Ilustrasi: Ainul Yaqin



Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan akhir-akhir ini. Kalender lusuh yang tergantung dengan begitu mengenaskan di tembok kosanku sudah terkotori dengan coretan lingkaran demi lingkaran dari tangan sosok lelaki yang tak punya semangat menjalani hari demi hari. Ya, saat ini, aku seperti tubuh yang hilang jiwa. Aku tubuh yang hanya rangka. Digerakkan oleh kesepian, kebosanan, dan ketiadaan semangat hidup yang menyala-nyala.

Dihitung dari awal coretan, tintanya masih menyisakan aroma yang kuat. Baru ada 35 angka yang aku coret. Baru sebulan lebih lima hari. Ah, itu masih terhitung sebulan. Rasanya, aku ingin waktu cepat berlalu. Aku ingin segera melewati masa-masa ini.

Pintu kosan diketuk. Terbuka. Seseorang berdiri. Dengan tubuh yang juga tak kalah semerawut. Ia tersenyum. Tanpa peduli pada tuan rumah, ia masuk dan duduk seenaknya saja. Lagi-lagi tersenyum seperti orang gila. Tapi senyumnya seperti menggoda, melecehkan. Ia seperti tahu betul rimba raya rumit perasaanku.

“Rokok dulu”, ia suguhkan rokok kepada pemiliknya sendiri, “tak baik menghabiskan hari-hari yang menyenangkan ini dengan wajah ‘madesu’, bung”. Madesu adalah bahasa keseharian yang tak bakal kau temukan di KBBI. Ia hanya semacam akronim bikinan sendiri yang berarti: masa depan suram.

Aku raih sebatang. Kawan yang kusut dengan baik hati menyalakan korek dan membantu membakarkan ujung rokok. Sekali hisap, dua-tiga asap mengepul. Mulutku sudah seperti cerobong asap pabrik. Tanpa diminta, kawanku sudah memulai kisah-kisah besar (begitu katanya). Nama-namanya ia tukil dari karya-karya orang luar, penulis-penulis kisah fiksi.

“Bung, tidak sendirian tentu saja”, setelah hampir 15 menit bercerita layaknya seorang tukang fatwa dan tukang motivasi tanpa aku sela. Aku hanya mendengarkan saja. Cara ia membual memang meyakinkan. Ia menggambarkan kisah-kisah orang patah hati, dan segala kerumitan hari-harinya. Ada yang bunuh diri, ada yang gila, ada yang keranjingan bernyanyi, ada pula yang kerajingan menulis puisi. Dan sebelum melanjutkan lagi, ia berhenti sejenak dan menatap diriku.

“Ada yang tetap tak berbuat apa-apa, tak bunuh diri, tak menulis puisi, pokoknya masih seperti semula, kau mau tau, bung?”

Aku mengangguk malas.

“Tentu saja kau, hahahaha”, ia terus tertawa terbahak-bahak. Ia begitu puas menikmati lelucon yang membuatnya begitu bahagia. Lelucon yang bagiku tak memiliki unsur kelucuan. Dia masih terus tertawa sampai dihentikan oleh asap yang tak sengaja ia hisap dengan cara yang salah dan membuatnya terbatuk-batuk. Barulah kali ini aku tertawa. Rupanya kelucuan kadang datang dari sesuatu yang sepele, misal kekeliruan orang lain yang bahkan membuatnya tersiksa.

“Yang lucu bukan bagian ini bung”, kali ini ia menegurku.

“Kau dari tadi membuat lelucon yang tak menyenangkan”. Dan ia tertawa lagi.

*
Seminggu yang lalu, kawanku yang semraut itu memberikan nasehat yang katanya jitu, dramatis, dan itu bisa membuat kekasihnya tersedu-sedu membacanya. Pokoknya, itu akan membuatnya tertonjok. Kekasihmu itu, katanya, harus ditonjok sisi kepekaannya supaya dia tidak lupa bahwa dalam cinta, mesti ada pengorbanan, penerimaan.

“Bung, aku sudah menerima alasan-alasannya. Apa yang dikatakannya benar. Lagi pula ada kekuatan besar yang membuatnya harus mengambil pilihan: keluarga. Dalam pandangannya, dan pertimbangan kekuatan besar itu, aku tidak layak untuk jadi pendamping hidupnya”.

“Kau memang miskin, bung… hahaha”, ia tertawa dengan puas hati. Tawanya semakin lantang dan rasanya terdengar ia seperti menertawakan diri sendiri. Tawa itu berangsur-angsur padam. Dan raut mukanya kembali serius.

