Renungan Deni

Kurang lebih satu bulan, aku di kampung, yang bila dilihat di peta, tak lain sebuah wilayah kecil di pulau Madura yang kecil. Tepatnya sebuah desa yang berada di ujung timur Kabupaten Pamekasan, dan hanya dibatasi satu desa lagi (Dempo Timur) untuk sampai ke perbatasan Kabupaten Sumenep. Ya, kurang lebih satu bulan, aku menikmati udara panas di pulau garam itu.

Saat ini, aku sudah kembali lagi ke Ciputat dengan suguhan andalannya: dapur intelektual, dengan daya tarik sendiri pada masing-masing orang yang ingin menimba pengetahuan. Meski begitu, Ciputat punya banyak cerita yang lebih dari sekedar itu. Dari sudut penglihatanku, Ciputat menyimpan kisah-kisah yang jenaka, tragis, dan lain-lain. Dipenuhi manusia-manusia yang berhadapan dengan permainan nasib: perjuangan mencari makan untuk sekedar hidup, tunggakan kampus yang harus dibayar, air kosan yang selalu mati, dikejar Pak Kos karena sudah dua bulan menunggak uang kos dan apalagi perihal moral. Jika orang tua bertanya: “Kapan kamu lulus Nak?”.

Namun, walaupun begitu, tempat ini masih membuat candu bagi orang-orang ini untuk berada di sini, walau kehidupannya tidak akan berubah. Yaitu tetap “tragis”.

Suasana di Ciputat tak aku temui di kampung. Aku merasakan hidup di kampung adalah hidup yang dipenuhi dengan suasana yang “adem-ayem”. Udara yang berkeliaran di sana adalah udara yang masih serasa membawa kesejukan kampung (meski pada kenyataannya, kampung kami adalah pulau kecil di tengah samudera dan tentunya panas). Ada rasa damai yang merayap-rayap di hati kami – barangkali juga di hati masyarakat secara umum. Aku tak terganggu oleh ributnya pagi yang datang dari klakson, mesin motor, mobil dan sumpah serapah yang berasal dari jalanan yang mulai didatangi hantu-hantu kemacetan.

Cerita tentang tempat tinggal dan makan. Itu pun tak ada yang tragis. Rumahku berdiri di atas hamparan tanah yang diwariskan dari nenek moyang. Halamannya masih terhampar luas. Halaman rumah masih bisa berbagi tempat dengan pohon-pohon, dedauanan yang hijau, yang bila udara menggoda mereka, maka ada gemerisik daun yang bisa kita nikmati – aku tak perlu menyalakan instrumen mozart, atau instrumen lainnya untuk sekedar membuat kuping mendapati lantunan yang lembut dari alam.

Aku tak perlu khawatir dengan makan. Tanah di halaman kami menyediakan apa saja untuk tumbuh & bisa dimakan. Daun-daun yang segar bisa aku petik untuk aku buat sayur. Ada kelor, misalnya. Orang di kampung boleh saja berkantong kosong (tak punya duit). Tapi daun-daun yang bersahabat dengan manusia menyediakan sajian yang sehat untuk kita. Aku bisa makan dengan menikmati sajian sambel pedas yang cabenya bisa aku petik dengan gratis di halaman. Garam – sebagai bumbu makanan – dijual dengan amat murah. Bahkan dulu, aku masih melihat di dapur ada garam sebesar genggaman tanganku. Benar-benar tanpa bungkusan.

Di kampung, aku makan nasi jagung. Kadang dicampur dengan nasi putih (sebutan untuk beras padi). Kalau dicampur, jadilah aku menyebut nasih merah putih (Indonesia banget kan hahaha). Di kampung, bila aku sama sekali tak punya sesuatu yang bisa dijadikan lauk, aku bisa membeli petis. Aku tinggal di wilayah yang petis melimpah. Dan aku bisa menikmati makan yang memuaskan. Sebab itu, aku tak punya masalah yang berarti perihal tempat tinggal dan makan.

Bila ada orang kampung dengan bangganya mengatakan ini: sepahit-pahitnya kehidupan di sana, nasi akan tetap ada di usus kami untuk menangkis rasa lapar yang muncul, tanpa repot-repot menahannya selama berhari-hari. Itu benar adanya. No debat.

Sebab itu, di kampung, tidak ada beban yang terlalu berat jika dibandingkan dengan hidup sebagai pelajar yang belum mempunyai pemasukan di tempat rantau.

Tapi hidup di zona yang rasanya aman, nyaman, tak ada tantangan dan tak terganggu oleh masalah, memang tak selalu bagus. Rasanya hidup di zona yang nyaman membuat otakku lebih banyak istirahat, kurang terasah dan akibat fatalnya: otakku rasanya makin tumpul. Rasa-rasanya ada suasana stagnansi. Tak muncul pengetahuan. Tidak ada perkembangan yang signifikan. Terutama tak ada kegiatan literasi yang penting – seperti yang aku inginkan di Ciputat.

Literasi – di sini aku batasi pada hal-hal menyangkut tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan segala ihwal aktivitas yang menumbuhkan pikiran kritis dan metode berpikir yang semakin sistematis – adalah bagian yang sejatinya mendorong majunya peradaban di daerah-daerah. Yang potensial merawat ihwal literasi ini tentunya para pemuda yang berpendidikan – terutama yang punya pengalaman dan pengetahuan dari kota-kota (atau wilayah-wilayah lain yang punya tradisi literasi sudah bagus). Mahasiswa dan pemuda terdidik lainnya punya potensi ideal untuk mendorong dan menstimulus anak-anak di kampung (sebagai generasi yang akan melanjutkan peradaban kampung).

