Ilustrasi: Ainul Yaqin



Oleh: Fauzan Nur Ilahi

“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
sengsara betul hidup di sana
jika suka berpikir
jika suka memasak kata.

(Sepenggal sajak Sapardi Djoko Damono yang bertajuk “Dongeng Marsinah”)

Perempuan itu hanya punya sebotol minuman bersoda di tangannya. Tak ada yang berbahaya yang melekat pada tubuhnya: masker, alat pelindung mata, ransel, pakaian tak branded dengan tulisan “everything will be ok”, serta sebuah benda yang mirip kartu identitas, yang kemudian diketahui di bagian belakangnya berisi “surat wasiat”. Sehingga bagi orang-orang waras, tidak ada alasan untuk takut terhadapnya. Apalagi sampai menempatkan sebuah peluru tepat di kepalanya.

Tetapi Si Perempuan dan 37 orang yang tewas dalam aksi menolak kudeta militer di Myanmar lainnya insyaf, bahwa tak semua manusia di bumi ini waras. Si Perempuan yang bernama Ma Kyal Sin atau Angel atau Deng Jia Xi paham betul bahwa orang-orang tak waras itu mampu melakukan hal-hal yang sama tidak warasnya. Melawan pikiran dengan senapan, misalnya. Maka tidak heran jika sebelum mati, dia sudah menyiapkan surat wasiat untuk berjaga-jaga, siapa tahu peluru orang-orang tak waras mampu menembus dinding tengkoraknya.

Dan ternyata betul saja. Sebotol minuman bersoda tak mampu menagkis datangnya peluru yang melesat cepat menuju bagian belakang kepalanya. Dia terkapar, menemani 37 orang lain yang juga harus tewas di tangan orang-orang tak waras, terhitung sejak 1 Februari di mana kudeta Myanmar dimulai.

Kita di Indonesia sudah tidak asing dengan adegan semisal ini. Dulu, dulu sekali, kita sudah membaca hikayat Marsinah. Si Buruh pabrik arloji. Kisahnya terabadikan, salah satunya, dalam puisi karya Sapardi Djoko Damono yang saya jadikan pembuka tulisan ini. Marsinah dan Deng Jia Xi adalah dua perempuan yang sama-sama tak memiliki barang-barang berbahaya pada tubuhnya. Mereka berdua hanya mencoba menyuarakan pendapat, dan berupaya mendapatkan haknya untuk itu.

Mereka tidak kekar berotot. Sekalipun Deng Jia Xi adalah atlet taekwondo, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan dengan kecakapan taekwondonya melawan entah berapa pasukan militer dengan alat keamanan dan senjata lengkap.

Artinya, satu-satunya yang mereka bawa adalah pikiran. Dan mungkin bagi kalangan manusia tak waras, pikiran adalah suatu hal yang menakutkan.

Bagaimana tidak, selain 38 orang yang telah tewas, masyarakat sipil yang menjadi korban dari aksi kudeta ini sudah tidak terhitung jumlahnya. Aksi mereka tentu bukan untuk mengajak pihak militer atau aparat keamaan berperang. Karena ini adalah hal konyol sebab mereka tidak akan menang. Mereka hanya meminta agar Myanmar tetap demokratis. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Tetapi pihak militer dan yang katanya “aparat keamanan” itu nampaknya tidak peduli. Mau dewasa atau anak-anak, semua menjadi korban kebrutalan mereka. Bagi pihak militer dan aparat, tidak penting para demonstran membawa barang berbahaya semisal senjata atau tidak. Karena jelas kalau hanya perihal senjata, pihak militer dan aparat akan menang. Satu-satunya ruang yang justru mereka akan kalah telak adalah ini: ruang pikiran. Maka cara paling ringkas untuk menghantam aksi penolakan ini adalah dengan membunuh pikiran-pikiran itu.

Ah, betul kata Sapardi, “sengsara betul hidup di sana, jika suka berpikir, jika suka memasak kata”.

Bayangkan. Untuk membunuh pikiran-pikiran itu, pihak militer dan aparat memulainya dengan menyebar ketakutan. Menunjukkan betapa kuatnya mereka dengan peralatan yang lengkap itu. Tetapi demonstran tidak juga ciut hanya dengan sikap pongah para aparat. Mereka yakin, bahwa perjuangan tidak boleh patah hanya karena moncong senjata. Maka setelah itu, pihak militer dan aparat melanjutkan aksi selanjutnya: menyakiti, melukai, dan membunuh.

Marsinah, Deng Jia Xi, serta para pejuang lain mungkin harus mati di tengah medan perjuangan. Tetapi kita harus yakin, bahwa kematian mereka tidak menandai akhir dari perjuangan mereka. Kematian hanya soal jasad dan ruh. Sementara perjuangan adalah soal pikiran dan keyakinan.

Bagi kita, seperti yang ditulis Goenawan Mohamad dalam esai “Kematian”-nya, mungkin kematian bak makhluk yang menakutkan, yang kedatangannya selalu kita hindari. Sehingga muncul istilah semisal “meninggal dunia”, atau “maut”, di mana konotasinya nampak begitu mengerikan.

Tetapi di sisi lain, ada jenis manusia yang menganggap kematian adalah hal yang biasa saja. Kita akan melihat betapa biasanya itu kematian tatkala membaca surat wasiat Deng Jia Xi yang dia tulis sebelum mati tertembak. Surat ini ditulis dalam bahasa Myanmar, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyinya:

“Jika saya terluka dan tidak dapat dikembalikan ke kondisi yang baik, tolong jangan selamatkan saya. Saya akan memberikan bagian kiri tubuh saya yang berguna kepada seseorang yang membutuhkannya”. 

Lihatlah, mahasiswi yang baru berumur 19 tahun itu tak menghibahkan keanggunan paras dan tubuhnya hanya demi adsense medsos. Dia juga tidak memanfaatkan kemolekan tubuh dan kemapanan struktur wajahnya demi popularitas khas public figure, selebgram, selebtwit, atau seleb-seleb lainnya. Dia acuh dengan tren kecantikan yang tengah marak sehingga memaksa dia enggan turun ke jalan dan memilih untuk perawatan atau operasi plastik. Tetapi dengan sadar dia menghibahkan hidup, tubuh, dan pikirannya hanya untuk ini: kemanusiaan
0Comments

Previous Post Next Post

ads