Oleh: Ludiro Prajoko (Pengamat Sosial Budaya)

Banjir melanda Kalimantan Selatan, juga sejumlah tempat. Khususnya di Kalsesl, hujan turun terlalu banyak katanya. Penjelasan yang menampakkan sejenis kekonyolan. Gempa mengguncang Sulawesi Barat, Mamuju-Majene. Gunung api meletus, erupsi: Sinabung, Merapi, Semeru, Raung. ……….

Rentetan peristiwa itu, menyegarkan kenangan akan kampung halaman pada suatu sore, 15 Desember 2010. Lima kecamatan di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, berantakan diterjang angin. Hujan turun melebihi takaran biasanya. Petir seperti perayaan tutup tahun. Lalu, datang angin, berputar-putar, gemuruh. Dan, setiap gemuruh memproduksi rasa takut. Lalu, pohon-pohon tercerabut dari tempatnya, layaknya sebatang singkong yang dipanen pemiliknya. Di Kecamatan Sempu, sebuah toko suku cadang peralatan motor roda dua: “Gunawan Motor”, milik seorang warga keturunan Tiong Hwa, hancur tertimpa pohon asam. Tapi segera setelah itu, dibangun kembali, lebih mentereng. Saudara-saudara kita keturunan Tiong Hwa, memang seperti tukang sulap untuk urusan itu. Seorang warga, Pak Sukirman, umur 55 tahun, gegar otak tertimpa pohon asam itu. Sehari kemudian, meninggal dunia. Sesungguhnya, kita berasal dari Tuhan. Dan, kepada-Nya kita akan kembali, pada hari yang telah Ia pastikan. Selamat jalan P. Kirman.

Tentu saja, ada banyak hal yang patut disayangkan: korban manusia, harta benda dan pohon asam itu sendiri. Memang, hanya sebuah pohon, dengan batang yang tak cukup dipeluk satu orang, tegak kokoh berdiri. Ditanam sebelum republik ini merdeka. Menandai dan sebagai kenang-kenangan dari tahun-tahun terakhir kolonialisme – imperialisme: hantu dari Eropa yang bergentayangan menjajah berbagai bangsa. Cerita seorang teman yang mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik: Dewasa ini, hantu rupanya menjadi salah satu indikator kemajuan dan kemakmuran sebuah bangsa. Di Eropa, hantu ditampilkan secara elegan, berjubah bagus khas bangsawan: Vampire, Dracula. Di sekitar kita, dikenal banyak ragam hantu, sebagaian sudah difilmkan dan ramai ditonton orang. Namun, hampir semua hantu domestik itu (Mak Lampir, Kuntilanak, dll) tampilannya sama: compang camping. Salah satu tanda kemiskinan!

Pohon asam itu, melintasi jaman, menyaksikan hiruk pikuk penduduk desa. Seolah mengawasi gerak-gerik setiap manusia yang hilir mudik dalam ruang segitiga desa itu, yang ditarik dari tiga titik: pasar, masjid-sekolahan dan kuburan. Tentu saja, pohon-pohon asam itu tidak menulis sebuah buku tentang pengaruh pasar, masjid-sekolahan dan kuburan sebagai pusat-pusat ‘peradaban’ terhadap dinamika masyarakat desa itu. Sampai akhirnya, pada hari itu, pohon-pohon asam yang berderet di sepanjang jalan itu, roboh. Berakhir sudah hayatnya. Juga pohon-pohon besar lainnya: sawo, kenitu, mahoni, ….. milik penduduk desa.

Angin, salah satu bagian dari alam, ada di mana-mana. Memang, dengan bantuan sebuah alat yang disebut kompresor, manusia bisa menciptakan angin. Selain, tentu saja: kentut. Tapi, yang datang sore itu dari jenis yang berputar-putar dan, manusia tidak dapat membayangkan sebuah kompresor yang dapat menghasilkan angin macam itu. Kita menyebutnya: lesus, puting beliung!

Kala hari panas terik, manusia gerah. Kala gerah, manusia berada dalam situasi psikologis yang rentan. Amuk dan revolusi adalah anak cucu kegerahan. Cara mengatasinya, manusia berteduh di suatu tempat, mencegat angin yang datang tak tergesa-gesa: semilir.. sejenis obat tidur yang diproduksi alam. Di tempat lain, manusia memasang alat yang berputar – putar digerakkan listrik: kipas angin. Beberapa orang menghindari alat itu, karena bikin masuk angin.

