Ilustrasi: Ainul Yaqin


Oleh: Ludiro Prajoko (Pengamat Sosial Budaya)

Dari mana munculnya serakah, keserakahan? Banyak orang meyakini, keserakahan keluar dari mulut setan. Sebagian lainnya yakin, keserakahan adalah anak kandung kapitalisme. Maka, tak aneh bila dari suatu tempat di mana kapitalisme paling riuh, Prof. Joseph E. Stiglitz mengirimkan pesan dengan nada marah. Pesan-pesan itu dikemas menjadi buku: Globalization and its discontent. Diterjemahkan dalam bahasa kita, dengan judul: Dekade Keserakahan. Tapi, di Prancis, pesan itu diberi judul: Ketika Kapitalisme Hilang Akal. Judul yang membuat Pak Joseph terkekeh-kekeh.

Pak Joseph pada mulanya adalah guru besar di sebuah universitas beken di kampung halamannya. Minat utamanya menggeluti pasar dan mengembangkan isu yang kemudian disebut ekonomi informasi. Dari upaya tekunnya itu, beliau memeroleh penghargaan hadiah Nobel ekonomi. Beberapa tahun sebelumnya, seorang ahli matematika yang terserang skizofrenia: John Forbes Nash Jr, yang bertetangga dengan Pak Joseph sebagai sesama orang Amerika, mendapat penghargaan yang sama untuk sumbangannya terhadap ilmu ekonomi (juga politik, bahkan biologi): Teori Permainan yang menyebal dari kaidah Von Newman (Silvya Nazar, 2007). Dari kisah Nash itu, kita tahu, Nobel Ekonomi adalah sejenis anak pungut yang tidak disukai para ahli-ahli ilmu pasti. Tapi syukurlah, Pak Joseph masih menerimanya.

Selanjutnya, P. Joseph menjadi Ketua Ekonom Senior Bank Dunia. Seorang kawan bergurau, Bank Dunia katanya, satu-satunya bank di dunia yang tidak memasang mesin ATM. Sepertinya, beliau, dengan pikiran dan keyakinannya, sering “berkelahi, membuat onar” di Washington, sehingga mendapat julukan The Rebel Within: orang dalam yang memberontak. Tampaknya beliau “kalah” dan, tak lama kemudian, sambil bersiul, melenggang keluar dari kantor Bank Dunia.

Tentu saja P. Joseph tidak menganggur setelah itu. Pada era Presiden William Jefferson Clinton, awal 1990-an, dia diangkat sebagai Ketua Dewan Ekonomi Kepresidenan. Urusannya tentunya memulihkan perekonomian Amerika setelah terkena resesi akhir 1980-an, yang oleh P. Joseph dikatakan sebagai akibat dari Vodoo economic-nya P. Bush Sr. Inti pesan P. Joseph secara ringkas kurang lebih: berhentilah serakah dan menyerakahi.

Tapi, kapitalisme yang mewujud secara sempurna, tentu saja, dalam ekonomi, tidak mendengar pesan itu, karena ia tak memiliki kuping. Selain itu, justru karena ilmu ekonomi tidak mengenal serakah-keserakahan. Sebagaimana ditunjukkan dalam pelajaran tentang konsumsi. Teori konsumsi dijelaskan dengan mempertunjukkan sebuah grafik. Grafik itu melengkung meliuk parabolis. Sumbu tegaknya adalah tingkat kegunaan-utility, dilambangkan dengan huruf U. Sumbu datar menunjukkan jumlah barang yang dikonsumsi. Puncak parabola itu adalah satu titik di mana U=0 (nol). Pada titik itulah sebuah barang, pada jumlah tertentu, menjadi tidak berguna.

U=0 (Nol), tampaknya hanya berlaku dan benar untuk urusan konsumsi dalam arti mengunyah dan menelan sesuatu ke dalam perut, pada satu waktu yang relatif pendek. Misal: seseorang, dengan ukuran perut jumbo sekalipun, yang tengah kelaparan, lalu disuguhkan hidangan yang paling ia gemari untuk disantap, mungkin ia masih akan terus melahap sampai sajian piring ke lima. Tapi, percayalah, pada piring ke sepuluh, ia tak akan sanggup lagi menelan. Bila dipaksakan juga, niscaya ia akan muntah-muntah. Persis ketika muntah itulah, U=0 (Nol). Angka Nol pada rumus itu, dihadapkan pada kasus ‘muntah-muntah’, berarti ketiadaan (manfaat). Hal itu, oleh kaum muslim dihukumi haram. Ajaran yang mereka yakini memang memilah berbagai urusan menjadi 3 kategori: halal, mubah, dan haram. Tentu ada pesan dan maksud yang substansial dari pemilahan itu. Sayang sekali, bukan soal itu serta penerapannya dalam kehidupan sosial-ekonomi yang menjadi diskursus, karena umat lebih banyak ditakut-takuti dengan siksa kubur dan panorama neraka yang teramat mengerikan.

