Resensi atas Novel Caldas karya Gabriel Garcia Marquez

Apakah yang diharapkan seseorang yang terjebak dalam hidup di tengah lautan? Cerita yang ditulis oleh Gabriel Garcia Marquez diangkat dari kisah nyata. Tentang sebuah kapal perusak yang tenggelam di laut. Tujuh orang meninggal. Hanya menyisakan satu orang: Luis Alejandro Velasco, seorang angkata laut.

Gabriel Garcia Marquez – selain seorang sastrawan besar – juga seorang wartawan. Saat itu, ia bekerja di surat kabar El Espectador. Surat kabar ini termasuk yang paling aktif menceritakan kisah ini – dan memuatnya menjadi cerita bersambung yang membuat peningkatan oplah dari surat kabar ini. Orang-orang antri berlangganan koran ini untuk sekedar mengikuti cerita sosok pahlawan yang selamat dari maut ini.

Velasco selamat. Apakah itu sebuah keberuntungan? Mungkin, kita akan mengatakan cepat-cepat: iya. Tapi ia – Luis Alejandro Velasco – hidup dengan bayangan-bayangan kawan-kawannya yang mati. Saat kapal yang mereka tumpangi diterjang gelombang laut yang dahsyat, para penghuninya satu persatu menuju kematian. Dan tragisnya, ia menyaksikan ketujuh ke rekannya, bagaimana mereka semula berjuang untuk terlepas dari kematian. Tapi gelombang air yang tak simpati menggulung dan menenggalamkan mereka. Ia menyaksikan tangan-tangan yang masih muncul ke permukaan berkali-kali sampai akhirnya tak datang kembali.

Situasinya serba salah. Ia ingin menolong teman-temannya. Ia berjuang dengan mencari berbagai cara. Tapi ia – yang terselamatkan di perahu lain (perahu penyelamat bawaan kapal besarnya) terapung-apung di atas air yang terus bergerak menjauh dari kawan-kawannya. Ia mencoba melawan arus, tapi sia-sia saja. Kematian hadir dalam wujud gulungan laut dan menenggelamkan kawan-kawannya. Dalam suasana itu, bayang-bayang kematian menyelinap dalam kepanikannya. Ia ingin bertahan hidup, tapi ia juga harus siap menerima apapun yang akan terjadi.

Pasca kematian ketujuh rekannya, ia mengalami berbagai hal. Pertama, ia belajar untuk pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Tapi dengan sisa tenaganya, ia akan pergunakan untuk bisa hidup. Hari-hari ia didera lapar, ia makan apapun yang sekiranya bisa dimakan. Ia makan kertas-kertas yang tersisa di baju miliknya. Ia bahkan mencoba memakan sepatunya – hanya sepatu itu terlalu kuat.

Kedua, ia mengalami – barangkali semacam halusinasi. Ia kerap kali seakan mendengar suara teman-temannya. Suara-suara jerit atau teriakan minta tolong. Ia seakan melihat kematian-kematian yang baru saja terjadi. Kadang-kadang ada seseorang karibnya yang datang dan duduk di perahu itu. Mereka lalu terlibat saling obrol. Rupanya, di tengah laut seorang diri, ia bukan saja didera keinginan untuk selamat, tapi ia didera kesepian yang sesungguhnya. Ia ingin memiliki kawan di dekatnya. Ia ingin bercerita tentang apa yang sedang dirasakannya: kepanikan, ketakutan, kesedihan, keputusasaan, dan lain-lain.

Sepuluh hari, ia terapung-apung di laut. Dalam keadaan kacau, ia kadang ingin mati agar tak perlu menanggung berbagai beban kesedihan, frustasi, dan kesepian yang menderanya. Dalam situasi ini, tidak mudah baginya: apakah hidup sebuah keberuntungan atau kemalangan?

Begitu ia terdampar di darat, dan diselamatkan – lalu media membuatnya terkenal. Dia secara cepat menjadi pahlawan. Ia menjadi terkenal. Difilmkan. Pihak perusahaan sepatu menjadikannya bintang iklan dari sepatunya yang kuat – yang digunakannya di laut. Perusahaan jam tangannya menjadikannya bintang iklan atas jam tangan yang dipakainya. Keselamatan dari maut itu membuatnya disambut dan disebut sebagai pahlawan.

Tapi kepahlawanan bukan garis yang ditakdirkan untuk melekat seumur hidup pada dirinya. Suatu hari, ia dikeluarkan dari angkatan laut. Koran El Espectador yang memuat cerita itu berturut-turut selama 14 hari juga mengalami pembredelan dari pemerintah Kolombia yang diktator itu. Ada fakta-fakta di dalam cerita yang disampaikan Velasco di surat kabar itu yang secara politis tidak bisa dibenarkan oleh diktator Kolombia saat itu. Ada kebenaran yang secara politis berpengaruh pada posisi kekuasaannya.

Velasco sendiri tak pernah mencabut cerita yang dituturkannya meski kerap mendapatkan tekanan, ancaman, dan uang suap. Begitu ia dikeluarkan dari angkatan laut, lambat laun kepahlawanannya redup, tak lagi dibicarakan. Dan sosoknya pun hilang seperti hantu.

Kata Gabriel Garcia Marquez: “Tidak ada lagi yang mendengar pelaut yang kesepian sampai beberapa bulan kemudian ketika seorang wartawan menemukannya duduk di belakang meja sebuah perusahaan bus”.



0Comments

Previous Post Next Post

ads