Corat-coret Fauzan Nur Ilahi

Ilustrasi: Ainul Yaqin


Dini hari itu sekitar jam 2 pagi. Aku tak tahu pasti. Pendapatku murni spekulasi dari betapa lengangnya jalan raya, serta informasi jam di HP yang kulihat samar-samar. Tetapi salah satu warung kopi (warkop) di sana yang memang buka 24 jam, masih menyisakan beberapa manusia. Entah insomnia, atau mereka yang duduk-duduk minum kopi itu baru saja bangkit dari tempat tidur.

Adalah Sangkan Hurip nama tempat warkop yang kutuju kala itu. Aku datang ke sana didorong oleh frustasi sebab mata, seperti biasa, tak kunjung bisa diajak lelap. Di samping itu, frustasi ini juga akhirnya melahirkan rasa lapar yang mengingatkanku pada bubur kacang ijo. Dengan sarung dan pakaian yang awut-awutan, aku pesan dua mangkok mie bersama teman. Urung pesan bubur kacang ijo. Kalah menarik dengan mie instan yang berjejer rapi di etalase.

Warkop – yang memiliki dua cabang di sekitaran UIN Jakarta ini – menarik perhatianku sehingga aku ingin sekali menuliskannya. Tetapi bukan karena di sana menyimpan bubur kacang ijo yang memiliki cita rasa tinggi atau harga yang murah meriah. Namun jauh daripada itu, ia nampaknya juga menjadi bagian dari peradaban di Ciputat. Setidaknya, begitulah sependek pengalamanku di sana.

Soal cita rasa, tidak ada yang bisa dibanggakan dari produk di Sangkan Hurip. Ia hanya warkop biasa yang dalam konteks pemilihan nama pun, mengapa harus 'Sangkan Hurip', juga masih belum jelas asal-usulnya. Hanya saja, berdasarkan penelusuranku yang tak serius, "Sangkan Hurip" adalah dua istilah yang berasal dari terminologi Sunda, yang artinya adalah "supaya hidup". Selain itu, Sangkan Hurip juga merupakan nama salah satu tempat wisata di Kabupaten Kuningan. Entah alasan mana yang menjadi cikal bakal nama Sangkan Hurip ini. Atau mungkin ada makna filosofis atau makna-makna lain, aku tak tahu. Yang jelas, aku tak terlalu peduli dengan hal itu.

Soal kemewahan apalagi. Sangkan Hurip blas tak ada mewah-mewahnya (jika barometernya materialistis). Di sana hanya tersedia fasilitas makanan dan minuman serba instan, serta tempat nongkrong di trotoar jalan. Tempat yang seharusnya menjadi fasilitas pejalan kaki. Tempat yang berada persis di atas gorong-gorong, sehingga sangat maklum apabila ketika nongkrong selalu ada yang nyempil di antara kemesraan obrolan: nyamuk dan tikus-tikus liar.

Buat anda pemburu warkop yang desain tempatnya instagramable, lengkap dengan lampu-lampu cantik serta para konsumen yang goodlooking, maka Sangkan Hurip jelas bukan destinasi yang menarik. Janji Jiwa atau beberapa kedai kopi indie lainnya, mungkin bagus untuk referensi anda.

Tetapi Sangkan Hurip, dengan segala kesederhaannya (kata ini dipilih untuk menghindari kata lain seperti kemiskinan, misalnya), tidak hanya menjadi sekadar tempat nongkrong. Bekas hitam akibat ribuan bara rokok yang menempel pada setiap mejanya adalah bekas yang juga menyiratkan berbagai peristiwa dan obrolan. Dari mulai percakapan remeh temeh, hingga soal-soal yang mengharuskan seseorang mengernyitkan dahi.

Di sana kita akan menemukan banyak sekali tema obrolan. Ada yang membahas soal mengapa tai mengeluarkan bau tak sedap, bagaimana periode modern dan pascamodern muncul, tatacara open B.O., trik dan tips agar lama bercinta, hubungan yang hampir kandas, tentang kopi, suksesi kepemimpinan Indonesia yang penuh intrik, cara menikmati alkohol lengkap dengan praktiknya, korupsi, kritik terhadap para birokrat, skripsi yang tak kunjung selesai, bayang-bayang D.O., jurus jitu menjilat dalam organisasi, teori-teori sosial, politik, atau filsafat, dan seabrek tema lainnya yang rasa-rasanya mustahil kita temukan di kedai kopi mentereng semisal Starbucks.

Lahirnya berbagai tema obrolan ini tidak muncul ujug-ujug. Aku merasa, Sangkan Hurip yang kental dengan citra "kesederhanaan"-nya adalah potret masyarakat kelas menengah ke bawah yang kadang muak terhadap segala bentuk eksploitasi. Entah oleh sistem ekonomi, atau oleh wacana dominan yang tengah menjadi diskursus dalam masyarakat. Selain harga yang murah, Sangkan Hurip memberi kita sesuatu yang tak diberikan oleh Starbucks. Yaitu, kebebasan dan kesetaraan.

Kau tak perlu peduli mau pakai sendal jepit atau sepatu branded. Kau juga tak perlu peduli dengan wewangian atau bahkan tak mandi tiga hari. Kau tak perlu peduli dengan pakaian rapi atau urakan sama sekali. Pun tak perlu peduli kau anak kyai atau pejudi. Semuanya sama. Sangkan Hurip melihat kita sebagai pelanggan, dan yang lebih penting, juga sebagai manusia.

Aku jadi teringat bagaimana erat-kelindan antara coffe shop dan perkembangan dunia intelektual pada abad ke-19 lalu. Bagaimana di Inggris dan Perancis kedai kopi menjadi tempat yang seksi bagi para filsuf dan cerdik cendekia guna membahas segala persoalan yang muncul. Aku juga jadi teringat bagaimana keterkaitan antara kebiasaan ngopi para sufi dahulu. Sebelum akhirnya kini coffe shop hanya menjadi tempat seksi untuk spot foto dan pacaran.

Tetapi biarlah. Tak ada yang keliru dengan hal itu. Warkop adalah ruang publik. Dan oleh karena itu, dia berhak diisi oleh siapa pun.

Pada titik ini aku mengira, mungkin selain fasilitas yang tak memadai, atau proses pembelajaran daring yang juga tak optimal, nihilnya kesempatan untuk nongkrong di Sangkan Hurip akibat pandemi juga menjadi salah satu alasan yang pantas disesali oleh para mahasiswa di sekitaran Ciputat. Terutama para mahasiswa baru yang belum pernah menggigil dalam atmosfer Ciputat. Mereka dipaksa oleh keadaan untuk berdiam di rumah, menghindari kerumunan, dan akhirnya tak punya kesempatan untuk sekadar berbincang tentang tai, korupsi, hingga aneka teori di kedai-kedai kopi.

Untuk itu, bagi kalian para mahasiswa baru atau siapa pun yang belum pernah nongkrong di Sangkan Hurip, dalam sekali waktu jika pandemi sudah berakhir, cobalah untuk duduk dan bercengkrama di sana. Jika beruntung, kalian akan bertemu dengan nyamuk dan tikus-tikus liar. Barangkali juga perbincangan dari para manusia yang juga sama-sama liar. (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

ads