Cerpen oleh Nandi

Perempuan itu kembali ke pesantren... Dan sejauh di pesantren, aku tak bisa menghubunginya. Jalan satu-satunya, aku intens komunikasi sama malaikat, kawanku ini. Kepada sosok yang baik hati ini, aku curahkan seluruh kejujuranku. Aku ingin mengatakan aku menyukainya. Dan sepertinya, kita sama-sama saling… ehmm, tiba-tiba yang meluncurkan dari diriku hanyalah kalimat: “kayaknya aku cocok sama sepupumu”.

Kata-kataku seperti angin. Berdesir cepat dan sampai pada orang tuanya. Aku kira malaikat itu yang segera datang menemui dan menyampaikan kepadanya.

“Dia punya tunangan atau belum?”, begitu tanya yang muncul dari orang tua perempuan itu. Terpancar kehati-hatian dari wajah sang ibu yang dimakan usia. Ada gurat harapan di sana. Diteguhkan oleh rasa dan keinginan agar anaknya memperoleh jodoh yang terbaik. Do’a-do’a berlompatan dalam hatinya. Dia tak ingin sesuatu yang sudah-sudah terjadi lagi pada anaknya. Ada beberapa kali kegagalan. Sebagai sang ibu, ia merasakan betul kepedihan itu.

“Kalau belum ada tunangan, tidak apa-apa”, ia kini menarik nafas dan melepaskannya perlahan. Seakan ada kelegaan pada setiap tarikan dan hembusan nafas. Warna langit begitu cerah saat ia tak sengaja menengadah. Awan-awan bergelantungan. Di sana, ia melihat harapan-harapan seakan menggantung.

“Juga harus jelas lelaki itu orang mana”.

Malaikat itu membuka cerita banyak tentangku kepada orang tua perempuan itu. Tuhan menyelinap di sana untuk meyakinkan hati ibu perempuan itu.

“Aku belum punya tunangan. Aku jomblo”, kataku pada satu kesempatan kepada malaikat itu. Dia memandangi mataku. Menyelidiki adakah kata-kata itu meluncur penuh kejujuran. Aku biarkan ia menerobos di lorong mataku. Biarkan dia mencoba menerka-nerka adakah aku lelaki yang jujur atau bukan.

“Bisakah aku berjumpa dengannya?”

Malaikat itu mencoba mempertimbangkan. Pikirannya segera bergerak cepat menimbang sejumlah tepat untuk jadi tempat perjumpaan aku dan perempuan itu.

“Aku ga berani kalo di luar pesantren dan bukan di rumahnya”, jawabku kepada sang malaikat dengan agak keberatan. Akhirnya dipilihlah keputusan yang aku pun mengangguk, menyetujuinya.

*
Aku sudah berdiri di suatu jarak. Jalan setapak menghampar, meliuk-liuk, di hadapanku. Pada ujung liukan itu, terlihat rumah sederhana. Di tempat itu, aku akan berjumpa dengan perempuan itu. Aku sejenak memandangi rumah itu. Tampak aku melihat beberapa orang duduk di sana. Dari titik aku berdiri, aku tak dapat menangkap dengan jelas siapa-siapa saja di sana. Tapi nampak ada empat orang.

Aku mulai berjalan lagi. Langkah-langkah kecil terasa begitu cepat. Aku mengurangi kecepatanku. Maka kini aku seperti serasa pelan sekali. Tapi jarak seakan begitu cepat terpangkas. Aku tiba-tiba saja sudah berdiri di liukan terakhir. Wajah-wajah di rumah itu sudah mulai terlihat jelas. Aku memandang sejenak dan kudapati ada satu perempuan yang … aku perlu menarik nafas dulu untuk mengambil dari arah mana aku menceritakan tentangnya.

Entah, aku lupa menghitung berapa kali aku terpana, kagum, dan terjebak pada jeda memandangnya. Aku lupa berapa kali aku mengucapkan kekaguman dan rasa syukur kepada Tuhan yang begitu baiknya mempertemukan aku dengan perempuan ini. Kelak, bila jemariku masih kuat untuk menulis kisah perjumpaan ini, maka akan aku tulis seperti ini:

“Perempuan itu seakan menyambutku. Saat mata pandangku dapat menandai posisi ia berdiri, aku seperti melihat satu pancaran cahaya. Semakin dekat, semakin aku dapat melihat keindahan yang sempurna. Wajahnya. Matanya. Senyumnya. Bidadari itu diciptakan untuk keindahan. Di satu titik, aku berdiri dalam ketakjuban. Beberapa menit, hingga aku berdiri tepat di halaman rumah sang malaikat, dengan mataku yang sebentar terhenti pada pandangnya, duniaku seakan berhenti. Halaman yang terhampar itu seperti sebuah permadani. Sewarna hati seluruhnya. Seluruh yang aku tangkap seperti jelmaan surga. Di hadapanku, sosok itu adalah bidadari. Bukan yang manusia. Bukan…”.