Aku sendiri melihat beberapa gerakan ini: sebagian mahasiswa berusaha melakukan tugasnya merawat adik-adiknya untuk bersiap dan beradaptasi dengan dunia literasi. Mereka mendatangi sekolah-sekolah alumni mereka dan mengajak para siswa yang suka membaca dan menulis ataupun tidak kedua-duanya. Mereka menyajikan informasi pentingnya hal itu kelak di kehidupan mereka.

Sebagian mahasiswa ini dengan seriusnya juga memberikan fasilitas seperti buku-buku bacaan, dengan menggibahkan buku-buku mereka punya, yang dibeli dengan cara mengikat perut mereka, dan dikumpulkan ke dalam tempat yang dinamai “Rumah Baca” dengan harap, tertinggalnya literasi di sana bisa terminimalisir perbedaannya.

Namun, nampaknya hal ini masih belum efektif dan tidak bisa berpengaruh banyak untuk menguatkan literasi di sana. Karena berhari-hari melihat tempat tersebut setelah beberapa bulan resmi dibuka, tidak ada sama sekali orang yang ke sana, cuma melihatnya saja dan nampak buku-bukunya sangat berdebu karena tidak ada yang mengurus dan tidak ada yang membacanya. Dan seketika melintas apa yang dikatakan Muhidin M. Dahlan dalam tulisannya yang berjudul “Jangan Paksa Masyarakat Baca Buku!”.

Dalam tulisannya ini yang berisi kritikan-kritikan yang Ia lontarkan terutama salah satunya adalah para kutu buku dan pemangku buku yang sok-sokan mengatakan kurang lebih, bahwa buku adalah sumber pengetahuan yang ajek, dan bisa menyelamatkan manusia dari kedangkalan berpikir. Namun pada saat ini, mereka juga lupa pula memproduksi buku-buku yang berkualitas, dan tentunya bukan buku msg – renyah dibaca layaknya makanan ber-msg namun dangkal.

Tapi yang paling krusial adalah, mereka lupa bahwa masyarakat juga punya pandangan tersendiri dan tentu berbeda dari pola pikir orang-orang kutu buku dan jajaran lainnya. Kutu buku bisa saja menahan rasa lapar asal bisa bersenggama dengan buku-buku. Tapi masyarakat pada umumnya berbeda. Mereka perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau perut istri dan anak. Dan membaca buku, bukanlah hal yang penting, apalagi misalkan buku itu buku “filsafat”, suatu bidang yang, suatu waktu pernah dijuluki ilmu Kafir, dan di waktu yang lain diragukan: bisakah filsafat menjadikan seseorang kaya? Bisakah filsafat menghasilkan duit? Bisakah mahasiswa diterima kerja? DImana? Di alam idea-nya Plato?

Tapi sebenarnya aku punya cerita yang baik soal berfilsafat dan menjadi kaya. Konon, si Tales itu adalah seorang filsuf (terlepas perdebatan apa itu filsuf?). Tales adalah seorang pemikir. Dan kemampuannya menganalisis alam, dia mampu menjadi kaya dengan menaksir tentang tanaman apa yang cocok dan bakal dibutuhkan orang di musim tertentu. Dari serangkaian berpikir itu, dia mampu menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan, benih-benih yang bakal ditanam, dan akhirnya ia mampu memikirkan soal suasana alam untuk panen yang bagus. Tales pada masa itu adalah pemikir yang berhasil dan sukses secara ekonomi. Dia filsuf loh (hahaha).

Tapi memang susah untuk menjelaskan itu. Apalagi itu soal cerita di masa dulu dan dihadapkan dengan pesimisme masa kini. Nampaknya, berharap menjadi kaya sebagai penulis di masa kini adalah harapan yang terlampau tinggi. Sementara hamparan pesimis untuk itu begitu terlihat jelas. Puthut EA, si ketua suku Mojok juga mewartakan pesimisme sebagai seorang penulis. “Pekerjaan menulis tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan utama di negeri ini”, demikian katanya. “Karena penulis sendiri rata-rata hanya mendapat royalti 10-15 persen saja dari karya yang mereka tulis. Iya jika laku, jika buku itu tidak laku? Penulis pun tidak akan mendapatkan royalti, yang tentunya tidak ada pemasukan kepadanya”.

Meski begitu, tetaplah kita setia pada gerak juang untuk menumbuhkan semangat literasi. Sebab literasi erat kaitannya dengan penguatan cara berpikir kita. Literasi berkaitan dengan tujuan besar yang disabdakan Tuhan lewat perintahnya: Iqra’. Bacalah. Artinya, maksimalkan otak yang dianugerahi oleh Tuhan untuk mengamati hidup ini. Membaca – dalam pengertian umum – tak terbatas pada sederet teks tertulis (buku-buku), tapi juga sederetan teks yang tertulis (yang hanya bisa dilihat, dicerap, dihayati dari alam). Sebab itu, taman baca tetap patut kita rawat. Galakkan.

Menggalakkan semangat baca (literasi) bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesabaran untuk berjuang. Waktu adalah penanda di mana kesabaran kita berhenti atau lanjut. Tapi bila kita ingin cara instan, maka ikutilah saran si kaya yang edan berikut ini:

“Jika kita ingin mempropagandakan masyarakat untuk suka baca dan sebagainya, gampang! Bawa mobil Pajero, tebalkan isi dompet dan nongkrong di warung kopi kampung dan katakalanh kepada mereka “Saya dapatkan ini semua dari hasil baca buku, menulis dan bla bla bla....”. Tanpa repot-repot masyarakat akan mengikuti kita. Tanpa harus mengumandangkan: “Menulislah, membacalah, maka kau akan inilah, itulah, bla bla bla..... “.

Tapi efektifkah cara itu? Namanya juga saran dari orang kaya yang gila. Cukup jadikan lelucon saja.
0Comments

Previous Post Next Post

ads