ototnya seakan mengeras dalam kepalan tinjunya. Kawannya tak menunggu lama. Ia segera kabur.
0Comments

Previous Post Next Post

ads