Gambar: Pinterest

Cerpen: Deyna Mikaila Juba

Dunia baru saja membuka binar senyumnya. Tapi kota bukan tempat yang menyenangkan untuk lalu lalang burung-burung pagi. Tak ada ranting-ranting pohon tempat bersinggahnya burung-burung. Tak ada ruang buat kicauannya. Suara deru mesin mengalahkan lolongan anjing di malam hari. Sepenuhnya, dunia di perkotaan diisi oleh keributan deru mesin-mesin yang datang dari kendaraan yang berlomba-lomba dengan kemacetan. Manusia-manusia diburu kerja.

Aku belum bisa tidur. Mataku terlihat ngantuk. Wajahku lesu. Tapi dunia dalam hatiku masih dipenuhi kecamuk yang tak habis-habis. Batin yang rapuh mudah sekali disinggahi oleh godaan-godaan masalah. Aku pikir aku sudah bisa menyelesaikan seluruh pikiran dan perasaanku. Aku sudah mencoba membuat diriku segagah mungkin menghadapi kenyataan. Tapi rupanya kenyataan dan segala perihnya bermain-main di hatiku.

Satu pertanyaan masih terngiang-ngiang: di mana letak kesalahan yang paling mendasar dariku hingga kau memintaku mengakhiri hubungan ini?

Telah aku pikir dalam-dalam. Telah aku coba buka berlembar-lembar dari perjalanan kisah cinta kita, adakah di satu titik aku bersalah besar? Orang bilang masalah terbesar yang membuat suatu hubungan hancur adalah perselingkuhan. Lihat apakah aku pernah berbuat seperti itu? Jangankan tindakan, dalam pikiranku pun, aku jauhi kata itu.

Tanganku tergerak mengambil sebatang rokok batangan yang diracik oleh tangan-tangan masyarakat kampung. Sam Lio Kioe. Aku tak membelinya. Seorang kawan membawakannya kepadaku. Aku sulut. Baranya memerah seiring dengan hisapan yang penuhi emosi dariku. Tatapanku tetap kosong. Di depan sana, terlihat neraka. Kebencian. Permusuhan. Perasaan terbuang.

“Kau tahu…”, aku seperti berbicara pada seseorang. Ia tampak hadir di depanku.

“Aku tak punya masalah besar. Hubungan kita dibangun di atas ketulusan. Kita sepakat untuk berjuang bersama. Menerima satu sama lain adalah pintu pertama yang membuat kita bisa saling bersua. Kau mau menerimaku dengan apa adanya. Dan itu yang membuatku bersemangat menerimamu. Itulah yang mula-mula membuat kita bisa bersama-sama”.

Bayangan itu tampak menundukkan kepala. Ada rasa sesal mungkin. Tapi percuma saja. Rasa sesal yang tak diimbangi dengan tindakan untuk memperbaiki. Percuma saja. Tapi aku masih ingin terus berbicara pada bayangan itu.

“Itulah yang mula-mula… dan itulah yang mula-mula membuat aku yakin. Itulah yang membuat aku tak terpikirkan untuk menyimpang dari kesetiaan ini”.

Kesetiaan itu harga yang terlampau mahal. Aku harus menjaga diriku dari berbagai godaan hati. Mata ini bisa memandang berbagai macam keindahan dari jenis yang bukan hanya dari kamu. Banyak sekali yang menggoda mataku. Begitu pun mungkin dirimu. Tapi atas nama kesetiaan, aku taklukkan semua itu. Aku butakan diriku demi hanya memandang dirimu satu saja yang tercantik. Aku sembunyikan hati demi untukmu saja kuhaturkan seluruh ketulusan dan kesetian ini.

Oh tidak. Aku juga bukan lelaki yang mencintaimu dengan recehan tukang khayal. Aku tak membangun dunia kita sekedar dalam khayalan. Tapi aku sungguh-sungguh berusaha. Lihat saja. Aku memikirkan secara serius kuliahku. Aku punya target lulus, dan saat ini tahapan-tahapan ke arah target itu tercapai sedikit demi sedikit. Aku bukan lelaki yang pintar, tapi aku tetap berusaha memaksa otakku untuk bisa beradaptasi dengan kerumitan akademik, kerumitan skripsi, ragam teori, data, dan lainnya. Semata-mata aku ingin lulus sesuai target yang aku katakan kepadamu.

