Gambar: Tribun Jakarta


Oleh: Fauzan Nur Ilahi

Sesungging senyum itu menampakkan gigi yang tak lengkap. Beberapa di antaranya sudah tanggal, tercerabut dari tempat yang seharusnya. Kerutan kulit wajah akhirnya juga melengkapi kesan bahwa orang pemilik senyum itu tak lagi muda. Mungkin sekitar kepala lima.

Aku melihatnya setelah tak sengaja berteduh di pinggir jalan sebab hujan. Hari itu sekitar jam setengah lima pagi. Si Bapak pemilik senyum juga berteduh, bersama dua kotak berisi roti yang ia pikul sembari berkeliling di sekitar Condet, Jakarta Timur.

Kuperhatikan, tak ada brand ternama pada roti tersebut. Entah itu Majestyk, Holland Bakery, atau Sari Roti. Sehingga aku yakin, roti yang dia jajakan adalah roti rumahan yang mungkin secara komposisi bahan, kalah telak dengan roti-roti besutan tiga brand yang kusebutkan di atas.

Tetapi persetan dengan brand roti. Hal itu sama sekali tak menarik perhatianku. Walaupun kala itu aku membeli empat potong roti, tetapi jelas bukan karena didorong oleh rasa penasaran dengan cita rasa roti tersebut. Melainkan lebih kepada dorongan perasaan melankolis akibat melihat aura muka sayu yang samar-samar.

Si bapak pemilik senyum yang tak sempat kutanya namanya, segera membungkus empat potong roti tersebut. Kutanya harga, dia menjawab, “Satu potong harganya dua ribu, Dik!”, dengan senyum yang juga tak kunjung menghilang.

Tak lama dia segera menyodorkan kantong plastik yang berisi empat potong roti, yang akhirnya kutukar dengan uang delapan ribu perak.

Mungkin di hari itu, uang delapan ribu perak itu adalah pemasukannya yang pertama. Mungkin juga tidak. Tetapi yang pasti, sesungging senyum yang dia suguhkan di pagi hari itu sangat teduh dan berhasil membuatku ingin menulis.

Aku menerka, itulah senyum yang dia suguhkan pada setiap pembeli rotinya. Senyum teduh yang dengan murah dia berikan kepada setiap pembeli yang datang tanpa harus peduli dari kelas sosial mana si pembeli ini lahir.

Pejabat atau pengangguran, artis atau pekerja seks komersial, pebisnis atau waria, tukang sampah atau kaum intelek, si pemilik senyum alias si penjual roti itu tak peduli. Selama dia manusia, maka dia pantas mendapat senyum teduh tersebut.

Fenomena yang kulihat pagi itu adalah cuplikan yang cukup langka kita lihat, apalagi di daerah seperti Jakarta yang katanya metropolitan itu. Penghuni kota Jakarta yang oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya “Tiada Ojek di Paris” disebut sebagai manusia-manusia yang saling mengenal dalam kaca-kaca mobil itu, sudah tidak mendapat ruang untuk saling bertukar senyum. Apalagi bertegur sapa.

Di Jakarta, istilah humanisme yang kita harapkan menyimpan pikiran yang mengacu pada human-oriented nampaknya hanya bergema dalam forum-forum diskusi. Dalam kesehariannya, manusia-manusia Jakarta agak asing dengan apa itu humanisme. Kecuali Bapak Si Penjual Roti tadi serta beberapa manusia yang serumpun dengannya.

Walapun Bapak Penjual Roti sudah tentu asing dengan apa itu humanisme serta seluruh tetek bengeknya, tetapi aku yakin, di antara beberapa manusia di Jakarta, dia adalah salah satu di antara sangat sedikit manusia yang paling fasih dalam mengamalkan nilai-nilai humanisme. Setidaknya hal itu terlihat dari tidak tebang-pilihnya dia dalam menyuguhkan senyum yang teduh.

Di antara para pembaca mungkin akan mengelak, “bukankah memang begitu sikap para penjual? Semua manusia di matanya adalah konsumen sehingga yang terpenting adalah isi dompetnya?!”. Bagiku, pertanyaan ini dalam satu sisi ada benarnya. Tetapi dalam konteks penjual roti yang aku temui, pertanyaan ini tidak bisa digeneralisir.

Para penjual dan umat kapitalis memang cenderung melihat manusia hanya sebagai konsumen belaka. Dipatoknya manusia dengan aneka harga berdasar kelas-kelas sosialnya. Sehingga suatu produk tidak hanya menggambarkan suatu fungsi tertentu, tetapi sejenis pride kelas tertentu. Misal, pakaian bermerk Lacoste dan Crocodile adalah milik kelas elit, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah cukup menggunakan kaos partai dan kaos klub bola yang sudah lusuh saja. Fungsinya sama, tetapi pride-nya jelas berbeda.

Namun penjual semisal bapak Si Pemilik Senyum yang kuceritakan di atas acuh terhadap pride ini. Rotinya tidak dibuat untuk memunculkan suatu jenis pride tertentu. Baginya, hasil keuntungan dari pertukaran antara rotinya dengan uang milik para konsumen bukan diperuntukkan kepada bisnis yang lebih besar seperti nubuwah Adam Smith. Orientasinya hanya sekadar bagaimana anak-istri ini hari bisa makan. Dan jelas, orientasi semisal ini tidak ada kapitalis-kapitalisnya sama sekali.

Sehingga kita bisa menerka, sesungging senyum itu mungkin terdiri dari komposisi sebagai berikut: 20% untuk membuat konsumen nyaman, 80% atas nama kemanusiaan.
0Comments

Previous Post Next Post

ads