Maka, kapitalisme tak berurusan dengan pecel atau lodeh, yang bagi banyak perut dewasa ini, bisa bikin muntah-muntah. Kapitalisme, memiliki keyakinan dalam dirinya sendiri kemustahilan untuk muntah. Karena sasaran tohok kapitalisme bukan perut, melainkan hasrat: sejenis ruh yang selalu lincah bergerak melampaui kategori dan batas-batas ruang dan waktu. Pada saat yang bersamaan, ruh itu memiliki daya mengganda dirinya sendiri sampai pada gandaan yang tak berhingga. Lalu ruh itu menjelma menjadi kehendak akan ‘yang lebih’.

Hasrat itu dalam konteks kapitalisme mimiliki rumah singgah: modal-kapital. Dengan modal itu, kapitalisme menciptakan ‘supra mesin kreatif’, yang kemudian memperanakkan mesin-mesin untuk mencipta realitas agar mencipta dan terus menerus memperbanyak dirinya sebagai realitas-realitas baru. Di ujung proses itu, rumah singgah (modal) itu menyediakan diri untuk diserap ke dalam supra mesin kreatif yang diciptakannya. Pada titik itu, modal menemukan keasyikannya yang tak terperi: bermain-main dengan dan untuk dirinya sendiri. Tak ada kuasa di luar dirinya yang dapat mengekang. Lalu, kehendak akan ‘yang lebih’ menyelinap ke dalam setiap tubuh menjadi dahaga yang tak akan pernah rampung.

Tubuh yang menanggung dahaga itu, adalah tubuh yang menubuhi ‘harmoni kekacauan’ untuk menampilkan dan mengembangkan apa yang kemudian disebut gaya hidup. Gaya hidup itu terus dipompa dengan tak henti-hentinya menggelitik ‘dahaga akan yang lebih’ dengan bujuk rayu: iklan dan pamer(an). Spiritualitas yang dirangsang oleh aroma parfum, sihir yang dilambungkan oleh mode-fashion, surga yang ditempelkan pada kenyamanan berteduh atau melaju di jalanan, …. Terus membelit, tak memiliki ujung. Kapitalisme dengan demikian menjadi erotika ketubuhan dan kebutuhan, yang tanpanya, manusia merasa tak sanggup melanjutkan hidup.

Kapitalisme memang transaksi jual beli hasrat manusia akan ‘yang lebih’. Maka, U=0 (Nol), dalam konteks ‘dahaga akan yang lebih’, angka 0 (Nol) dibaca sebagai ketakberhinggaan, bukannya ketiadaan. Angka 0 (Nol) memang mengandung misteri. Uraian menarik tentang sejarah angka nol yang disajikan Charles Seife dalam bukunya ‘Biografi Angka Nol’, membawa kita bertamasya ke anjungan filsafat dan teologi yang pelik dalam sejarah perkembangan pemikiran tentang Tuhan dalam agama Kristen.

Lalu, di manakah hasrat itu bersembunyi? Plato dan Aquinas percaya semua hasrat bersembunyi dan bermula dari tubuh. Mereka yakin bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa, karena birahi dan nafsu-nafsu daging (tubuh) menghalangi jiwa menuju tingkat yang lebih tinggi dan sempurna. Pandangan itu menjadi tema jaman skolastik. Namun, setelah kemunculan para filsuf Posmodernisme, pandangan tentang hasrat berbalik arah. Jiwalah yang memproduksi godaan akan yang lebih atas materi, kata Foucault. Jiwa, dari mana semua hasrat bermula, berubah menjadi penjara yang memerkosa tubuh. Jiwa yang haus akan materi itu, tak lagi mendengar jerit keletihan tubuh, juga jerit apapun. Jiwa-jiwa itu, berseliweran menjubeli semua ruang kehidupan: politik, budaya, agama, … layaknya sebuah perlombaan. Dan, dari arah seberang, terdengan suara merdu setengah berteriak: Lanjutkan… Lanjutkan!

0Comments

Previous Post Next Post

ads