Bayangan itu masih duduk di sana. Kini matanya seakan berkaca-kaca. Tapi aku terlampau marah, dan hanya ada satu keinginan: aku ingin terus berbicara dari hati yang kini tak dapat lagi menampung kata-kata. Sebab di sana-sini, ia sudah tercabik-cabik. Hatiku seperti sebuah bangkai yang sudah mati, tapi masih tersisa erangan terakhir. Dan kata-kata itu berasal dari erangan itu.

“Di samping target lulus, aku juga bekerja keras. Aku ambil kerjaan apapun secara serabutan. Aku tak menolak apapun peluang kerja yang bisa aku kerjakan. Aku nabung. Aku sadar sesadar-sadarnya. Cinta memerlukan pernikahan agar cinta kita direstui yang Kuasa. Dan aku juga sadar bahwa pernikahan yang resepsinya sudah tentu diwarnai oleh adat-istiada membutuhkan uang, uang, dan uang. Maka aku mulai menabung. Berapa pun uang yang aku tabung, memang belum seberapa… receh betul. Tapi aku sudah berusaha. Aku tak hanya mengatakan sesuatu lewat bibirku, bukan? Aku melakukannya lewat tindakan. Lewat kedua tanganku yang bekerja. Lewat kedua kakiku yang mengarungi jalannya. Lewat seluruh tenaga dan pikiran yang saling membantu.

Bisakah kau menjawab, di mana letak kesalahanku yang serius?

Bayangan itu adalah dia. Dan ia terus tertunduk. Aku ingin dia menjawab. Aku tak ingin pertanyaan ini mengusikku tanpa jawaban.

Kini ingatanku mampir pada suatu sore saat kita masih bersama. Hari itu, suasana dalam hatiku sedang bagus-bagusnya. Aku bersemangat sekali menelepon kedua orang tuaku. Aku dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi mengatakan kepada mereka bahwa aku akan segera silaturrahmi ke rumahmu. Aku ingin segera berjumpa dengan orang tuamu. Itu pertanda lain dari kesungguhanku yang lain.

Aku dengar suara mereka dari jauh begitu senang. Ya, tentu saja senang sekali. Mereka selalu berusaha memberikan kebahagiaan yang terbaik untuk aku, anaknya. Tanpa aku minta, mereka sibuk mencarikan waktu yang tepat. Bukan hal yang mudah bagi mereka yang hidup di dalam kebudayaan masyarakat kampung yang masih dipenuhi berbagai macam mitos, kepercayaan, dan lain-lain. Mereka menganggap ada hari-hari atau tanggal-tanggal tertentu yang sangat baik dari yang lain. Sebab itu, mereka memilih hari yang tepat untukku.

Setiap syarat dalam hubungan ini aku tuntaskan. Setiap rukun aku udah lakukan.

Aku usahakan segalanya. Tapi hari itu tak berumur lama. Usahaku seluruhnya sia-sia. Seluruh hari jadi tak punya nilai apa-apa. Kau tiba-tiba menyuguhkan suatu hal yang rumit sekali. Seakan-akan kau tak melihatku berjuang melewati kerumitan perjalanan dari awal. Seakan-akan kau tak percaya bahwa aku sungguh-sungguh bisa.

Sikapmu perlahan menjadi lain. Tak bisa dijelaskan lagi. Kau dan keluargamu punya satu standar yang sepertinya membuatku semakin rumit. Aku bisa saja untuk berusaha lagi menegoisasikan ini denganmu. Tapi hanya bila dirimu punya satu keyakinan dan keteguhan hati pada diriku. Tapi hanya bila dirimu punya satu keteguhan sebagai dirimu. Bukan sebagai orang lain yang mudah diombang-ambing oleh ragam pendapat orang lain.
0Comments

Previous Post Next Post

ads