“Tenang bung, jangan tersinggung, karena kita sama. Sama-sama miskin. Tapi kemiskinan tak boleh membuat kita terdorong ke belakang. Paham?”, ia menatapku. “Ah, maaf, bahasaku terlalu tinggi. Begini. Bila dia mencintai bung, maka dia mesti tuli dengan pandangan-pandangan orang lain yang membuat hubungan ini retak. Orang bilang cinta itu buta, ya memang harus buta, bung. Kalau dia masih melek dengan pendapat orang lain, pertimbangan material dan hal-hal lainnya dari orang lain, yang membuat kalian kandas, itu belum buta”.

“Ini soal masa depan bung. Bila menjurus pada pernikahan, cinta tak boleh buta, bung”.

“Oh, bung mau mendebat saya. Boleh, nanti kita atur waktu untuk berdebat. Tapi saat ini, ada yang lebih penting. Kita tonjok dulu perasaannya. Kita buka pikirannya. Sini, berikan aku kertas. Ini yang akan aku tulis”.

“Dia sudah kokoh, bung”.

Ia berhenti sejenak, dan menatapku lagi. Kini kertas dan bolpen tergeletak kembali.

“Bung, mencintainya kan?”

Aku hanya diam. Aku tentu mencintainya.

*
Benar yang dikatakannya. Betapa pun, aku tak boleh terdorong ke belakang. Aku harus mengatakan sesuatu secara jujur. Aku akan menyisakan jejak-jejak kemarahan dalam perpisahan ini. Maka aku sudah mendapatkan apa yang harus aku tulis.

Dey… aku anggep hubungan ini sudah selesai. Bukan karena aku menyerah, tetapi karena aku sadar, bahwa perjuanganku tidak berbalas. Kamu yang mau hubungan ini berakhir.

Sambil tanganku memandu bolpen bergerak di atas selembar kertas, menerjemahkan aliran kata-kata yang seperti terjun dari pikiranku, suasana malam yang sepi menambahkan kemarahan yang aku dengar lewat degup jatungku, dan derai nafasku. Aku sudah terprovokasi untuk menulis kalimat-kalimat yang marah.

Setiap ucapan, perilaku, atau pikiran kamu, bukan suatu sikap yang keluar dari orang yang mau berjuang. Tetapi sikap itu keluar dari orang yang dalam pikirannya sudah mau putus.

Aku seperti terlempar pada gambaran-gambaran selintas. Kemarahan membawaku pada lintasan momen demi momen yang menggambarkan betapa aku seolah dipaksa berjuang sendiri. Aku melihat wajahnya yang tak lagi menunjukkan semangat menimbang-nimbang alasan demi alasanku. Setiap upaya untuk menegakkan hubungan ini, rasanya membentur satu tembok kokoh yang di belakangnya bersandar pada satu kekuatan keluarga. Alasan satu-satunya yang tak bisa lagi ditawar-tawar, aku miskin. Aku tidak bisa menjadi pendamping seumur hidupnya. Aku tak bisa.

Aku berjuang sendiri. Dan setiap hubungan yang diperjuangkan sendiri, pasti melelahkan dan membunuhku secara perlahan. Oleh karena itu, bagiku, hubungan ini SELESAI.

Aku berhenti. Aku meninjau lagi kata terakhir. Tanganku secara tak sengaja memencet tombol “capslock”. Dan satu kata yang muncul adalah sebarisan huruf-huruf kapital. Aku tak kaget. Aku justru puas. Seolah kata SELESAI itu puncak dari kemarahanku. Bila itu diucapkan, seolah suara yang muncul dalam diriku dengan volume suara yang begitu tinggi. Lalu aku berteriak dalam kesunyian itu.

“S-E-L-E-S-A-I”.

Kata itu menggema dengan penuh emosi. Bahkan dalam beberapa menit berikutnya, kata itu masih menggema. Aku mendengarnya ia seolah terpantul-pantul di dalam dinding hatiku. Kata terakhir itu seolah terus menggema. Mungkin akan abadi. Mungkin itu jejak kemarahanku yang kini memuncak.

Kini aku keranjingan untuk menulis-nulis surat yang berisi kemarahanku. Aku tak peduli apakah kata-kata sampah itu tersampaikan dan dibaca, atau sepenuhnya jadi penghuni tempat sampah. Aku tak peduli apakah surat-surat itu mengetuknya, mendampratnya, menonjoknya, atau membelainya hingga ia lupa pada apa yang terjadi. Aku tak peduli. Saat ini, aku hanya ingin menulis surat-surat.

Rasanya, menulis surat-surat amarah seperti itu seperti sebuah igauan belaka. Tapi aku menikmatinya. Terima kasih, bung. Dalam sendiri, aku seperti melihat kawanku yang semrawut itu terkekeh-kekeh melihatku. Ia menuangkan segelas minuman yang berwarna pada gelas bening, dan mengangkatnya kepadaku. Spontan aku tergerak untuk mengangkat gelasku juga, dan sekali denting aku tenggelam dalam minuman itu. Memabukkan. Aneh betul, minuman kopi itu tak membuatku melek.
0Comments

Previous Post Next Post

ads