Kala bahagia atau sedih, angin juga datang, mengilhami manusia mencipta puisi dan syair. Seorang gadis yang berduka, menitipkan salam untuk kekasihnya yang pergi entah ke mana: ‘Kutitipkan salam, kepada angin dan derasnya hujan’. Begitulah sepotong syair merdu sendu tembang Banyuwangian.

Namun, tentu saja, manusia tidak ingin dibelai atau menitipkan salam kepada puting beliung. Kecuali jika ingin lelap selamanya. Dan, seorang gadis yang teramat sedih sekalipun, tahu, puting beliung bukan sarana titipan kilat khusus. Puting beliung datang dengan caranya yang sangat berbegas. Boleh jadi ia adalah kumpulan semilir yang marah mengamuk, bergerak membawa gemuruh, melabrak segala sesuatu, mencerabut, merobohkan, menghancurkan!

Angin tidak sendirian. Ia memiliki banyak kerabat: sungai, bukit, gunung, laut, hujan, hutan, terik matahari, … Di mana-mana, manusia yang berlagak sebagai tuan rumah di alam ini, bertemu mereka, menggantungkan hidup kepada mereka. Tetapi, di mana-mana, manusia tak ramah kepada mereka. Ciliwung, sungai yang melegenda itu, dijejali aneka sampah, setiap hari, sepanjang waktu. Tak ada satupun sungai yang tahan diperlakukan begitu. Lalu, Ciliwung dengan rasa malu tak terkira, dipaksa menjadi got raksasa untuk mengalirkan kebusukan manusia. Pada saatnya, seperti yang telah beberapa kali terjadi, hujan akan menolong kerabatnya itu, mempercepat mengalirkan semua sampah. Peristiwa itu, di Jakarta, dengan riang gembira disebut banjir.

Banjir juga terjadi di berbagai tempat dengan argumentasinya sendiri-sendiri (penggundulan hutan, pertumbuhan bangunan yang tak terkendali, dll). Balakangan banjir rutin terjadi, layaknya atraksi tahunan. Tahun ini yang paling mengenaskan di Papua Barat: Banjir bandang Wasior. Banjir, tampaknya memiliki tugas khusus: menyapu bersih, atau, paling tidak, merendam rumah-rumah penduduk, pada umumnya rumah penduduk miskin. Karena orang kaya tidak membikin rumah di pinggir kali. Memang, di kota-kota, dibangun kawasan khusus orang-orang kaya. Kawasan itu dihiasi dengan rumah-rumah mewah berderet megah yang dipisahkan oleh sungai atau danau buatan. Kaya dan miskin, sayang sekali, tidak diukur dari banyaknya air yang lewat di depan rumah.

Tempo hari Merapi meletus. Seperti festival kembang api pada malam perayaan tahun baru Cina. Berhari-hari abu vulkanik luruh dari awan, disusul wedus gembel. Awan panas itu, menerjang, membakar apa saja yang dilintasinya: hutan, rumah-rumah penduduk, ladang,.. Ribuan ekor sapi mati terpanggang. Alam sedang berpesta dengan hidangan sapi guling. Melihat itu semua, Pemerintah sesumbar: kita ganti setiap ekor sapi yang mati dengan harga layak. Realisasinya tidak begitu jelas. Tugas pertama pemerintah memang berjanji.

Janji adalah sesuatu yang penting bagi manusia dan kehidupan. Janji menerbitkan harapan: sesuatu yang menyemangati hidup kita. Karena itu, segala hal yang didamba di masa depan yang terbayangkan, kita sebut “menjanjikan”. Janji untuk bertemu di simpang tiga rumpun bambu, sebaris syair lagu gubahan Ismail Marzuki, mengonstruksi dunia sepasang kekasih, di mana hati dan rencana-rencana mereka cantolkan. Dengan janji itu, kita menaruh rasa percaya, menggantungkan asa, menghimpun kekuatan untuk berubah, … Maka, dapat dipahami kiranya bila menepati janji menjadi salah satu ciri orang beriman. Hannah Arendt percaya pada kekuatan janji itu.

Banyak juga korban manusia. Mbah Maridjan, Sang Juru Kunci Merapi, yang beken lantaran menjadi bintang iklan salah satu produk minuman suplemen, yang katanya bikin joss, roso, juga menjadi korban. Lahar dingin menutup kemarahan Merapi. Saudara kandungnya, Bromo, di Probolinggo Jawa Timur, yang ramai dikunjungi turis, tidak meletus. Hanya menyebarkan abu vulkanik kepada penduduk Jawa Timur yang tidak sempat menikmati abu Merapi.

