Oleh: Fauzan Nur Ilahi

Gambar: Kompas.com

Setelah Sapiens, Homo Deus, serta sebuah buku berjudul Money: Hikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan yang notabene hasil ekstraksi dari kedua buku di awal tersebut, Yuval Noah Harari kini muncul di hadapanku dengan “21 Lessons for 21th Century”-nya. Seperti biasa, dia selalu berhasil membuatku berdecak: kadang decak kagum, kadang juga decak yang lebih dekat ke heran.

Pasalnya, selain pemaparannya mengenai kemajuan sains (dan betapa positifnya dia memandang hal ini), kritik serta beberapa ajuan dia terhadap demokrasi liberal yang digadang-gadang sebagai ideologi final dunia, juga pantas kita telaah.

Sejak awal, pembahasan dalam buku ini memang menyoroti betapa demokrasi liberal sudah mulai harus berbenah. Memang, persoalan khas abad-abad sebelumnya semisal pada abad 19 yakni wabah, peperangan, serta kelaparan sudah mulai mampu diatasi dibuktikan dengan angka kematian karena ketiga hal itu yang kian menurut. Tetapi di sisi lain, lubang hitam akibat demokrasi liberal juga menjadi perbincangan hangat dewasa ini. Yaitu, ekologi yang kian ringkih dan disrupsi teknologi.

Kita tahu, demokrasi liberal juga akhirnya melahirkan beberapa “dogma”. Sebut saja dogma pasar bebas; kesetaraan; atau hukum universal yang termanifestasi dalam HAM. Beberapa hal ini akhirnya juga mengantarkan para penganutnya pada pengembangan bioteknologi dan teknologi informasi yang tidak ada pretensinya pada masa-masa sebelumnya. Dalam proses perkembangan biotek dan infotek inilah problem ekologi dan disrupsi teknologi muncul.

Tak sampai di situ, progresifitas biotek dan infotek yang luar biasa juga membawa umat Sapiens ke dalam otomatisasi pada setiap profesi. Ini juga merupakan persoalan yang hingga kini belum ada jawaban pastinya.

Jika pada Sapiens dan Homo Deus Harari belum menyentuh tentang beberapa opsi yang dianggap potensial dalam menjawab persoalan “apa yang akan umat Sapiens nanti kerjakan jika setiap profesi sudah terotomatisasi?”, maka dalam buku yang tengah kubaca saat ini, dia membeberkan dua opsi: pertama, Basic Universal Income (BSI) yang artinya pihak pemerintah akan memajaki para mililarder serta perusahaan pengendali robot serta algoritma, dan membagikan hasil pajak ini kepada masyarakat luas.

Kedua, Universal Basic Service (UBS) yang artinya, kita (khususnya pemerintah) memperluas makna “pekerjaan”. Jika pada hari ini menyusui atau mengasuh anak tidak dihitung sebagai pekerjaan, pun merawat kerukunan atau membina karang taruna serta ibu-ibu PKK, maka dalam UBS pekerjaan-pekerjaan itu akan dianggap sebagai profesi (suatu pekerjaan yang akan mendapatkan keuntungan finansial). Pemerintah dalam hal ini akan memegang peranan sebagai “bos” yang akan memberikan para pekerja tadi upah.

Harari memang seorang liberalis. Liberalis kritis, lebih tepatnya. Oleh karena itu, walaupun dalam buku-bukunya kita menemukan bagaimana pandangan dia terhadap komunisme yang dianggapnya usang, namun dalam konteks ini, Harari mengakui bahwa UBS sejatinya tidak berbeda dengan apa yang kita olok-olok sebagai “utopisme kaum komunis”. Tetapi di saat yang sama, dengan lapang Harari mengatakan, “Meskipun rencana komunis untuk memulai revolusi kelas pekerja sudah ketinggalan zaman, mungkin kita harus tetap menyasar untuk mewujudkan tujuan komunis dengan cara yang lain?”

Selain betapa tidak menguntungkannya sikap anti, di sini kita juga belajar bagaimana melihat bahwa evolusi sejatinya belum berakhir. Entah evolusi biologis (bagi para pembaca yang percaya), atau evolusi secara sosiologis. Dua cara tadi mungkin akan membantu umat Sapiens dalam meneruskan hidup, tetapi mereka akan jauh lebih terbantu apabila mampu mengembangkan potensi diri.

Apa yang dikatakan Harari bisa saja hanya menjadi bualan semata. Tetapi terlepas dari hal itu, aku percaya pada sebuah riset ilmiah. Dan apa yang Harari katakan, bersandar terhadapnya. Sehingga sekali pun spekulasi Harari (seperti yang diakuinya) tidak benar-benar terjadi sebab sejarah selalu memiliki cara tersendiri, beberapa persoalan yang telah dibahas di atas jelas berada di depan hidung kita. Kini!

Terjadi atau tidak adalah persoalan kedua. Yang lebih awal adalah bagaimana kesiapan kita dengan segala kemungkinan. AI betul-betul berkembang pesat. Otomatisasi dalam segala profesi juga sudah terjadi. Persoalan ekologi dan penyalah-gunaan teknologi juga menjadi masalah bersama. Maka tak bijak jika kita menyikapinya hanya dengan minum teh sembari mendengarkan lagu-lagu Korea seakan berada di Taman Eden.

Beberapa saran di atas memang tampak terlalu global. Negara kita, jika ditinjau dari segi kesiapan, tentu tak siap menempuh cara-cara di atas. Selain praktik korup yang mengakar, beberapa faktor penopang semisal sistem birokrasi yang masih acakadut, otomatisasi profesi juga tidak akan berlangsung dalam waktu yang relatif dekat. Oleh karena itu, hal ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memompa potensi diri.

Sudah cukup kita melihat bagaimana beberapa tahun terakhir konfrontasi yang terjadi antar angkot, ojek, atau jasa angkutan umum konvensional dengan pengemudi ojek online. Ini adalah satu dari sekian contoh bagaimana perkembangan teknologi dan sains jika tidak disikapi dengan bijak. Kita tidak bisa mengutuk bak seorang Luddite (seperti istilah Harari) akan biotek atau infotek yang terus-menerus memperbaiki diri tanpa menunggu kemampuan manusia meningkat.

Sekalipun suatu kebijakan politik mampu membendungnya, hal itu tak akan bertahan lama. Perkembangan biotek dan infotek akan merembes ke dalam masyarakat, ke dalam suatu komunitas manusia yang di antaranya ada para petani, nelayan, tukang sol sepatu, penjual toko kelontong, tukang becak, tukang ojek, serta seabrek profesi lain yang hingga hari ini, kita belum bisa membayangkan bagaimana nasib mereka jika proses otomatisasi tidak kita sikapi dengan sebijak mungkin.

Tidak ada jalan lain. Selain berharap pada suatu sistem anyar yang mampu menopang fenomena yang juga sama sekali baru ini, kita mutlak harus mengembangkan potensi diri. Tujuannya satu: agar mampu beradaptasi! (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

ads