Cerpen Deyna Mikaila Juba

Tiba-tiba sebuah kabut tersibak. Di hadapanku, aku melihat sebuah rumah yang sederhana berjejer memanjang ke timur. Di ujung barat, ada surau yang nampak baru direnovasi seadanya. Di ujung paling timur, ada sumur tua bersandingan dengan kamar mandi dengan dua pintu. Temboknya nampak butuh dipoles lagi. Warna putihnya telah dijalari lumut.

Di sebelah utara surau, terlihat dapur yang seluruh temboknya terbuat dari anyaman bambu. Tak ada kunci di daun pintu dapur itu. Hanya ada sebuah tali yang bergelantung. Tali itu yang nampaknya jadi kunci sederhana bila pintu dapur itu hendak ditutup. Di pojok, sedikit berjarak di antara dapur dan rumah, ada kandang sapi.

Rumah itu memiliki halaman panjang. Di musim panas, debu-debu berterbangan dimainkan udara. Tapi di musim hujan, halaman itu berlumpur. Di tepian halaman itu, ada rumput-rumput liar. Kadang rumput-rumput itu tumbuh di tengah-tengah halaman. Nampaknya kali ini rumput-rumput itu tumbuh lebih liar. Nampak para penghuninya semakin dimakan usia. Tak gesit lagi untuk sekedar membereskan halaman itu.

Rumah itu, dan jalanan setapak di sekitarnya, membawaku berkelana pada masa kecil. Ada selokan kecil yang hanya dialiri air di musim hujan. Saat hujan turun, aku senang sekali. Air di selokan yang mengalir deras membuat kami teriak-teriak girang. Aku ingin kembali ke masa itu, bisikku seolah tak sengaja. Dan satu titik di air mataku terjatuh.

Tiba-tiba aku seperti melihat seorang lelaki tua muncul dari surau. Seorang perempuan tua juga muncul dari kamarnya. Lalu duduk di dekat lelaki itu.

“Bu, apa kabar anak kita di kota? Kapan ya kita bisa ke sana?”

“Nanti kalau dia sudah lulus, pak”

Kabut itu perlahan menutup kampung halamanku. Seperti sebuah tirai menutup adegan di panggung. Dalam beberapa hari ini, aku selalu terbayang kampung halaman. Mulutku seakan tak terkendali bicara masa lalu. Aku seperti mengigau. Terseret masa kanak-kanak. Masa lalu seakan mengajakku untuk berjalan ulang. Andai itu bisa, tentu aku memilih untuk tak pernah mendapati nasib kesunyian seperti malam-malam ini. Aku ingin menghindari sampai pada titik nasib seperti malam ini.

Dalam igauan yang tak tentu, aku kadang seperti bertanya dalam suara yang seakan protes: kenapa nasib membawaku begini? Mungkin ia tak salah. Tak ada yang salah. Aku sebaiknya tak mengutuk siapa pun. Tapi siapa yang tahan dengan kesunyian selepas perpisahan? Aku sebaiknya tak menyalahkan siapa pun? Tapi siapa yang tak gila bila harus melewati detik demi detik dengan rasa hampa dan seakan hanya bisa menyerah saja. Waktu seperti arus sungai. Aku melaluinya dengan terkapar, diombang-ambing arusnya. Kadang aku membiarkan diri tenggelam. Hilang. Lalu aku menyembul lagi. Begitulah dalam keterombang-ambingan waktu.

Aku telah menjalani beberapa malam setelah nasib membawaku pada kesunyian perpisahan. Ini malam ketujuh aku terjebak dalam kesunyian, dalam igauan yang tak henti-hentinya. Di malam pertama, aku rasa waktu benar-benar terhenti. Mungkin berjalan, tapi seakan lambat sekali. Di dalam suasana itu, aku seperti dilemparkan pada momen-momen yang pernah kupuja-puja. Momen-momen yang kucinta. Tapi momen itu seperti setan. Ia datang, memberi harapan, dan hilang. Kini aku terkapar dalam kesunyian.

Ini malam ketujuh. Dan rasanya masih seperti malam pertama perpisahan. Aku tak dapat menemukan kerelaan untuk menerima nasib. Aku masih tidak bisa terima. Kadang di malam-malam saat aku merasa ada di titik paling rendah dalam kesedihanku, aku mengigaukan Chairil Anwar. Terbayang sosok kurus yang mendamba banyak cinta, luka, kesedihan, kegilaan, dan kekacauan. Aku lalu seperti bergumam menikmati syair-syairnya. Rasanya ia mewakili kegagahan diri yang rapuh.

Bukan maksudku mau berbagi nasib/ nasib adalah kesunyian masing masing/ ku pilih kau dari yang banyak, tapi/ sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring/ aku pernah ingin benar padamu/ di malam raya, menjadi kanak kanak kembali.

Kita berpeluk ciuman tak jemu/ rasa tak sanggup kau ku lepaskan/ jangan satukan hidupmu dengan hidupku/ aku memang tidak bisa lama bersama/ ini juga ku tulis di kapal di laut tak bernama!

Selepas menggumamkan puisinya, mengapa tiba-tiba aku ingin berpose seperti Chairil Anwar? Duduk dengan tatap mata ke depan. Siku tangan bertopang pada meja. Digenggamnya rokok yang terbakar. Dengan bara yang baru saja merah sehabis dihisap. Asap menari-nari dari bara itu. Wajahnya timbul tenggelam di antara asap-asap itu. Pose itu gagah sekali. Aku ingin menikmati pose seperti itu untuk meredupkan sedikit kekacauan di dalam hati. Atau sekedar untuk menunjukkan pada nasib yang mengombang-ambingkan diriku: inilah aku. Lihat! Aku masih bisa gagah. Siapa yang bisa menaklukkan diriku? Siapa yang bisa melukai hatiku? Tak satu setan pun, bukan?

Apalagi dia. Pergi-pergi sajalah dia. Aku sudah tak peduli. Kau pikir aku selemah itu. Lihat wahai malam yang menjagaku dengan kesunyian. Kau pikir aku tak gagah. Dan aku membayangkan Chairil menepuk pundakku. “Anak muda”, tukasnya sambil tersenyum. Lalu hilang ditelan asap rokokku. Aku tersenyum. Dan tanpa terkendali, aku terjatuh lagi pada kedalaman siksa kesunyian. Terlentang di atas karpet kos-kosan yang tak mahal, tapi harus selalu berurusan dengan ibu kos yang galak.

Oh, aku harus menerima berapa malam lagi untuk melewati siksaan kesunyian ini? Aku sudah tak mengerti caranya menghitung hari. Kulempar saja rokokku. Ia melayang dengan brutal, menabrak tembok, dan terkulai di lantai. Aku injak-injak ia hingga tak berbentuk. Aku tinggalkan ia yang nampak sengsara.

Dan aku keluar dari kosan menuju entah ke mana. Angin segera menyapaku. Aku cuek saja. Aku hanya ingin berjalan menikmati tiap-tiap langkah yang dirundung kesepian ini. Di ujung jalan, aku harap aku bisa menyudahi kesepian.
0Comments

Previous Post Next Post

ads