Puisi Alim




I

Nyai Galak

Ampun nyonya
Jangan usir hamba,
Jangan tindas hamba,
Jangan hina hamba.

Kata-kata itu, yang keluar dari mulut
Buruh. Tidak ada ampun, dan tidak ada maaf
dari majikannya.

Aku melihatnya seperti memandang bayanganku
Sendiri. Antara khayalan dan realita. Mimpi tapi nyata.

Jalan yang rusak, menatap pandangan matanya
Hujan dan angin menjadi selimut tubuhnya.

Begitulah kata si buruh, "Nyonya, tolong saya
hamba jangan dipecat.

Anak saya bisa busung. Tidak bisa minum susu dll. "
Apakah nyonya tidak kasihan?

Ah.... Omong kosong, jawab majikannya.

Pergi sana, ambil bajumu, dan segeralah pergi
dari hadapan mukaku !!

Madura,2021

II

Wanita Sinting

Wanita sinting itu
Mengusik, dan teriak-teriak seperti
Anjing kelaparan.
Katanya, wajahnya menyerupai malaikat
Siang hari. Kemudian, ia menari
Mengikuti alunan lagu yang lirih.

Amboii !!
Begitu meringis, begitu sinting...

Di musim hujan. Aku berdoa tentang
Wanita sinting itu. "Tuhan jangan kau biarkan
Wanita sinting itu, memelihara kebodohannya. Akan
tetapi berilah dia harapan untuk memelihara kambing
supaya berlimpah uang".

Wajah-wajah yang gugur menjadi racun
Bagi dirinya.
Wajah-wajah yang bertopeng menjadi
Watak dirinya.
Wajah-wajah yang haus kuasa
Akan binasa seketika.
Wajah-wajah yang bersinar
akan menjadi debu hatinya.
Oh, itulah seorang wanita sinting...!!

Madura,2021

III

Rumah Yang Kabur

Sejak setahun lamanya
Aku berjelajah ke tempat yang jauh.
Ada anjing liar, babi liar,
Kerbau liar, bahkan manusia liar.

Kampung itu, yang tak lepas dengan bukit
dan siksa alam.

Oh, "nenek sihir" apakah kau telah mengutukku?
sehingga mataku gelap memandangmu.

Oh, begitu hinakah diriku?
sehingga wanita yang dikenal rupanya
berubah bayangan semu.

Oh, o, o.. Andai kata, kau bukanlah siapa-siapa
Barangkali, kucongkel matanya, robek otaknya, iris-iris hati dan ususnya.
Lalu, aku jadikan santapan di musim semi.

Madura,2021
0Comments

Previous Post Next Post

ads