(Corat-coret singkat atas Kumpulan Cerpen Karel Capek, Kisah-kisah Tak Bisa Dipercaya)

Saya selalu tertarik untuk membaca kisah-kisah yang jenaka. Kata yang terakhir ini seakan mengendap di dalam diriku. Dan bila ada saja para pengulas buku, atau sekedar “caption-caption” pendek di timeline media sosial, tentang suatu buku yang menyebut: “ini buku yang jenaka”, “ada unsur kejenakaan di dalamnya”, atau “kau tak kan bisa berhenti tertawa bahkan dalam tidurmu bila membaca buku ini” (atau seabrek kalimat-kalimat provokatif lainnya), maka tak kan ada yang bisa menghalangiku untuk sekedar membeli buku itu, kecuali satu hal: kantong kosong.

Buku terbaru – yang aku miliki – mengandung kejenakaan tentu saja karya Karel Capek. Kisah-kisah yang Tak Dapat Dipercaya (dari terjemahan Apocryphal Tales). Begitu saya membacanya, saya berpikir sejenak dan seterusnya aku tak dapat menahan tawa. Pada titik ini, saya kadang bertanya-tanya. Bila aku tertawa oleh kejenakaan karya terjemahan, apakah kelucuan itu bawaan dari penulis tangan pertama, atau sebetulnya bawaan dari penerjemahnya?

Karya Karel Capek ini berisi kumpulan cerpen. Dan aku baru membaca “Pengadilan Prometheus”, “Thersithes”, “Agathon”, “Aleksander Agung”, dan “Kematian Archimedes”. Sebagaimana membaca bukunya Henry O, aku juga membaca cerpen ini dengan santai, perlahan, dan membiarkan buku ini tak habis dalam berhari-hari, atau berbulan-bulan. Supaya aku bisa tertawa dalam berhari-hari, atau berbulan-bulan.

Penemuan Api dan Hukuman atas Prometheus.

Apa yang salah dengan Prometheus menemukan api? Di sini, para hakim, asisten hakim, dan pendakwa lainnya beradu argumen. Macam-macam argumen. Tapi semua mengarah pada kesamaan bahwa apa yang dilakukan oleh Prometheus – dengan penemuan api – itu sebuah kesalahan besar, sebuah pencurian atas kekuatan yang hanya dimiliki oleh Dewa.

Ametheus, seorang asisten hukum, misalnya mengaitkan penemuan api oleh Prometheus itu sebagai sebuah penistaan agama. Api, menurutnya, adalah harta suci dewa. Dia tidak percaya pengakuan bahwa Prometheus sekedar menemukan. Dia pastilah mencurinya dari para dewa. Pencurian atas api sebagai harta suci para dewa itulah yang disebutnya sebagai penistaan.

Tapi hakim pembantu, Aphometheus, tidak setuju dengan argumen kawannya itu. Dia bilang, penemuan api itu hal mudah. Bahkan seorang pemalas, pengembala kambing, (seorang penyuka rebahan, tukang dengkur, tukang sol sepatu, tukang becak – ini tambahan dari saya) dan siapa pun bisa menemukan api. Mengapa orang-orang seperti kita – yang terhormat dan waras – tidak menemukan api, demikian kata Aphometeus, lantaran kita malas untuk membentur-benturkan bebatuan kecil satu sama lain. Di titik ini, setelah berpikir agak lama, saya mulai terkekeh dengan pernyataan Aphometheus itu. Seakan ada sindiran halus di dalamnya: ORANG-ORANG TERHORMAT & WARAS tidak menemukan api lantaran malas membentur-benturkan batu-batu kecil satu sama lain.

Nah, apa yang salah menurut Aphometheus? Yang salah: Prometheus mendatangkan marabahaya. Temuan api itu mendatangkan teror. Dalam banyak penuturan saksi, pada percobaan Prometheus, sudah banyak korban luka bakar. Aphometheus bahkan dengan dramatis menarik kesimpulan: temuan api oleh Prometheus ini membahayakan seluruh dunia. Api itu bahkan bisa menghanguskan seluruh peradaban manusia. Itulah kesalahan terbesar yang tidak bisa diampuni dengan tindakan penemuan api oleh Prometheus.

Lalu Antimetheus – entah siapa lagi ini – menambahkan. Penemuan api tidak salah. Api bisa digunakan untuk hal-hal yang baik: membakar tanaman-tanaman musuh, dan lain-lain. Kesalahan besar dari Prometheus karena dia menyebarkan temuan itu kepada masyarakat umum. Seharusnya, demikian Antimedes digambarkan seperti sedang berpidato yang menggebu, Prometheus menyerahkan api ilahiah itu kepada orang-orang yang berhak, yang punya wewenang – ya maksudnya orang-orang terhormat seperti mereka – bukan kepada umum. Itulah kesalahan besar Prometheus.

Pengadilan akhirnya memutuskan hukuman yang berat kepada Prometheus dengan statusnya sebagai suatu kejahatan luar biasa, extraordinary crime. Ini kriminal pertama dalam sejarah, demikianlah mereka menilai, dan harus dijadikan contoh sebagai kejahatan yang tidak boleh diulangi lagi.

Begitu membaca bagian-bagian itu, saya bukannya tertawa, tapi malah mencoba membayangkan bila saja aku berada di satu masa itu, dan menjadi bagian dari kalangan orang-orang terhormat, berwibawa, dan waras – seperti orang-orang yang mengadili Prometheus – mungkin akan turut membenarkan pendapat mereka. Api, harta suci dewa, membawa bahaya, harus diserahkan kepada yang berwenang, dan lain-lain. Hal-hal itu menjadi tampak lucu dan aku menganggap mereka berpikiran kuno sebab itu dituliskan di masa kini – di mana api sudah menjadi bagian yang tak perlu dimasalahkan lagi. Tak ada lagi yang berpikiran api adalah harta suci dewa, dan lain-lain.

Tapi Karel Capek – dengan cerita-cerita ini – sejenis pengarang yang menghadirkan kejenakaan yang tak segera bisa membuat kita tertawa tanpa terlebih dahulu bolak-balik meninjau apa yang lucu. Mungkin masalahnya, ia mencoba membuat kejenakaan dari kisah-kisah yang nampak bagian dari sejarah, di mana orang-orang perlu tahu sedikit untuk bisa tertawa. Leluconnya akan terasa garing bila kita tak tahu sedikit tentang mereka. Misal, nanti di cerita Archimedes, kita tak mungkin langsung terbahak-bahak di bagian akhir, bila kita tak tahu siapa Archimedes, dan apa temuannya?

Marilah kita membaca dan jangan percaya.
0Comments

Previous Post Next Post

ads