Ilustrasi: Ceknricek.com

Sempat terbersit modernitas dan segala kemajuan yang dibawanya akan mengeliminasi unsur-unsur kesadaran altruis (kepedulian atas sesama). Wajar. Keagungan modernitas dipasok dari dunia yang kita terlanjur memberikan cap: dipenuhi warna individualisme, pemujaan pada keberindividuan, ke-bodo-amat-an pada lingkungan. Katakanlah Eropa, meski kita mesti perlahan-lahan menyingkirkan pikiran itu. Sebab kebodoamatan bukanlah suatu keunikan kebudayaan tertentu, tapi lahir sebagai watak.

Di sini, di tempat kita berpijak, yang kita selalu agungkan sebagai kebudayaan dunia timur, sikap dan laku altruis masih terasa menempel kuat dalam watak masyarakat kita. Kehadiran teknologi dan laku budaya modern yang kian menyebar ke kampung-kampung tak sepenuhnya menyisihkan watak yang kita harapkan itu: altruis.

Satu contoh. Beberapa hari lalu, beredar di grup-grup whatsapp, seorang ibu yang harus menanggung beberapa anaknya, rupanya tinggal di tempat yang kurang layak. Segera sharing info tersebut membuat aspek altruis kita tergerak: mulai dari gotong-gotong royong membagikan informasi, dan berlanjut pada galangan dukungan lainnya. Tak sedikit yang ikut serta membagikan kepeduliannya: baik berupa dukungan do’a, dukungan membagi informasi (betapa pentingnya persebaran informasi), bantuan uang, dan tenaga lainnya.

Di tempat lain, dan di tempat yang lain-lain lagi, keindahan laku altruistik seperti ini terus berlanjut. Tapi memang altruistik ini seperti memilih lokasi-lokasi tertentu. Meski ini perlu ditinjau lebih jauh lagi, tapi nampak kita bisa mengambil kesimpulan sementara: laku-laku altruistik lebih menguat di daerah yang nuansa/suasana kehidupan kolektif masyarakatnya lebih kuat. Sementara di daerah-daerah yang cenderung watak masyarakatnya individualis, maka solidaritas atau laku altruismenya kurang mendapatkan “gema” yang kuat.

Kota-kota besar – meskipun kita perlu hati-hati untuk meninjaunya lagi – adalah tempat yang nampaknya makin kurang subur untuk laku-laku altruis masyarakatnya. Tak berarti pergeseran dari masyarakat desa ke kota adalah sebuah perjalanan menuju kehampaan altruis. Tapi ada soal lain di sana: salah satunya soal semakin terbelahnya aktifitas ekonomi masyarakat seiring dengan tuntutan hidup di kota.

Kota-kota besar adalah semacam rimba raya yang makin lama makin kejam. Survivalitas masyaraktnya nyaris ditentukan oleh adaptasinya terhadap akses ekonomi. Lingkungan menyediakan “kehidupan” bagi mereka yang punya akses pada ekonomi. Mereka yang tersingkir dan tersisihkan dari akses itu, maka dihukum dengan kemeleratan, kesusahan hidup. Sialnya, mengingat setiap orang dihukum untuk hidup dari memburu “uang” (kerja dan kerja untuk bisa survive), maka laku altruis yang dimiliki oleh orang-orang makin kehilangan keberfungsian matanya untuk sekedar melirik, mengedarkan pandangnya pada orang-orang lain.

Barangkali bukan keberfungsian pandangnya yang tak berjalan dengan baik, melainkan keberfungsian hatinya yang tak bekerja dengan baik. Atau barangkali keberfungsian mata dan hati bekerja dengan baik dan bisa menyaksikan baik dari mata dan hati kepada sekeliling, tapi hukuman untuk bersikap individu, untuk mementingkan diri, jauh lebih penting. Sebab hukuman itu berkata tegas: segala sesuatu yang ada di kota tidak diturunkan dari langit. Kota-kota besar sudah tidak ramah lagi pada tanah yang bisa menghadirkan tetumbuhan yang bisa dimakan siapa pun. Tiap-tiap tanah yang membentang di sana, sudah dikuasai oleh pihak-pihak tertentu. Maka untuk sekedar tinggal, di suatu tempat yang kumuh, yang hanya sejengkal pun, kau harus bisa menukarnya dengan alat tukar yang purba: uang.

Kos-kosan kumuh, petakan-petakan kecil, dengan jalanan yang bahkan lebih tepat sebagai jalur tikus, atau tempat berpestanya kecoa, itu juga bukan daerah yang diberikan secara cuma-cuma dari Tuhan kepada umat manusia. Tapi sudah melalui suatu intervensi tangan manusia lain yang mengambil manfaat ekonomi di sana. Kota sudah disulap sebagai ruang untuk bernilai ekonomi. Maka segala sesuatunya dipandang dari nilai-nilai ekonomi. Terpeleset sedikit pada jurang di mana kita tak punya uang untuk membayar tempat yang kita tinggali, maka terbanglah nasib kita menjadi manusia tanpa tempat tinggal. Hukuman lainnya akan menyusul: kau tak akan bisa memberikan tubuhmu asupan tenaga. Sebab makanan yang terpajang di warung-warung adalah wujud ekonomi yang lain-lain lagi.

Laku altruisme di kota ditekan pada titik yang hampir tak dapat berkutik. Kesengsaraan hanya akan menemukan saudaranya pada mereka yang sama-sama diterjang kesengsaraan. Sedangkan sebagian mereka yang sudah duduk di satu singgasana ekonomi yang tak terjangkau mereka yang melarat, kadang lupa untuk menengok ke bawah, tempat mereka terlampau tinggi.

Kota adalah rimba raya aktifitas ekonomi. Dunia di kota adalah dunia yang sudah dirundung gemerlap ekonomi, bertaburan uang-uang, berdampingan keserakahan mereka yang kaya dan sekaligus kemelerataan mereka yang papa.
0Comments

Previous Post Next Post

ads