Penulis Ludiro Prajoko (Pengamat Sosial Budaya)



Tak banyak warga negara Indonesia yang berkesempatan berjalan-jalan mengunjungi Gunung Tambora. Semasa hidupnya, mbah Maridjan Merapi tampaknya juga tidak. Sungguh, itu suatu tempat yang indah, salah satu kemurahan Tuhan untuk masyarakat kabupaten Dompu di ujung Nusa Tenggara Barat. Di kakinya terletak Kecamatan Pekat, di mana pembangunan berjalan layaknya seorang gadis sedang menggeliat malas.

Tambora meletus! Dulu… tahun 1816. Melumat kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Menciptakan lautan pasir yang terhampar sangat luas. Beberapa pohon tumbuh berkelompok, tersebar di hamparan pasir itu, seolah lapangan golf yang dibangun jagat raya. Menjelang Natal tahun 2007, sekitar Tambora diguncang gempa. Tentu saja bukan keriuhan pesta tutup tahun. Manusia menghambur, membawa jerit yang melengking. Puluhan rumah roboh, sebagaian rata dengan tanah. Alam seperti halnya manusia, seringkali berubah menjadi ganas.

Di salah satu sudut ruang tamu sebuah kantor yang mengurus program pemberdayaan masyarakat, bertengger sebuah kardus ukuran sedang, dibungkus kertas kado, ditempeli kertas putih bertuliskan: “Peduli Dompu”. Dan, tidak banyak yang menyumbang. Godaan menuju kedermawanan yang berakhir agak getir.

Perjalanan menuju Pekat pasti melintasi lautan pasir itu. Tepat sebelum memasuki kawasan lautan pasir, ada sebuah tempat beristirahat sejenak: sebuah dusun, Hodo namanya. Hodo biasa-biasa saja. Hanya beberapa warung berderet, rumah-rumah penduduk menghadap ke pantai dan, sumber air yang mengalir dari lereng bukit kecil di seberang jalan, persis di bibir pantai. Airnya tidak payau. Entah bagaimana ceritanya, kemudian berkembang bisik-bisik, air Hodo bertuah. Sumber air itu tampaknya telah mengalami sejenis transendensi: tercantol pada sesuatu di balik langit.

Tetapi cerita pokoknya ini: ada sebuah rumah, paling ujung. Rumah itu kecil, untuk ukuran sebuah tempat yang dihuni manusia. Dibangun dari kayu dan bahan-bahan seadanya, teras depan dari kardus bekas yang dipasang layaknya menjemur pakaian. Tetapi rancangannya memberikan tanda dan semangat Sasak pesisiran. Seperti rumah-rumah yang didirikan di atas tanah rawa di Kalimantan. Lantainya di atas permukaan tanah. Untuk mencapainya, dipasang tangga. Di kolong rumah itu, siang itu, seekor anjing bermalas-malasan menjelang siesta: tidur siang.

Penghuni rumah itu seorang janda. Dilahirkan beberapa tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Jadi, sudah cukup tua. Bekerja serabutan sebagai pembantu di rumah sebelah yang memiliki toko paling besar di antara beberapa yang berderet di sebelahnya. Berupaya dengan tangan tuanya yang keriput untuk menghidupi diri dan seorang cucu lelakinya. Anak dari anak perempuan dan satu-satunya. Cucu lelakinya itu, tampaknya belum genap 5 tahun umurnya. Semoga, kelak, ia menjadi orang hebat. Syukur-syukur bisa menjadi anggota DPR.

Ia anak yatim. Ayahnya meninggal pada usia muda. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Si sulung perempuan, diambil anak angkat oleh sebuah keluarga di suatu tempat yang agak jauh dari Hodo, dan sejak itu, belum pernah menengok neneknya. Ibunya pergi ke suatu tempat yang jauh untuk bekerja, tidak begitu jelas kabar beritanya. Jadilah bocah itu tinggal bersama neneknya, di rumah kecil, paling ujung.

Siang itu, ia berdiri di depan sebuah toko. Menatap kesibukan beberapa orang yang sedang berbelanja dan segera menikmati aneka camilan buatan pabrik yang dibelinya. Ia hanya berdiri, nyaris dengan pakaian pada saat dilahirkan, menatap seperti seorang astronom sedang mengamati bintang-bintang, pada jarak yang menimbulkan rasa iba. Beberapa lama hal itu ia lakukan. Sampai seorang lelaki dewasa memberi isyarat sederhana, dan ia, bocah lelaki itu, segera berbalik, pergi membawa rasa ingin mengerat sepotong wafer: panganan ringan yang pasti belum ia ketahui namanya.

Sebuah isyarat, hanya dengan menggerakkan satu lintasan ujung telunjuk seorang lelaki dewasa, begitu efektif. Isyarat itu begitu komunikatif, kontan melahirkan kepatuhan. Karena melekat dalam gerakan ujung telunjuk lelaki dewasa itu kepada si bocah: pesan-pesan tentang etika kejelataan. Bocah itu, tak perlu diragukan, telah menyelesaikan studi tentang kejelataan. Maka, memahami betul bagaimana seharusnya menjadi jelata. Karena itu, ia seolah telah berjanji untuk menegakkan sebuah hirarki dan kaidah sosial.

Tapi, ada baiknya kita bertanya: apakah bocah itu memang rela imajinasi dan haknya ditundukkan sebuah isyarat yang begitu berwenang atas nama kenyamanan konsumen? Kita tentu maklum, konsumen camilan yang diproduksi pabrik, memiliki banyak sekali rasa risi. Paling tidak, pertanyaan itu, untuk bermain-main dengan perangkat yang disebut nalar, dengan harapan dapat menyehatkan.

Entahlah, bocah itu, tidak bercanda, juga tidak merenung, hanya duduk, persis di pintu masuk rumah neneknya. Kakinya berpijak pada anak tangga. Ketika disodorkan kepadanya sekantung plastik berisi makanan ringan buatan pabrik dan dua botol kecil susu rasa strawberry, ia surut kebelakang, masuk ke ruangan serba guna. Sebuah ruangan sempit tanpa sekat, yang akan dinamai sesuai kegiatan yang sedang berlangsung: ruang makan kala penghuninya makan, ruang tidur kala penghuninya tidur, ..

Bocah itu melongo, menatap kantong plastik itu. Sorot matanya menyiratkan adonan rasa takut, berselera, tidak percaya dan, rasa malu secukupnya.

Seorang bocah di Hodo itu, setidaknya, sampai hari itu: salah satu bocah malang di republik ini.

0Comments

Previous Post Next Post

ads