Abdullah SP


Gambar: telusurRI.id


Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan: “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Benar saja. Kalimat-kalimat itu terus hidup, abadi. Dibaca dan dikenang dari generasi ke generasi. Pram – demikian panggilan singkatnya – hidup dalam keabadian lewat tulisan-tulisannya yang terus dibaca dan dinikmati.

6 Februari adalah hari ulang tahunnya. Barangkali, kemarin (6 Februari 2021), ia tersenyum. Ia senang. Penulis “Mereka yang Dilumpuhkan” ini masih terus dikenang. Bahkan saat ia sudah tenang di alam sana, orang-orang masih merayakan ulang tahunnya. Aku sendiri tidak mengenal Pram. Sampai suatu hari di sela kemelaratan hidup, aku berjumpa dengan “Bumi Manusia”.

I
Pemilik “Bumi Manusia” itu adalah kerabatku sendiri. Ia kuliah di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Yogyakarta. Anak pergerakan. Bila ku tak salah, aku melewati jalan setapak yang teduh dengan rerimbunan bambu dan menyeberangi sungai kecil untuk bisa sampai ke kosan kerabatku itu. Itu akses terdekat dari kosannya ke kampus UIN.

Aku tak sengaja melihat jejeran novel itu di kosannya. Aku sendiri tidak takjub semula dengan novel itu. Tanganku seakan hanya acak saja mengambil itu dari buku-buku yang lain. Tapi lama-lama, aku pun tenggelam dalam novel itu. Aku menikmati kemarahan Minke. Hari-hariku yang penuh anugerah (sebab punya banyak waktu luang sebagai pengangguran) diisi dengan membaca. Tamatlah novel tebal itu dalam beberapa hari dengan dag-dig-dug akhir penuh harap dan kekecewaan: tokoh Annelies direbut dari Minke, dan dibawa ke Belanda dengan keadaan hati yang seakan mati.

Penasaran dengan kelanjutan cerita, aku pun kembali ke kosan kerabatku itu. Dan kuambil novel kedua, Anak Semua Bangsa. Bercerita masa-masa Minke mulai turba (turun ke bawah) – aku mengerti istilah ini di kemudian hari. Turba adalah suatu cara yang dilakukan oleh para seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) untuk melahirkan suatu jenis sastra yang betul-betul dapat menjadi medium keberpihakan dan pembelaan masyarakat bawah. Pramoedya adalah seniman yang patuh pada garis realisme sosialis. Tapi itu aku ketahui di buku-buku berikutnya.

Lalu aku lanjut baca Jejak Langkah dan terakhir Rumah Kaca. Saat itu, aku benar-benar dibawa pada suasana yang marah. Anelies yang akhirnya mati (di buku kedua), Minke yang mulai mendirikan surat kabar dan berorganisasi (Jejak Langkah), dan akhirnya ditutup dengan kekecewaan dan kepedihan yang lain lagi: Minke diawasi dan akhirnya mati di tangan Pangemanann (dengan dua N), polisi yang bertugas mengawasi pergerakan pribumi, terutama Minke (di novel Rumah Kaca).

II
Perjumpaan dengan buku-buku Pram masih terus berlanjut: ada Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (jili dua), Arok Dedes, Arus Balik, dan lain-lain. Nyanyi Sunyi Soerang Bisu adalah karya non-fiksi, berisi surat-surat yang ditujukan kepada anak-anaknya. Aku membacanya waktu itu di sela-sela kerja sebagai buruh di Pasar Bringharjo. Waktu itu, aku jadi penjual sandal yang tak sukses. Buku itu sanggup mengalihkan suasana hati yang tak baik-baik disebabkan jualan sandal yang tak laku-laku.

Arok Dedes, aku dapati dari kosan kawanku di Seroja, salah satu nama wilayah kosan di Papringan Yogyakarta. Aku tak ingat betul, suasana apa yang meliputiku saat itu. Yang kuingat, di Seroja, aku bisa bermain catur dengan kawan-kawan baru, dan bertemu dengan kos-kosan sempit yang penghuninya adalah buku-buku.

Arok Dedes adalah kisah yang aku hanya mendengarnya sepintas-pintas saja. Aku hanya ingat tentang Keris Mpu Gandring dan kutukan tujuh turunan. Tapi di novel Arok, unsur-unsur mistiknya benar-benar tak muncul, semacam dieliminasi (kelak, kemudian hari aku mengerti: Pramoedya Ananta Toer sengaja menghilangkan unsur-unsur mistiknya. Selain Pram tak suka feodalisme Jawa, Pram juga tak suka dengan cerita yang dibumbui mistis, mitos). Pram menyajikan Arok sebagai suatu intrik politik yang bisa kita tangkap secara realis: nampak sebagai politik perebutan kekuasaan biasa.

