Cerpen oleh Ben Yowes

Gambar: IDN Times


Andai di dunia ini tak ada kopi, tak ada kedai penyedia kopi, mungkin tak akan ada kisah tentang lelaki edan ini. Lelaki ini diciptakan dengan hidung yang bisa mengendus aroma kopi dari jarak yang tak biasa. Dan sekali ia mendengar aroma yang diantarkan oleh angin, maka ia tak bisa diam. Dia harus berangkat ke kedai kopi.

Pertama, aroma itu seakan menusuk hidungnya. Lalu ia pejamkan matanya. Hidungnya berkedut-kedut dan sesekali terlihat suatu tarikan nafas panjang. Dan saat ia kembali melepaskan nafasnya, perlahan ia membuka matanya. Di titik itu, ia tersenyum. Menampilkan barisan giginya yang lupa disikat.

“O my beb, o my beb…”.

Istrinya sedang rebahan di kasur. Tangannya sibuk bergerak-gerak di permukaan layar ponsel android. Dia pura-pura tak mendengarkan panggilan suaminya.

“O my beb, o my beb…”.

Ia menatap suaminya. Yang ditatapnya hanya menampilkan senyum seorang lelaki yang menggelikan.

“O my beb, bolehkah aku keluar sebentar hehehe”, suaminya tersenyum dengan cengengesan. Senyum yang tambah berjuta-juta sebal di benak istrinya. Suaminya mengira itu cara yang paling romantis untuk mengetuk hati istrinya.

“Bab beb, bab-beb”, jawab istrinya ketus dengan tetap men-skral-skrol isi layar ponselnya. “Kalau ada maunya, huh, dasar edan, ngopa-ngopi terus… apa di dunia ini cuma ada kopi?”

Suaminya terdiam. Ucapan ketus istrinya justru membuatnya makin terbayang-bayang kopi. Apa di dunia ini cuma ada kopi? Apa iya? Jika iya? Ah, malah lelaki itu terdiam dalam labirin teka-teki dari pertanyaan itu. Ia tak menemukan jawabannya, tapi setan seakan datang dan membisikinya sesuatu yang membuatnya tersenyum lagi. Cengengesan lagi. Bila istrinya melihat wajah itu, huuuuuh…

“Pokoknya, tak ada ngopi malam ini”.

Ia tak membantah. Ia sudah mendapat bisikan intrik. Dia selalu punya seribu cara untuk bisa loloskan keinginannya.

*
Dua jam berikutnya, istrinya sudah tertelan mimpi. Ponsel androidnya tergeletak begitu saja. Si suami baru tahu keadaan itu saat pintu kamar istrinya terdorong sedikit terbuka. Setan berupa angin seakan mendorongnya dan memberi tahu: “nah lihat, istrimu sudah tidur”. Lelaki itu takjub. Dan beberapa menit kemudian ia tersenyum.

“Terima kasih, setan yang mendukung intrik ini”.

Pintu kamar istrinya ditutupnya lagi. Dan ia melangkah keluar dengan diam-diam. Ia melangkah dengan hati-hati sekali. Ia merangkak-rangkak seperti kecoa. Ia melangkah seringan hantu. Pintu dibuka sehalus membelai bidadari. Ia berusaha untuk menghilangkan derit pintu terbuka. Angin perlahan masuk di celah pintu yang terbuka. Aroma kopi dari kedai-kedai yang jauh segera menampar lembut tepat di hidungnya yang kembali berkedut-kedut.

“O… aroma dari surga, o… bidadari mana yang membawakan secangkir kopi ini… oh andai aku nanti mati dan masuk syorga, aku tak kan lupa, aku hanya ingin memesan kopi tubruk. Tak apa sedikit pahit… o.. kopi…”.

Celah pintu itu sudah cukup terbuka untuk tubuhnya bisa menyelinap. Tubuhnya yang kurus seperti lidi itu membuatnya begitu mudah keluar di antara celah pintu yang terbuka sedikit saja. Saat tubuhnya sudah sepenuhnya berada di luar pintu, ia perlahan menutup kembali dengan perlahan, begitu lembut, tanpa derit sama sekali. Klik. Pintu tertutup. Terkunci.

Pada langkah pertama, aroma kopi menabrak hidungnya yang tak mancung tapi terus berkedut-kedut. Kali ini ia merasa aroma kopi masalah. Ia sudah menerka-nerka. Ini pasti kopi yang berasal dari sepasang kekasih yang bertengkar di suatu kedai dan sedang berada di ambang putus. Lelaki edan itu segera tahu di mana lokasi itu. Dan ia meluncur ke kedai itu.