Sang malaikat melambaikan tangannya. Dia yang paling mengenalku. Aku menyembunyikan kegugupan diriku. Dan aku berjalan lagi. Lebih pelan. Sebisa mungkin aku menghadirkan senyum paling ramah. Aku tak bisa lagi menyimpan kegugupanku, menjalar dalam tubuhku. Seluruh tingkahku kini dipenuhi dengan kekikukan.

“Silahkan duduk”.


*
Setelah agak lama di sana, kopi di cangkirku juga mulai dingin dan berkurang, bapak dan ibu tuan rumah juga telah mengambil jarak dari kami, bergeser agak jauh, atau barangkali menyelinap masuk entah ke mana, aku merasa ini seakan konspirasi semesta. Oh tidak, maksudku, ini konspirasi mereka. Ini seperti momen yang disiapkan agar kami dapat duduk berdua dengan bidadari itu, dan mulai bertukar apa-apa yang ingin dikatakan oleh hati masing-masing kita.

Kawanku, sang malaikat, juga mengambil sebuah jarak. Dia mengerti: cinta adalah perihal yang paling batin. Jalan perjumpaan perasaan cinta hanya boleh disaksikan oleh kesunyian saja. Kami duduk disela jarak. Kini aku lebih banyak melepaskan pandangku pada langit, pada jalan setapak di depanku, pada apa pun yang dapat aku lihat jauh di hadapanku, hanya agar aku tak terjebak pada matanya.

“Sudah aku katakan… aku sendiri. Aku mencari seseorang yang mau bersamaku selamanya”. Dalam benakku ada sekian kalimat puitis yang ingin aku ucapkan. Tapi berhadapan dengan seseorang yang benar-benar aku cintai, kalimat-kalimat puitis itu sekedar mengendap di kepalaku. Aku tak berhasil mengungkapkannya dengan baik.

Aku ingin mengatakan: “maukah kamu aku lamar?”. Tapi rupanya tak semudah itu. Aku harus mencari bahasa yang memutar, kalimat yang lebih mengandung ungkapan yang lembut, mengharap, meminta. Dan rasanya, aku harus memikirkan kalimat yang benar-benar tepat. Maka yang muncul dari bibirku: “andai aku…, maaf, andai aku melamarmu, maaf, bersediakah kamu…bersediakah kamu?”.

Aku tak tahu apakah itu kalimat yang paling tepat. Tapi aku rasa itu adalah kalimat yang tepat. Aku tak tahu adakah kalimat lain yang lebih tepat. Tapi aku rasa aku sudah meninjau kalimat yang paling tepat. Entahlah. Kukira bahasa telah menghamparkan pilihan kalimat yang begitu kaya untukku. Dan dalam suasana yang tenang, aku bisa memilihnya dengan mudah, santai dan ringan. Tapi kali ini, hamparan bahasa itu menjadi begitu susah untuk aku pilih dan tuturkan. Rasanya hati yang dag-dig-dug ini membawaku pada titik ketegangan, dan aku tak bisa berpikir dengan baik. Apakah ini penyakit orang-orang yang sedang dilanda cinta?

Aku terdiam. Menunggu dengan harapan dan kepanikan. Ia terdiam. Mungkin ia sedang dilanda badai kebingungan memilih bahasa tutur yang tepat. Kali ini dunia seakan mencuri bahasa tutur dari kami. Sehingga kami menjadi dua manusia yang hemat kata-kata. Kesunyian benar-benar mencekam. Cinta menciptakan dunia kami menjadi bisu.

“Aku…”, kata itu, ya perempuan itu mulai dengan hati-hati, dan lalu terdengar lirih, “aku terserah apa kata kedua orang tuaku”, ia terdiam lagi. Jeda mengambil di antara kami. Dia mencuri kata-kata, dan menyisakan kesunyian. Tapi perempuan itu tak sepenuhnya kalah pada jeda. Ia melontarkan beberapa kata lagi: “kalau mereka setuju, semoga ini terbaik buat aku dan kamu”.

Kalimat itu aku rasai sebagai sebuah pengharapan. Aku tertunduk sebentar. Lalu menatap ke depan. Apapun yang melintas-lintas di hadapanku, ya sekedar melintas-lintas saja. Tatapanku tak benar-benar kepada apa yang di hadapanku, mungkin lebih jauh. Aku dibuai oleh harapan-harapan. Aku meliriknya. Dia juga melirikku. Ada saatnya waktu mempertemukan dua pandang yang saling menyimpan cinta dan harapan. Di titik itu, waktu kembali berhenti. Dan aku merasa aku yakin bidadari ini adalah milikku.

Udara melintas siang itu, melintas di antara kami dan mendengar bisikan doa masing-masing kami. Ia membawa bisikan hati kami kepada semesta.

0Comments

Previous Post Next Post

ads