Tapi dengan menjadikan cerita itu sebagai intrik politik dan kudeta yang halus, kudeta merangkak, novel Arok-nya Pram itu seakan mengajak kita untuk menangkap cerita kudeta ala Orba kepada rezim Orla yg dilakukan secara penuh siasat, intrik halus, dan menusuk dari belakang – pelan tapi mematikan. Seakan Orba menangkap suasana itu, maka novel-novel Pram menjadi terlarang. Di masanya, membaca novel-novel Pram adalah suatu keberanian. Tindakan subversif.

III
Kecintaan pada novel-novel Pram yang diilhami lewat perjumpaan dari tanah Yogyakarta membuat aku berburu karya-karya lain. Aku seakan keranjingan penyakit gila: pemburu karya-karya Pram sambil terus bercerita dengan menggebu-gebu kepada kawan-kawan untuk membaca Pram. Ada beberapa karya lagi yang akhirnya aku peroleh.

Arus Balik. Aku tak tahu aku dapat novel ini di mana. Tapi cerita ini adalah – kata orang-orang yang lebih tahu – sekuel ketiga dari Arok Dedes. Di antara Arok dan Arus Balik, ada Mata Pusaran, yang katanya hilang di tangan angkatan darat. Cerita yang kudengar kemudian, ada sisa-sisa novel ini yang sudah tidak utuh. Arok Dedes, Mata Pusaran (yang hilang), hingga Arus Balik adalah cerita tentang permulaan Singasari, Majapahit, dan keruntuhannya – hingga datangnya Portugis. Demikian yang aku baca dari orang-orang.

Lalu aku pernah punya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (jilid satu dan dua). Tapi kedua buku itu raib di tangan orang yang aku kenal, yang dulu tinggal di sekitar Sedap Malam. Aku tak dengar kabarnya lagi. Entah ke mana. Dulu, dia bilang punya taman baca dan ia ingin fotokopi buku itu. Tapi berkali-kali aku tanya, ia hanya janji-janji saja untuk mengembalikannya. Sampai akhirnya aku tak bertanya, lagi, dan buku itu raib jua.

Perburuan. Aku mendapati novel Pram ini di lemari bukuku sendiri. Rupanya itu novel istriku. Novel Gadis Pantai – sudah lama kudengar, tapi akhirnya aku menemukan buku itu di tangan pacar (yang kini jadi istri). Buku itu sendiri adalah pemberian dari mantannya yang sebulan. Waktu itu, aku cemburu sekali. Tapi kulahap juga bacaan itu.

Lalu karya non-fiksi, sebuah biografi Kartini, berjudul Panggil Aku Kartini Saja. Aku mendapati novel itu dari fotokopi. Sehabis membacanya, aku berikan kepada adik perempuanku yang waktu itu sedang dilanda suasana batin yang kacau balau: antara pendidikan atau tunduk pada perkawinan yang dipaksakan.

Sisanya, karya Pramoedya Ananta Toer yang pernah kubaca: Korupsi, Keluarga Gerilya (raib di tangan kawan yang entah siapa), Sekali Peristiwa di Banten, Mereka yang Dilumpuhkan (baru kubeli), Bukan Pasar Malam, Cerita dari Blora, Cerita dari Digul, dan Tempo Doeloe.

IV
Tidak cukup di situ. Aku juga membaca karya terjemahan Pram. Misal, Bunda. Karya Maxim Gorky. Sosok yang begitu disukai oleh Pram. Aku mendapati buku itu di salah satu fotokopi di Yogyakarta. Saat itu, aku masih bujang. Berkunjung ke Yogyakarta. Tinggal beberapa hari di kosan kawan yang hingga kini masih jomblo. Anak itu pembaca yang jeli. Satu hal yang kuingat: tiap membaca novel, waktu itu ia baca Dr. Zhivago, ia menyelipkan satu lembar kertas. Di sana, ia menuliskan nama-nama tokoh yang ia temui. Katanya, kalo terlalu banyak tokoh yang muncul, nanti kita tak lupa untuk meninjau lagi di catatan.

Di luar itu, aku juga baca beberapa karya yang mengulas Pram. Yang ku ingat, aku pernah baca uraian Eka Kurniawan - yang kini dikenal luas sebagai penulis Cantik Itu Luka, yang waktu kubaca, aku jadi teringat Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabo (Gabriel Garcia Marquez). Uraian Eka itu soal realisme sosialis dan Pram. Judulnya, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Itu juga aku dapati di salah satu fotokopi yang sama dengan Bunda-Maxim Gorky di Yogyakarta. Kawan yang sama yang aku sebut di atas yang menunjukkan itu.

Tapi riwayat buku itu kini ada di tangan kawan yang pandai membuat gambar-gambar berbasis vector. Buku itu aku tukar pinjam dengan novel miliknya: Tikus dan Manusia-nya John Steinbeck. John Steinbeck ini juga penulis yang dikagumi Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Pram juga menerjemahkan Tikus dan Manusianya. Sayangnya, buku kawanku ini adalah diterjemahkan oleh penerjemah lain. Bukan Pram. 

Begitulah perjumpaanku dengan buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Selamat ulang tahun, Pram.

0Comments

Previous Post Next Post

ads