Coret-coret Azhar Azizah

Ilustrasi: Ainul Yaqin



Apa yang ada di benak kalian ketika sedang punya uang? Apakah uang itu akan kalian hamburkan untuk kepuasan batin? Atau uang itu akan kalian belanjakan untuk sesuatu yang bermanfaat? Atau uang itu tetap disimpan?

Semua itu betul. Begitulah dilema saya dalam menghadapi surplus keuangan yang lebih besar: antara mau hedon, atau tetap menimbunnya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat?

Jujur, ini dilema terberat. Sangat membingungkan. Punya uang banyak juga ternyata cobaan berat. Kata seorang Ustad, "pada dasarnya Tuhan menciptakan dua cobaan kepada manusia. Cobaan ketika mereka sedang kesusahan, dan cobaan ketika mereka sedang bahagia. Dan cobaan yang terberat ada di cobaan nomor dua."

Barangkali, pernyataan ini benar. Saya setuju: dalam keadaan bahagia (dengan surplus uang di tangan), sesungguhnya kita diuji antara sabar tetap menyimpannya atau menghabiskannya demi kepuasan batin belaka.

Tapi entah mengapa, begitu melihat buku, gairah saya naik dua kali lipat atau ketika saya scroll aplikasi online shop dan melihat toko buku, libido saya langsung naik. Di antara barang yang tertera di layar, memang ada baju, celana (walaupun fashion juga penting bagi saya), atau obat pelangsing. Tapi buku justru terlihat lebih menonjol, dan lebih menarik mata. Dalam ungkapan yang agak hiperbolis: saya seperti melihat cowok ganteng menyisir rambutnya yang basah sehabis sholat jumat. Begitulah godaan buku-buku yang tertera di layar (online shop).

Selain itu, saya juga menyadari bahwa saya terlalu detail dengan keadaan buku. Bagiku, buku seperti teman karib. Kata-kata atau kalimat yang tertera di sana (buku) seakan mengajak berbicara, bertukar cerita, pikiran.

Jokpin bilang, "Beribadah kata". Ya begitulah yang saya rasakan.

Setiap kali saya membeli buku, saya langsung ada gairah untuk merawatnya. Misalnya, menyampulnya dengan rapih. Sangat rapih, jangan sampai ada yang mencong dikit ke sana kemari. Apalagi sampai buku itu lecek, basah terkena air bahkan kopi.

"Kagak banget dah!".

Saya selalu mewanti-wanti soal keadaan buku. Kadang rasanya saya seperti orang yang pacaran dengan buku. Begitu perhatian. Begitu sayang. Suatu ketika, sepupu saya pernah meminjam bukuku. Tapi setelah baca, ia taruh berantakan, gak disimpan rapih kembali di dalam rak. Saat itu aku tanya, setengah menegur, setengah mengingatkan juga. "Ini buku mana nih? Kok gak disimpen lagi". Demi air kobokan warteg, begitu hati-hati dan sayangnya saya dengan keadaan buku. Apalagi jika buku itu, buku yang gampang saya baca.

Suasana cinta yang setengah mati kepada buku ini membuatku bertanya-tanya: s"ini gue kenapa ya? Kok sampe segitunya sama buku?" Penasaran, saya pun mencoba mencari tahu, apakah saya punya kelainan terhadap buku? Di internet, saya temukan kata: bibliophile (inggris) atau bibliofilia. Dikutip oleh idntimes.id, bibliophile ini adalah sebuah istilah untuk seseorang yang benar-benar mencintai buku baik itu membacanya dan mengoleksinya.

Tetapi, dalam pengertian itu, saya tidak menemukan sebuah obsesi yang berlebihan. Menurutku, dalam pengertian dari kata itu: kecintaan atas buku masih terbilang wajar. Mengoleksi, membaca, dan merawat buku yang sudah dianggap sebagai seorang sahabat karib. Ataupun mendirikan perpustakaan pribadinya dan rela mengeluarkan sejumlah uang demi buku favoritnya.

Tapi di dalam pengertian bibliofilia itu, ada beberapa ciri yang sama dengan saya: (1) seorang bibliofil sangat spesifik dalam menyusun buku-bukunya. Ia memilah buku berdasarkan warna atau abjad atau pengarang; (2) seorang bibliofil memandang buku sebagai dekorasi rumah yang sangat penting. Ia sangat tekun merancang interior rumah agar buku-bukunya mendapat tempat yang pas untuk dipajang; (3) ia memiliki perpustakaan kecil, karena seorang bibliofil mendefinisikan bahwa "sebuah rumah tanpa buku ibarat tubuh tanpa jiwa", (4) perpustakaan dan toko buku merupakan tempat favoritnya, dibanding toko kue, toko baju atau toko kosmetik; (5) bibliofilia senang menandai kutipan-kutipan yang menurutnya penting dari sebuah buku, dan saya seringkali melakukan itu atau mungkin tidak, karena dapat mengotori buku jika banyak saya tandai dengan menggarisbawahi kata-kata yang menurut saya penting.

Dan kira-kira begitulah kesamaan saya dengan seorang bibliofil, atau mungkin saya sendiri telah menjadi seorang bibliofilia. Karena bagi saya, buku adalah satu-satunya teman paling utuh yang selalu hadir sampai ketika kita sudah tiada. Ia akan selalu hidup walaupun hanya berada dalam sebuah rak yang dipenuhi buku-buku lain.

Buku adalah barang berharga bagi saya yang tidak boleh dirusak, dihancurkan dengan cara yang disengaja. Lembaran pada buku, adalah jiwa buku itu sendiri. Dan kondisi pada buku adalah tubuh buku itu sendiri. Jadi keputusan membeli buku apa tidak? Masih menjadi dilema terberat.
0Comments

Previous Post Next Post

ads