Sebelumnya, bencana dahsyat, Tsunami di Aceh. Kiranya tak perlu lagi dikisahkan. Disusul gempa bumi, di Sumatera Barat, Nias, Jogjakarta, Jawa barat, Sumatera Barat lagi plus Tsunami di Mentawai dan, di mana-mana. Lempengan bumi yang menyangga negeri kita, dari ujung barat sampai ujung timur, di beberapa titik, menggeliat patah.

Mengapa angin cum suis (dan kawan-kawan) datang silih berganti unjuk kedigdayaannya? Adakah mereka hanya bercanda, mengajak kita melancong, memberitahukan hal-hal yang selama ini tidak kita gubris?

Angin, gunung, laut, … memiliki tabiat dan gelagatnya sendiri. Warga alam itu tidak diam. Seperti halnya manusia, riuh, sibuk memenuhi kebutuhan dan merespon perkembangan dis ekitarnya. Manusia riuh membangun kerajaannya dengan mengeksploitasi alam agar lepas dari cengkeraman kemiskinan, lebih dari itu, melayani dorongan keserakahan. Istilah lazim yang digunakan: pembangunan. Pada saat yang bersamaan, alam bekerja memulihkan keseimbangan dengan elan kreatifnya, seringkali dengan meluluhlantakkan harta benda dan manusia. Keduannya memang ganas!

Tapi, tak semua berita dari alam adalah kabar buruk. Sebab, alam tahu, manusia hidup dalam dunia oposisi biner: siang-malam, baik-buruk, … Kompas, salah satu surat kabar yang terbit di Ibu Kota mewartakan kabar baik yang menggembirakan: Kita memiliki lumpur dalam jumlah yang sangat melimpah ruah, di Sidoarjo Jawa Timur. Apalagi semburan lumpur itu diduga baru akan berakhir 26 tahun lagi. Begitu kata Prof. Richard Davies, seorang pakar ilmu kebumian yang memimpin tim peneliti dari Universitas Durham Inggris. Semburan lumpur Lapindo itu, tak kurang dari 180.000 meter kubik saban hari. Setara dengan 50 kolam renang ukuran standar Olimpiade. Telah menenggelamkan 12 desa sedalam 15 meter dibawah permukaan lumpur, 13 orang tewas dan 42.000 penduduk, tua muda, besar kecil, laki perempuan, sontak kehilangan harta benda, juga sejarah kampungnya. Sisa-sisa kampung mereka terkubur dalam hitam. Boleh jadi kampung mereka lebih sial dari Sodom dan Gomorah, karena di dua bekas kota kuno yang dilaknat Tuhan itu, masih bisa ditemukan sisa puing-puingnya.

Peristiwa semburan lumpur itu, kiranya wajib dicacat dalam sejarah dunia, bukan semata dari sisi fenomena geologis, tetapi dari prestasinya mengusir 42. 000 manusia, selamanya, tanpa harapan untuk kembali ke tanah miliknya, sebagaimana kisah Nabi Musa. NAZI Jerman perlu kebengisan yang luar biasa untuk mengusir kaum Yahudi. Pengusiran satu, dua atau sekelompok orang yang dicap pembangkang oleh Raja-Raja despotik, hampir selalu menjadi kisah tragedik. Di manakah tersedia cukup penthungan untuk pasukan Satpol PP agar dapat mengusir puluhan ribu orang dari kampung halamannya? Beberapa negara di Afrika membutuhkan perang saudara untuk mengusir mereka yang bukan kita. Adakah perusahaan yang sanggup memberikan ganti untung bagi puluhan ribu keluarga melalui rembugan yang nyaman? Lumpur memang cerdik. 42.000 manusia pontang-panting secara jengkel rela, karena tak seorangpun dari kalangan manusia yang bersedia bersenda gurau di dalam lumpur.

Nah, yang menarik dari berita itu: Konon, para pakar geologi dari negara-negara Barat, enggan menyebut: Lumpur Lapindo. Mereka lebih senang menyebut Lusi: Lumpur Sidoarjo. Boleh juga, kedengaran seperti nama panggilan seorang gadis hitam manis: Lusi… Lusi… war ga je naar to?
0Comments

Previous Post Next Post

ads