Di sana, ia tak melihat ada orang yang berantem. Tapi pada satu meja di pojok kedai, ia melihat sepasang kekasih sedang saling diam. Ia duduk tak jauh dari mereka. Ia berusaha menguping. Tapi ia sadar, apa gunanya menguping orang yang saling diam. Maka ia putuskan duduk di antara mereka.

Pasangan itu kaget. Keduanya saling melotot. Dan lelaki itu tak peduli. Ia malah mengulurkan tangan sambil bilang: “kenalkan, aku Kahlil Gibran”.

Kedua orang itu saling bersitatap. Mereka tahu betul kalau Kahlil Gibran sudah tinggal nama. Tapi lelaki itu tak mau mendengar penjelasan itu. “Bukan, bukan mati. Hanya saja Kahlil sudah tak menulis puisi lagi. Dia sudah bahagia dengan para bidadari di surga”.

Ia tanpa sopan santun mencicipi kopi masing-masing. Kedua orang itu semakin marah. Tapi mereka seakan terjebak pada suatu janji tak terlihat untuk saling membenci. Bila mereka terlihat kompak dan saling menegur bersamaan, mereka tak mau itu. Mereka terlalu gengsi untuk hal-hal spontatn sekali pun.

“Aku datang ke sini karena aku terpanggil aroma kopi kalian. Kalian ada masalah? Kalian merencanakan putus? Hahahaha. Anak muda. Belum apa-apa sudah mau putus”, dan ia terdiam sejenak sambil coba melihat wajah muda-mudi ini. Lelaki itu tertawa lagi.

Ia mulai membual tentang kisah-kisah cinta. Ia membual tentang Romeo dan Juliet. Sayangnya di bagian ini, ia tak menyebut mereka mati karena racun. Ia menyebut Romeo dan Juliet mati karena mabuk kopi. Ia juga membual tentang Layla dan Qais. Laila yang majnun. Gila. Mereka, katanya lagi, dimabuk oleh kopi bukan oleh cinta. Ia menenggak lagi kopi mereka.

“Aku tahu masing-masing kalian sedang ingin putus…”, dan ia tertawa mengejek sambil lalu mencaci maki cinta yang … ohhh omong kosong. Ia terus membuat cerita omong kosong lainnya. Seluruh cerita yang dibualkan adalah kisah-kisah yang mengejek. Tak ada sama sekali apresiasi pada cinta.

“Aku dulu seperti kalian. Cinta, cinta, dan benci. Kalian yang terlalu dimabuk cinta, siap-siap disiksa oleh kemuakan, kebencian, dan itu pada akhirnya kalian seperti sepasang kekasih yang hanya bertahan menikmati derita… hahaha”.

Kedua muda-mudi itu sudah tak tahan lagi dengan ejekannya. Tiba-tiba secara spontan mereka berdiri. Mereka sudah lupa dengan perasaan gengsinya. Lalu dengan cepat dan seperti gerak yang dikomando, keduanya sudah meraih cangkir yang berisi kopi dan menyiramkannya pada lelaki yang menyebut diri Kahlil Gibran.

Kedua orang itu pergi meninggalkan lelaki yang bermandikan kopi. Lelaki itu tak marah. Ia lalu tertawa. Pada menit kemudian, ia memejamkan matanya. Aroma kopi yang menempel pada tubuhnya seakan tersedot seluruhnya ke hidungnya yang berkedut-kedut. Pada menit-menit berikutnya, ia menjilati bagian tubuhnya yang terjangkau. Ia menikmati kopi yang menempel pada tubuhnya.

Di bangku itu, ia tertidur ditemani kopi yang menusuk hidungnya dan membawanya ke alam mimpi. Di sana ia seakan bertemu dengan bermiliaran bidadari yang membawakan dirinya bernampan-nampan kopi. Ini adalah surga kopi. Ia seakan berjalan-jalan di sepanjang surga kopi itu. Hingga pada suatu titik, ia berhenti. Ada seorang perempuan, dengan wajah yang --- semula ia tak dapat mendefinisikan. Tapi akhirnya ia ingat, itu adalah ekspresi manusia marah.

Dan pada detik kemudian, ia ingat. Wajah itu adalah istrinya. Ia terbangun saat kedai kopi sudah sepi. Ponselnya menampilkan 100 kali panggilan dari si istri.
0Comments

Previous Post Next Post

ads