Resensi Ben Yowes



Jika anda pernah sakit gigi, mengeluhkan sendiri dalam kesunyian, meraung-raung dalam hati, kadang menitikkan air mata, dan susah untuk menjelaskan derita sakit ini kepada orang lain untuk meminta simpati (sebab umumnya orang memandang sakit gigi sebagai sakit yang biasa), maka Beaumont, tokoh utama dalam novel yang berjudul “Hari Ketika Beaumont Berkenalan dengan Rasa Sakit dalam Dirinya” sedang bergulat dengan masalah itu.

Sepanjang novel yang tak tebal ini, hanya 54 halaman, si penulis – J.M.G. Le Clezio – membawa kita menikmati (maaf mengikuti) penderitaan Beaumont. Penderitaan tentang lelaki yang sakit gigi, sejenis penyakit yang agak mirip dengan sakit hati – sebab si penderita terlihat baik-baik saja, tak ada luka lebam atau apapun yang tampak pada fisik di permukaan tubuh, tapi di kedalaman hati, eh gusi, kau akan menderita nyeri.

Si penulis seakan mengatakan kepada kita: di luar perkara hati, sakit gigi adalah perkara pesakitan yang paling sunyi. Sakit gigi adalah derita sakit yang paling sunyi. Kau hanya perlu menikmatinya sendirian, kau boleh menangis, meraung-raung sepuasnya. Tapi orang hanya akan memahami dengan santainya: kau hanya sakit gigi. HANYA.

Berbeda dengan kita yang cenderung menyepelekan sakit gigi, si penulis menggambarkan penyakit ini dan segala penderitaan yang ditanggung lelaki itu dalam gambaran yang sangat dramatis. Begitu sakit menyergapnya, Beaumont tak bisa tidur. Terbangun berkali-kali untuk meminum aspirin dan obat tidur dengan harapan yang tak maksimal: sembuh sebentar dan sakit lagi. Bahkan penyakit itu membawanya pada suasana yang surealis – dalam pengertian suasana narasi yang tidak masuk akal, melampaui yang realistis.

Dalam sakit yang begitu parah, lelaki itu menelpon seorang perempuan – aku lupa, apa ia kekasihnya? Lelaki itu berbicara panjang lebar, menjelaskan penyakitnya, segala deritanya, dan berharap bukan hanya dipahami, tapi dirasakan dengan hati oleh perempuan itu. Beaumont meminta perempuan itu datang kepadanya.

Tapi, perempuan itu menolak untuk datang. Waktunya tidak tepat. Sebaiknya ia akan datang nanti pada pagi. Dini hari itu jam tidur. Susah untuk menghubungi dokter di waktu dini hari. Begitulah dalih yang disampaikan perempuan itu sebagai penolakan. Di titik ini, ada beberapa problem yang menarik kita urai.

Pertama, perempuan itu terlampau patuh pada basa-basi norma konvensional soal waktu. Ia patuh pada kategori soal waktu yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik, dll. Di situ, ia gagal menangkap yang ‘prioritas’. Ia menempatkan soal norma waktu sebagai yang utama, dan menomorduakan derita lelaki itu.

Kedua, perempuan itu menyebut sakit gigi lelaki itu hanya penyakit sepele, remeh-temeh – suatu hal yang diyakini kolektif masyarakat. Ketika lelaki itu menjelaskan penyakitnya – dengan penjelasan yang gawat dan dramatis, ia nampak kukuh pada penilaiannya yang yakin bahwa sakit gigi itu sakit yang remeh temeh. Ia hanya menyarankan kepada lelaki itu agar tahan, sabar, dan tunggu berobat besok pagi. Saran yang sudah pasti dipandang konyol dan ditolak oleh lelaki itu.

Memang betul, sakit gigi – dalam pandangan yang lumrah di masyarakat – hanyalah sakit yang remeh temeh. Tapi di sini, penulis – melalui penolakan si perempuan – seakan sedang memainkan pikiran kita bahwa benarkah sakit gigi itu remeh temeh? Benarkah kita mengambil kategori mana penyakit yang remeh dan tak remeh dengan sekedar merujuk pada asumsi kolektif masyarakat?

Sakit gigi – betapapun itu terlihat remeh – tidak bisa dirujukkan pada penilaian atau asumsi kolektif masyarakat. Sakit gigi – dan begitu pula dengan sakit-sakit yang lain – adalah masalah individu. Sebagai masalah individu, maka derajat ‘derita’-nya menjadi sangat variatif. Derita itu sangat bergantung pada subjektivitas masing-masing individu dalam menerima penyakit. Sakit yang sama bisa berbeda pada tiap individu. Sehingga, perempuan dalam tokoh ini adalah ‘kita’ yang suka menggeneralisasi rasa sakit.

Lelaki itu kecewa. Begitu pagi tiba, ia langsung menelpon siapa pun yang bisa dihubungi. Ia menelpon nomor-nomor secara random. Pada satu momen, suara di seberang adalah seorang gadis. Terdengar muda dan bersimpati. Tapi di titik ini, lelaki itu sudah tidak membutuhkan siapa pun. Dia hanya ingin bercerita saja: ia bercerita tentang sakitnya, tentang seseorang yang dimintanya untuk datang (tapi tak datang), dan keputusannya kini yang tak lagi menginginkan siapa pun untuk datang.

Kekecewaan akibat penolakan perempuan itu telah membawanya pada keputusasaan: ia kini ingin menikmati deritanya sendiri dalam kesunyian. Ia tak lagi ingin orang lain untuk datang memberinya pertolongan. Bahkan betapa pun sakit itu membuatnya menderita, tapi ia nampak lebih bahagia menanggungnya sendirian. Seakan ia merasa ‘percuma’ menjelaskan penderitaan kepada orang lain yang meresponnya bukan dengan simpati dan perasaan, tapi dengan pikiran. Alhasil, baginya sakit gigi yang dideritanya adalah kawan dalam kesunyian.

Novel ini terasa membosankan bila kita tak sabar untuk menikmati perjalanan detail-detail cerita yang membuat cerita ini seakan tak bergerak.
0Comments

Previous Post Next Post

ads